Selasa, 08 Desember 2015

Dunia Dalam Jurang 24



 

sumber : http://cdn.adventuretravelnews.com/wp-content/uploads/2011/01/Tai-Chi-Shadows-image.jpg

    Sang kakek datang dari dalam rumahnya membawa dua cangkir teh hangat, menghampiri Aaron dan Haari yang sedang mengobrol-ngobrol di bawah rumah pohon mereka.
   “Kau tidak minum?” tanya Haari kepada sang kakek, sang kakek hanya menggelengkan kepalanya, lalu memberikan cangkir teh itu ke mereka berdua.
   “Kita butuh kuda, aku sudah malas berjalan-jalan, lebih enak naik kuda” kata sang kakek.
   “Dan aku butuh kayu lebih banyak, aku ingin membuat beberapa rumah pohon lagi untuk di sewakan, jadi bisa dapat uang ataupun barter yang menguntungkan, walaupun tidak pergi ke pasar” kata Haari sambil melihat ke arah pohon-pohon di samping rumah pohonnya, lalu menyeruput teh itu.
   Aaron menyeruput tehnya, namun diam-diam dia memerhatikan mata sang kakek yang sedang berbicara kepada Haari, seperti seolah-olah sedang mencari sesuatu dari matanya.
   “Dimana kita akan mencari kuda mu itu? Kuda-kuda di hutan Saruna sudah tinggal sedikit, banyak pemburu yang menangkap mereka untuk diperjual-belikan atau diternakkan” kata Haari.
   Sang kakek belum memberikan jawaban, mengelus-ngelus janggut putihnya yang hampir menyentuh tanah.
   “Oke baiklah, kali ini aku butuh bantuanmu, punyakah kau teman pemburu yang memiliki atau menjual kuda? Namun aku mau kuda-kuda terbaik” jawab sang kakek sambil menggaruk-garuk kepalanya seperti tidak ikhlas karena pada akhirnya harus bertanya, dia merasa bahwa dia lebih banyak tahu karena umurnya sudah jauh melebihi Haari.
   “Kau tidak perlu merasa menyesal, memang orang-orang pun bertanya kepada ku dimana tempat ternak kuda yang paling dekat dengan daerah ini” kata Haari, lalu menyeruput tehnya.
   “Nanti siang kita berangkat” sang kakek lalu berjalan ke arah rumahnya, sepertinya dia masih tidak ikhlas meminta bantuan kepada sang ‘penjual’ itu.

   “Kemana kita siang ini?” tanya Aaron yang baru saja menghabisi tehnya.
   “Kita akan pergi cukup jauh, aku berharap kita tidak akan menemui entelodon nanti” kata Haari yang masih menyeruput tehnya.
   “Ke gunung itu lagi?! Bagaimana kalau ternyata para entelodon itu sudah pindah habitat ke kaki gunung?” kata Aaron dengan nada yang sedikit cemas, namun ia berusaha menyembunyikan itu.
   “Sudah saatnya kau punya senjata sendiri” kata Haari sambil menaiki tangga rumah pohon itu.
   Aaron tidak memberi tanggapan setelah itu, dia hanya melihat Aaron menaiki tangga itu, kemudian dia pun ikut naik.
   “Jadi senjata apa yang kau sebenarnya suka? Jarak jauh atau jarak dekat?” Haari berbicara kepada Aaron dari dalam rumah ketika kepala Aaron baru terlihat di pintu rumah pohon itu.
   Aaron yang masih belum naik seluruh badannya menunduk sebentar, berpikir tentang pertanyaan Haari barusan.
   “Aku ingin senjata jarak dekat, aku sudah dapat gambarannya di kepala ku” katanya.
   “Hmm, baiklah, jadi kelompok kita punya seseorang yang ahli dalam bertarung jarak dekat” kata Haari lalu meletakkan cangkirnya yang sudah kosong di tempat biasa.
   Aaron belum juga naik, masih hanya kepala nya saja yang terlihat dari dalam rumah itu, “Tapi apakah kau bisa membuatnya agar persis seperti apa yang ada di kepalaku?” tanyanya.
   “Aku bisa membuat seperti apapun” jawab Haari sambil tersenyum lebar sampai giginya yang besar keliatan, dan itu mengerikan, Aaron pun segera masuk agar ia tak terjatuh karena melihat gigi Haari yang mengerikan itu.
  
   Kini jam menunjukkan tepat pukul 2 siang, matahari pun mulai semakin ‘membara’, tetapi panas itu tidak akan terasa oleh mereka yang berada di dalam rumah pohon yang sedang asik bersantai, karena panasnya terhalang oleh daun-daun di pohon itu, kecuali cahayanya, yang tetap masuk sedikit-sedikit membentuk seperti daun-daun yang bergabung.
   “Hey, sudah siapkah kalian?!” tanya sang kakek yang berteriak dari bawah.
   Mereka berdua langsung cepat-cepat mempersiapkan perlengkapan masing-masing, dari tadi asik bersantai di dalam rumah itu, terlena oleh sejuknya suasana di atas sana. Setelah selesai mereka pun turun satu persatu menuju ke tempat seorang pria tua yang baru saja berteriak tadi.
   “Kau kali ini yang pimpin jalan” kata sang kakek kepada Haari sambil mengulurkan tangannya ke arah depan, masih jelas dari wajahnya ia belum ikhlas.
   Aaron tampaknya melupakan kecurigaanya kepada sang kakek.
   “Kuda seperti apa yang kau inginkan kek?” tanya Aaron.
   “Yang jelas kuat, lincah, larinya cepat, dan punya daya tahan yang super” jawabnya.
   “Oke! Tapi tunggu sebentar, apa kau punya sesuatu untuk membayar kuda seperti kriteria yang baru saja kau katakan itu?” tanya Haari.
   “Kau bawa saja aku kesana” jawab sang kakek singkat.
   Haaripun tertawa keras lalu berjalan ke depan, Aaron dan sang kakek mengikutinya dari belakang, panas di siang itu belum terasa karena di depan rumah sang kakek terdapat banyak pohon-pohon tinggi besar, berjejer sepanjang jalan, persis seperti kebun.
sumber :www.pinterest.com

   Perjalanan yang menempuh jarak 10km itu akhirnya membawa mereka pada sebuah tempat dipenuhi padang rumput yang luas, suasananya sudah sedikit sejuk karena sudah sore, keliatannya tempat itu adalah tempat terbaik untuk orang yang ingin membeli kuda, seperti peternakan sapi yang berada di Swiss, dan disana banyak orang-orang yang keliatannya juga merupakan seorang pemburu, sibuk dengan kuda mereka di padang rumput itu, ada yang bermain-main dengannya, ada yang menungganginya, ada yang sedang membersihkannya, namun ada juga yang hanya duduk-duduk di sampingnya sambil sibuk dengan ransel mereka, tampaknya sedang mencari sesuatu.
   “Akhirnya sampai juga, untung kita tidak bertemu dengan entelodon ya” kata Aaron.
   Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, ia berjalan ke arah seseorang tidak memakai baju, dengan kalung bermata gigi yang tampaknya merupakan gigi ropen, celananya jeans dengan ikat pinggang kulit berwarna coklat, kulitnya kuning sawo matang, rambutnya coklat kekuning-kuningan, postur tubuhnya sangat bagus, persis seperti seorang atlet sepakbola, tingginya pun hampir setinggi Haari, dari tadi sibuk menyikat-nyikat kuda berwarna emas, yang terlihat sangat berbeda dengan puluhan kuda lainnya yang berada di ladang itu, yang mayoritas berwarna hitam, coklat, atau putih, walaupun ada juga yang berwarna sedikit kemerahan.
   “Lama tak berjumpa ya” kata Haari sambil menepuk pundak orang yang sedang asik menyikat kuda itu, orang itu terkejut karena baru menyadari ada orang di belakangnya.
   “Haari, hey kemana saja kau hahaha” kata pemuda itu, tampaknya sangat senang melihat Haari, pemuda itu merangkulnya kemudian mereka bercakap-cakap.
   Aaron dan sang kakek melihat satu sama lain, lalu sang kakek berjalan ke arah Haari, Aaron mengikutinya dari belakang.
   “Hey, ini dia, ini teman-teman ku” Haari berbicara kepada temannya itu ketika ia melihat Aaron dan sang kakek menghampirinya.
   “Aaron” kata Aaron sambil menjabat tangan pemuda itu, pemuda itu hanya tersenyum kepada Aaron, lalu segera melihat ke arah sang kakek.
   “Tunggu, kau tidak perlu memperkenalkan dirimu, Badri” kata teman Haari itu sambil menunjuk sang kakek.
   Sang kakek hanya melihatnya sebentar, lalu berjalan lebih dekat dengan kuda yang baru saja disikat oleh teman Haari itu, mengelilinginya sambil mengelus-ngelus tubuh kuda itu.
   “Teman-teman, ini Arda, dia adalah penunggang nomor satu disini” kata Haari yang sedang menghadap ke arah Aaron sambil merangkul pundak Arda dengan tangan kanannya.
   “Kau menjual kuda ini?” kata sang kakek yang berada dibalik kuda emas itu sehingga hanya kaki nya saja yang kelihatan.
   Arda segera menghampiri sang kakek, begitu juga dengan Haari dan Aaron, “Hmm, aku punya 3 kuda seperti ini, tapi bukan ini yang terbaik” katanya.
   Sang kakek meraba-raba badan kuda itu, seakan ingin merasakan otot-ototnya, “aku akan mengambil yang ini saja” katanya sambil menepuk badan kuda itu.
   Arda mengangguk-ngangguk sambil manggut, “Kau bisa membawanya dengan 10.000 rai” katanya sambil tersenyum ke arah sang kakek.
   Sang kakek membesarkan matanya sedikit, terkejut mendengar harga kuda itu, iapun segera membuka tas kecil yang selalu dibawanya itu, kemudian mengeluarkan sepuluh lembar kertas yang ukurannya sebesar kepalan tangan, berwarna merah tua pada tulisan angka, terletak pada sudut kiri bawah, kemudian latarnya berwarna cream, ditengah-tengahnya ada dua lingkaran yang bersatu sehingga membentu oval di tengah-tengahnya, bagian depan dan bagian belakang kertas ini sama persis.
   “Kau akan membayari hidupku minggu ini Haari” kata sang kakek sambil memberikan sepuluh lembar itu kepada Arda.
   Arda menerimanya sambil menghitung satu persatu lembaran kertas yang oleh orang-orang disebut rai.
   “Oke, kau bisa membawanya, tetapi” Arda belum selesai dengan kata-katanya, ia melihat-lihat ke sekeliling peternakan, “kau boleh ambil yang itu” katanya kepada Aaron sambil menunjuk seekor kuda hitam yang sedang berdiri di dekat pagar pembatas yang terbuat dari kayu.
   Aaron senang bukan main, dia melihat ke kuda itu lalu berlari ke arahnya, Haari dan Arda hanya tertawa melihat kelakuan anak muda itu, sedangkan sang kakek berusaha untuk menaiki kuda emas yang baru saja dibelinya.
   “Tidak pernah kulihat dia segembira itu” kata sang kakek yang sudah berada di atas kudanya.
   Arda dan Haari tidak menanggapi, mereka terus melihat Aaron yang sedang berlari ke arah kuda hitam itu.
   “Tarik talinya, tariiikk!” kata Arda dengan suara yang keras karena Aaron sedikit jauh dari mereka, ia melakukan gerakan seperti menarik agar Aaron mengerti ucapannya jika ia tidak mendengarnya.
   Aaron tampaknya mengerti, lalu ia segera menarik tali kulit yang di ikatkan sedemikian rupa di sekitar mulut kuda itu, lalu berjalan kembali ke arah mereka bertiga.
   “Itu gratis, aku senang melihatmu” kata Arda sambil tersenyum.
   Aaron menghampirinya, lalu menjabat tangan penjual kuda yang baik hati itu, “Terima kasih, terima kasih banyak, Arda” katanya, lalu merangkulnya.
   Arda hanya tersenyum ketika Aaron merangkulnya, “Jadilah pemburu yang hebat” katanya.
   Aaron mengangguk, senyumnya belum selesai, lalu ia mengacungkan jempol kepada Arda, seakan berkata ‘pasti’.
   “Keliatannya kami akan langsung pulang, terima kasih untuk semuanya Arda” kata Haari sambil menjabat tangan temannya itu, begitu juga dengan Aaron dan sang kakek yang juga menjabat tangan penjual yang baik itu.
   “Terima kasih juga sudah mau kesini, dimana tempat kalian tinggal? Aku juga ingin berkunjung sesekali kesana” kata Arda sambil memegang pundak Haari.
   “Tempat kami berada di timur dari pasar malam” jawab sang kakek yang kemudian naik di atas kudanya.
   Arda hanya mengangguk sambil tersenyum, tampaknya ia tahu dimana tempat tersebut.
   “Biar aku yang menunggangi kuda ini, kau dibelakang saja, nanti pas dirumah baru kuajarin cara menunggang kuda” kata Haari yang kemudian naik lebih dahulu ke atas kuda hitam itu.
   “Kami duluan ya” kata Haari kepada Arda, lalu mereka bertiga termasuk sang kakek melambaikan tangannya ke Arda sambil menunggangi kuda mereka meninggalkan tempat itu, Arda juga membalasnya dengan lambaian tangan, senyum nya terus terlihat di wajahnya yang tampan itu.

Dunia Dalam Jurang 23



 

sumber : http://ihisham.com/wp-content/uploads/2014/11/thatch-roof-style-plus-brick-and-wooden-wall-feat-picture-of-traditional-kids-tree-house-kit-also-metal-straight-stairs.jpg

 Genap sudah 1 bulan setelah tragedi yang terjadi akibat seekor ropen yang melintas suatu malam di pasar itu, Aaron, sang kakek, dan satu lagi temannya, Haari, melewati hari-hari mereka seperti biasa, malam-malam di daerah rumah sang kakek, tidak pernah lagi kedatangan makhluk yang berbahaya menyerang mereka, setidaknya hanya menunjukkan keberadaanya saja, tidak ada hal yang demikian terjadi, merekapun lebih banyak berkonsentrasi ke pengembangan konstruksi rumah tua itu, hari ini adalah 4 bulan sang kakek telah menetap di daerah tersebut.
   “Aku selama tidur di malam hari, sering merasakan ada sesuatu yang ganjil” kata Aaron ketika Haari baru saja membawakan minuman untuknya ketika ia sedang berada di rumah pohon di sebelah kanan depan rumah sang kakek, yang baru saja selesai 3 hari, ruangan rumah itu berbentuk seperti lingkaran, terbuat dari kayu jati yang sudah tua.
   “Minum dulu” jawab Haari yang masih berada dibawah menenteng dua gelas kopi hangat.
   Aaron pun turun melalui tangga kayu yang berdiri miring menghubungkan antara rumah pohon itu dan tanah.
   “Kakek dimana?” tanya Aaron sambil mengambil kopinya dari tangan Haari.
   “Ada tuh dibelakang” jawab Haari singkat lalu menyeruput kopinya sambil berjalan menuju ke tangga rumah pohon itu.
   Aaron melihat sebentar ke arah rumah si kakek, lalu mengikuti Haari yang sudah sampai di rumah pohon itu, menaiki tannga kayu itu dengan kedua kaki dan tangan kirinya.
   “Kau tidak ke pasar?” tanya Aaron yang duduk disamping Haari di depan pintu rumah pohon itu.
   “Aku ingin menikmati malam ini di atas sini, melihat bintang dan bulan, barangkali dapat inspirasi” jawab Haari sambil menyeruput kopinya dan melihat ke arah langit.
Aaron tidak mengerti dengan maksud ucapan temannya itu, kemudian berpaling darinya lalu juga ikut menyeruput kopinya. Rumah pohon itu sederhana, atapnya seperti segitiga yang tumpul terbuat dari daun kelapa yang sudah dikeringkan berwarna kecoklatan, sedangkan pintunya terbuat dari kayu jati berumur lebih dari 30 tahun yang didapat oleh Haari tidak jauh dari belakang rumah sang kakek,  dibentuk seperti busur derajat, rumah itu berjarak 5 meter di atas tanah, luasnya pun hanya 12m2 sehingga hanya bisa untuk dua orang leluasa bergerak di dalamnya, itu sebenarnya adalah rumah Haari karena dia yang membuatnya, sedangkan Aaron hanya membantu menyelesaikannya, sang kakek tidak ada ikut campur kecuali hanya melihat mereka berdua bekerja sepanjang hari sambil menyeruput secangkir teh hitam hangat di jenjang kecil depan rumahnya, Aaron lebih sering tinggal di rumah pohon itu, mengingat sang kakek selalu membuat suara-suara berisik ketika tengah malam, selalu sibuk dengan sesuatu.
   “Sudah jam berapa?” tanya Aaron kepada Haari yang daritadi tidak ada memulai pembicaraaan.
   Haari mengambil sesuatu dari kantongnya, lalu berkata “Hampir jam setengah 11” sambil melihat jam bulat metalik yang diberi rantai, jam itu mempunyai penutup yang terbuat dari besi berwarna emas yang sedikit gelap.
   “Kita akan menghabiskan malam ini disini?” tanya Aaron lagi, kopinya belum habis.
   Haari hanya melihat sekali lagi jamnya, lalu menyeruput kopinya, tidak memberi jawaban.
   “Aku penasaran dengan danau sebelum kita dikejar dengan para babi liar itu, maksudku aku penasaran bagaimana jika kita mendatanginya malam hari?” tanya Aaron yang kemudian meletakkan cangkir kopinya di sebelah kanannya, ia tidak bisa mengajak dengan cara yang lebih halus, walaupun Haari sudah tau maksud Aaron ketika Aaron bertanya pertama kali.
   Haari menyeruput kembali kopinya, lalu melihat ke arah Aaron, mengangguk sedikit, lalu menyeruput lagi kopinya yang sudah hampir habis, tidak memberikan jawaban lagi.
   Aaron pun mengambil kopinya, langsung meminumnya sampai benar-benar habis, sepertinya dia akan melakukan sesuatu.
   “Sang kakek, sang kakek” kata Haari yang sudah duluan menghabiskan kopinya kemudia meletakkannya di dalam rumah pohon itu.
   “Apa maksudmu?” tanya Aaron sambil melihat Haari yang berjalan ke dalam rumah pohon itu.
   “Minta dia mengajarimu beberapa teknik bertarung” jawab Haari yang kemudian membaringkan tubuhnya di dalam rumah pohon itu, tentu saja, bukan itu maksud sebenarnya dari perkataanya tadi, hanya saja dia merasa Aaron akan mengetahui sendiri nantinya.
   Aaron hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu masuk ke dalam dan mengunci pintu, meletakkan kopinya tepat dimana Haari meletakkan kopinya tadi, lalu membaringkan tubuhnya di samping kiri Haari yang sudah memejamkan mata.

   Pagi sudah tiba, matahari pun mulai menunjukkan keberadaanya kepada seluruh isi bumi, dengan pancaran sinarnya yang hangat pagi itu, menembus ke dalam rumah yang ada di atas sebuah pohon di depan rumah seorang laki-laki berumur.
   “Haari” kata pertama yang Aaron ucapkan ketika ia mulai membuka matanya perlahan-lahan, lalu melihat ke sebelah kanan, tidak ada Haari di sana.
   Pintu rumah itu terbuka, Aaron mendengar suara orang bercakap-cakap di bawah, yang tak lain suara itu adalah suara Haari dan sang kakek, lalu ia pun beranjak dari posisinya dan berjalan ke arah pintu itu.
   “Heyyy, itu dia, kemari kau nak, kau bilang kemarin ingin belajar teknik bertarung kepada kakek, kan? Kata Haari dengan suara yang keras ketika ia melihat Aaron berdiri di depan pintu melihat mereka dari atas sana.
   Aaron hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sebab bukan ia yang meminta, tapi itu adalah saran dari Haari tadi malam untuk meminta sang kakek mengajarinya teknik bertarung, ia pun memantapkan pijakan salah satu kakinya ke anak tangga rumah pohon itu, disusul dengan kaki satunya lagi, sehingga posisinya membelakangi rumah sang kakek,lalu turun beberapa langkah sehingga tangannya mampu menggenggam kedua sisi tangga itu, barulah ia turun ke bawah.
   Baru saja ia sampai di hadapan sang kakek, pria tua itu langsung melemparkan pukulan ke arah wajahnya, Aaron spontan menghindar ke belakang, namun ia tidak memberikan balasan.
   “Ayo, serang aku” kata sang kakek sambil merentankan kedua tangannya ke samping.
   Aaron langsung menyerangnya dengan tendangan kaki kanan ke arah perut, namun sebelum serangan itu mengenai tubuh sang kakek, sang kakek sudah mengenai badan Aaron dengan pukulan tangan kirinya, Aaron yang terhempas ke belakang terkejut, Haari hanya melihat mereka di dekat tangga rumah pohon itu.
   “Itu saja yang kau punya?” kata sang kakek menantang Aaron.
   Aaron merupakan anak dari seseorang yang pandai beladiri, ia pun terdiam sejenak mengingat-ngingat apa yang sudah ia pelajari, setelah itu, ia berjalan pelan ke arah sang kakek sampai jaraknya hanya setengah meter dari sang kakek, sang kakek hanya tersenyum menatap ke wajahnya, tanpa gerakan yang mencurigakan.
   Aaron tersenyum sedikit, lalu secara tiba-tiba kaki kanannya menendang ke arah rusuk kiri sang kakek, diikuti teriakan cukup keras, sang kakek masih dapat menghindar dengan santai ke arah kiri, sementara tendangan kaki kanan Aaron hanya mengenai angin, kaki kirinya langsung menyusul secara tak terduga ke arah perut sang kakek, sebuah tendangan belakang, seperti kuda, sang kakek tidak menyangka hal itu, perutnya membentur keras dengan tendangan Aaron, tidak terhindarkan lagi sang kakek langsung terdorong ke belakang lalu terjatuh ke tanah.
   Haari yang melihat ini langsung membesarkan bola matanya, sedangkan Aaron segera menyusul sang kakek yang masih terkapar di atas tanah.
   “Aku kira kau bisa menghindarinya” kata Aaron sambil membantu sang kakek bangkit.
   “Tidak apa-apa, ini tidak apa-apa” jawab sang kakek sambil tersenyum, lalu perlahan-lahan berdiri dibantu oleh Aaron.
   Sang kakek tidak keliatan menahan sakit ataupun kesakitan, dia hanya menginstruksikan agar Aaron kembali pada posisinya semula, bermaksud untuk tetap menantangnya berduel.
   “Lagi?” tanya Aaron yang mundur secara perlahan sambil tetap menatap ke wajah sang kakek.
   Sang kakek kini menatap tajam ke arah Aaron, seakan mulai lebih fokus dalam menghadapi anak muda yang baru saja berhasil menendangnya itu, setelah Aaron sudah kembali pada jarak yang semula dari sang kakek, memasang kuda-kuda seperti seorang petinju bersiap dengan apa yang akan dilakukan oleh sang kakek.
   Seketika sang kakek berlari dengan cepat ke arah Aaron, bergerak ke kiri dan ke kanan dengan sangat cepat, bahkan terlalu cepat, sehingga Aaron pun tidak mampu melihat ia sedang berada di kiri atau di kanan, dia melihat sang kakek menjadi dua.
   “Kau tidak bisa melindungi perutmu jika kedua tanganmu hanya melindungi wajahmu” kata sang kakek tiba-tiba sudah memukul perut Aaron.
   Aaron terhempas ke belakang, melirih kesakitan, tak disangkanya kekuatan dari kakek itu hampir sama dengan kekuatan pukulan seorang petinju profesional, sambil memegang perutnya dengan tangan kanannya, dengan badan yang masih sedikit bungkuk, sang kakek datang ke arahnya, Aaron menatap tajam ke arah sang kakek seakan ingin melakukan perlawanan.
   “Saat memukul, jangan gunakan otot tangan saja, tetapi ikutsertakanlah seluruh tubuhmu untuk menambah kekuatannya” kata sang kakek sambil memegang perut Aaron dengan tangan kanannya dan memegang punggung anak muda itu dengan tangan kirinya, lalu membantunya badannya untuk tegak.
   Seketika rasa sakit di perut Aaron hilang, tetapi Aaron tidak terlalu menghiraukannya, ia pun berjalan ke arah Haari yang dari tadi melihat mereka di dekat anak tangga rumah pohon itu sambil sibuk mengelap-ngelap senapannya.
   “Aku akan membuatkan kalian berdua minuman, tunggu disana” kata sang kakek sambil berjalan menuju rumahnya.
    “Bagaimana rasanya dipukul Badri?” tanya Haari ketika Aaron menghampirinya.
   “Rasanya sakit, kekuatannya..” tiba-tiba Aaron berhenti bicara, matanya menatap ke depan sambil melotot, mengelus-ngelus perutnya dengan tangan kanannya, Aaron merasa ketika kepalan tangan pria tua itu mendarat di perutnya rasanya seperti isi perutnya ingin berhamburan keluar, tetapi rasa sakit itu hilang, Haari sepertinya sudah paham, ia hanya tersenyum saja sambil terus mengusap-ngusap senapannya, tampaknya dia tau pertanyaan apa yang kini berputar-putar di kepala Aaron, dan ia berharap Aaron akan segera mengetahui yang sebenarnya.

Minggu, 06 Desember 2015

Dunia Dalam Jurang 22



sumber : http://vignette4.wikia.nocookie.net/destinationtruth/images/c/cb/Ropen.JPG/revision/latest?cb=20110511061038

   Setelah menunggu selama beberapa menit, terdengarlah suara gemuruh angin yang datangnya dari barat, seluruh orang yang berada di pasar itu melihat ke atas, perlahan-lahan terlihat sudut kota tertutup bayangan yang cukup besar, kemudian lama-lama membesar hingga akhirnya tampaklah kepala ropen namun badannya masih belum terlihat, seluruh pemburu di pasar itu masih menahan tembakannya, karena mungkin saja ropen tersebut benar-benar hanya melintas saja, ketika sudah hampir setengah tubuh ropen tersebut keliatan, ropen itu tidak bergerak, kepalanya mengarah ke bawah ke arah pasar itu, para pemburu sudah tau apa yang akan terjadi, begitu juga sang kakek dan Haari yang sudah siap dengan senapannya, lalu ropen itu bergerak ke arah bawah sehingga tubuhnya semakin dekat dengan tanah, sang kakek melihat ke arah Haari, Haaripun melihat balik ke arahnya lalu mengangguk, sedangkan Aaron tetap berfokus ke ropen itu.
   “Semuanya tembak!!!” teriak sang kakek sambil melepaskan tembakan pertama ke arah ropen yang memecah suasana tegang di pasar itu.
   Suara tembakan pun meramaikan suasana pasar itu seperti kembang api di tahun baru, ropen itu berteriak lalu bergerak cepat ke bawah dan mengenai blok-blok pasar yang terbuat dari kayu itu, lalu kios-kios di blok itu hancur sehingga kayunya terhempas ke berbagai penjuru pasar, tidak terelakkan lagi, beberapa orang pun terkena kayu yang terhempas itu dan hanya bisa menjerit, sedangkan pemburu bisa menghindarinya sambil tetap menembak ke arah ropen yang kini telah berdiri tepat di tengah-tengah pasar itu, orang-orang selain pemburu berlari mencari tempat sembunyi, sedangkan para pemburu tetap menembak, ropen itu tidak keliatan goyah, lalu mengibaskan ekornya ke panjang dan membalikkan tubuhnya sehingga kini posisi kepalanya tepat berada didepan Aaron yang berdiri bersama para pemburu lainnya, mungkin karena tembakan mereka lah yang paling banyak dan tepat sasaran.
   “Tetap menembak!” teriak sang kakek yang kemudian berlari ke arah ropen itu.
   Aaron yang melihat aksi sang kakek berhenti sebentar, lalu kembali menembak lagi, begitu juga dengan Haari yang tidak memperdulikan sang kakek yang berlari ke arah ropen tersebut, ia tetap menembak, orang-orang yang bukan pemburu terus berteriak-teriak, sehingga ropen itu pun memutar badannya ke arah para orang-orang itu, ketika ropen tersebut sudah terlihat ingin menyerang para orang-orang yang berteriak itu, sang kakek yang berlari tadi mengambil goloknya di ransel lalu sambil melompat ke kepala ropen tersebut ia menusukkan goloknya ke mata kiri ropen tersebut, goloknya pun menancap di mata ropen tersebut, sedangkan tubuhnya masih menggantung melayang di atas tanah karena masih belum melepaskan pegangannya dari golok itu, ropen itu lalu menggerakkan kepalanya kekiri dan kekanan dengan cepat berkali-kali sehingga sang kakek terhempas ke arah kanan di tempat orang-orang selain pemburu itu, Aaron pun menyusul sang kakek sedangkan Haari tetap menembak ropen itu.
   “Tidak apa-apa, aku tidak apa-apa” kata sang kakek yang terkapar ketika melihat Aaron datang menghampirinya, lalu Aaron membantunya berdiri perlahan-lahan dengan melingkarkan tangan sang kakek di lehernya.
   Ropen itu masih berteriak-teriak dan bergerak tidak menentu ke segala arah sehingga menghancurkan banyak kios-kios di pasar itu, salah satu pemburupun tidak bisa menghindar dan terkena hempasan kayu kios yang hancur itu, dua pemburu lain langsung menghentikan tembakannya melihat pemburu yang terkena hempasan itu langsung terkapar di tanah dan berlari ke arahnya, sedangkan Haari masih tetap menembak ropen itu, kulit ropen sangat tebal sehingga harus ditembak beberapa kali sampai akhirnya peluru panas bisa menembus kulit itu, sambil terus menembak, Haari berjalan mendekati ropen yang membelakanginya itu, sedangkan pemburu lain tetap pada posisinya dan terus menembak, ketika Haari sudah sangat dekat dengan ekor ropen yang panjangnya bisa sampai dua meter tersebut, tembakan Haari sepertinya berhasil menembus kulit sang monster, karena ropen itu memiringkan badannya ke kiri lalu jatuh ketanah, suara tubuhnya menggema seisi pasar itu.
   “Yeah!!!” teriak Haari sambil mengangkat satu tangannya yang terkepal ke arah langit, yang lalu diikuti oleh seluruh orang di pasar juga ikut berteriak.
   Suara orang-orang yang secara bersamaan berteriak di pasar itu lebih keras dan lebih menggema dari pada suara teriakan seekor ropen, sehingga gemanya sampai ke hutan-hutan di sekeliling pasar itu yang pastinya membuat para penghuni hutan mengurungkan niatnya untuk menyerang.
   “Kau lihat itu? Kau juga merupakan bagian dari kemenangan ini” kata sang kakek yang melihat ke arah Aaron, lalu memeluknya.
   Semua orang di pasar itu saling tos dan mengangkat senapannya masing-masing ke atas, Haaripun melihat ke belakang ke arah para pemburu yang lain, lalu ia tersenyum lebar kemudian ikut mengangkat senapannya ke atas, para pemburu itu pun lalu teriak lebih keras lagi, malam seperti itu jarang terjadi, jarang sekali, karena ropen tidak biasanya melintas di daerah itu, kecuali kadang hanya smilodon atau mngwa kucing yang menyerang pasar itu, namun itu tidak akan membuat kehebohan seperti ketika ropen yang melakukannya.
    Haari berlari ke arah Aaron dan sang kakek, kemudian memeluk mereka berdua, Aaron hanya tersenyum ketika mengingat apa yang barusan kakek itu katakan, ada suatu perasaan bangga, terharu, senang sekaligus heran yang bercampur di hatinya. Malam itu persis sekali seperti malam tahun baru, suara tembakan memecah langit dunia dalam jurang serta teriakan kemenangan itu seperti suara kembang api yang meletus-letus di langit ketika tahun baru tiba.

   Setelah pertempuran itu, orang-orang yang berada di pasar itu pun mulai membersihkan pasar itu, para pemburu termasuk Haari sibuk dengan bangkai ropen yang terkapar telungkup di atas tanah pasar itu, ada yang memotong-motong giginya, ada yang mengambil darahnya, ada pula yang memotong ekornya, sedangkan Aaron dan sang kakek hanya duduk di salah satu bangku yang masih itu di pasar itu sambil melihat orang-orang itu sibuk dengan aktifitasnya.
   “Jarang-jarang hal ini terjadi, nak” kata sang kakek yang duduk disamping Aaron.
   “Aku juga tidak tahu harus mengatakan apa, aku juga tidak tahu harus merasa beruntung ataupun sial masuk ke dalam dunia ini, aku hanya, aku tidak bisa mengungkapkan apa yang aku rasakan saat ini” jawab Aaron yang menatap ke depan sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
   Sang kakek lalu memegang pundak anak muda itu lalu tersenyum, “semua hal yang telah terjadi selalu ada maksud dibaliknya, tugas kita bukan untuk merasa baik atau buruk terhadapnya, melainkan belajar darinya” kata sang kakek.
   Aaron tidak menanggapi tetapi tersenyum sambil melihat orang-orang di pasar itu sibuk membersihkan kios-kios yang hancur, mencari-cari sesuatu dan tidak sedikit yang bercakap-cakap.
   Malam itu menjadi malam dimana darah pemburu mulai mengalir dalam diri Aaron, malam dimana sesuatu yang hebat dimulai, dan menjadi malam dimana dunia dalam jurang akan diwarnai dengan warna yang mencolok oleh seorang pemuda yang secara tidak sengaja jatuh ke dalam dunia itu.