Minggu, 04 Februari 2018

DAHULU

Di atas meja warung Rosidi, sebotol tuak yang tinggal setengah, bersama empat gelas kosong sedang mengadakan pembicaraan yang hangat, purnama merekam dengan cahayanya, dimana malam menjadi latar yang baik, untuk sebuah 'tragedi',

Si botol membuka pembicaraan,

"Kita ini selalu disalahkan!" tegasnya,

Gelas-gelas diam, tak menanggapi, hanya menatap dengan arti pada si botol,

"Kenapa harus kita yang disalahkan?" Lanjut botol,

Gelas-gelas masih diam, tak lama sebuah diantara mereka menanggapi,

"Kau lah yang menyediakan, kami juga jadi korban, darimu dituang air dosa itu, lalu dari kami diminum, badan kami penuh dosa!"

Si botol mengayun-ayun badannya ke depan dan belakang, tak jelas kenapa, namun tampaknya ia mulai marah dan gelisah,

"Aku ini sebagai penyedia, mereka sendiri yang memilih untuk minum, lalu kenapa harus aku yang disalahkan?" Nada botol meninggi, lalu diam, memalingkan tubuh kaca, ia melompat-lompat menuju pinggiran meja, dan terjun bebas,

PRAKKKK

Gelas-gelas hanya diam kembali, bau tuak memenuhi udara, purnama diam-diam bergerak ke balik awan.

Aroma tuak itu, di mata para gelas warna nya kuning cerah, merupakan asap yang bergerak meliuk-liuk seperti ular di udara, ia berbisik kepada para gelas,

"Jika tak bisa menahan nafsu, jangan kau salahkan tuak yang menggoda"

Lalu ia terbang ke arah purnama.



Kamis, 21 Desember 2017

DIET BERAKHIR JERUJI

  DIET BERAKHIR JERUJI

   Adalah Joe, yang hanya bisa mengejar tukang bakso dengan pandangannya yang pilu, Joe merupakan mahasiswa yang bisa dikatakan maniak weight loss, yang mengatur diet sehat dan diet ketat---macam betul. Hari-hari ia isi dengan konsumsi makanan penuh gizi rendah kalori, plus dengan hati yang tidak menikmati. Joe tidak menyadari bahwa ia tidak terlahir kurus, kedua orang tuanya gemuk, hampir seluruh sanak nya gemuk, kecuali satu orang, yaitu Alex, si buncit yang humoris.
  
   Namun Joe percaya dengan motivasi dari seminar bisnis multilevel yang pernah digelutinya 5 bulan lalu, "tidak ada yang tak mungkin", "jika kalian ingin mencapai apa yang kalian inginkan", dan "sukses usia muda", tentu saja sukses bagi Joe adalah sukses menurunkan berat badan, apa yang membuat Joe tidak pernah berhasil adalah nafsu makan yang sama besar dengan badan, memang ia memakan sayur, dengan porsi yang sangat banyak.
  
   Suatu hari ia membaca sebuah artikel "Tertawa dapat membakar lemak" dan dengan sangat serius menanggapi, Joe sama dengan kedua orang tuanya, pemurung dengan muka berlemak---sulit dibuat tertawa. Namun hari dimana ia membaca artikel itu adalah hari dimana ia seolah terlahir kembali. Joe menjadi pribadi yang gampang sekali tertawa, bahkan saat seseorang berbicara serius (pada saat itu Joe menerima caci maki), sikap Joe yang berubah tentu mengundang berbagai penafsiran dari masyarakat, dan didominasi oleh pandangan bahwa ia telah gila.
  
   Sedikit namun sakit, Joe perlahan-lahan diabaikan, teman-temannya sering memandang paham ke arahnya ketika ia mencoba berbicara hal yang lucu, hanya merespon berupa tersenyum penuh simpati, keluarga Joe pun perlahan mulai mengabaikannya, dan ketika Joe menimbang badannya ,mendapati beratnya hanya berkurang sedikit, beberapa ons, ia meningkatkan intensitas 'latihannya'.
  
   Hingga pada suatu pagi, pihak keluarga sudah tidak kuat lagi dan melaporkan Joe ke rumah sakit Jiwa di pusat kota, dan sorenya datanglah sebuah avanza hitam ke rumah Joe, membawa lima orang dokter jiwa (orang tua Joe sudah mengatakan sebelumnya kalau Joe bertubuh besar dan suka melawan) dan menyeret paksa Joe ke dalam mobil, bahkan Joe tetap tertawa karena salah satu motivasi nya dalam latihan tertawa ini adalah "memandang positif dari segala sesuatu", singkat cerita, Joe harus menginap sampai waktu yang belum ditentukan di balik jeruji besi yang dicat putih, bersama penghuni-penghuni lain yang melakukan 'latihan' yang sama.

Selasa, 28 Februari 2017

Apa itu teman?

Dalam buku Socrates Café  karangan Christopher Phillip, ada pembahasan di bab III tentang teman, dan jika anda mau membaca, di buku itu sepertinya tidak ada penjelasan pasti, melainkan opini masing-masing dari partisipan Socrates Café yang disatukan dalam sebuah dialog, pada kesempatan kali ini saya juga ingin menjawab pertanyaan "Apa itu teman?"

Jawaban dari pertanyaan diatas menurut saya tidak perlu panjang-lebar, karena untuk menjawabnya kita harus tahu teman pada dasarnya, pada dasarnya teman adalah sesuatu yang menemani, saya katakan sesuatu karena teman tidak selalu seseorang---tidak harus manusia, bahkan benda mati juga bisa disebut sebagai teman. Dan membahas tentang apa itu teman jangan membahas tentang "teman adalah seseorang yang saling mengerti bla bla bla atau teman adalah orang yang selalu ada bla bla bla", itu bukan "apa itu teman", tetapi itu adalah "apa yang menjadikan seseorang teman yang baik", karena teman pada sejatinya adalah sesuatu yang me-teman-i kita, tidak selalu yang mengisi "butuh teman" dalam diri kita---kita tidak harus butuh teman untuk mendapat teman. Teman juga terlepas dari sifat dari teman itu, karen teman juga merupakan definisi wujud,  tidak peduli apakah sesuatu yang kita labeli sebagai teman itu baik ataupun buruk, teman yang buruk bukanlah teman karena tidak menghasilkan sesuatu yang positif? Teman yang buruk bisa, teman yang buruk akan membuat kita belajar darinya dan menambah pengalaman kita.

Jadi apakah teman itu? Apakah seseorang/sesuatu yang baik? Sesuatu yang bermanfaat? Sesuatu yang mengerti kita? Sesuatu yang ada untuk mengisi "butuh teman" dalam diri kita?
Bukan. Teman adalah sesuatu yang bersama kita, terlepas dari kualitas, sifat, manfaat nya adalah di luar pembahasan.

Mantra dan Yakin ; mana yang lebih penting?

Dalam budaya dan keilmuan spiritual, tentu saja kita tidak asing lagi dengan yang namanya mantra, mantra adalah sesuatu yang vital dalam keilmuan spiritual, demi tercapainya suatu tujuan ilmu, namun jika anda pernah atau cukup sering membaca buku-buku klasik maupun modern dengan tema spiritual, anda pasti sering menemukan bahwa syarat ampuhnya suatu mantra adalah yakin, nah yang sering menjadi pertanyaan adalah yang manakah lebih penting, yakin atau mantra itu sendiri?

Mantra menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah 1.  perkataan atau ucapan yang memiliki kekuatan gaib (misalnya dapat menyembuhkan, mendatangkan celaka, dan sebagainya), 2. susunan kata berunsur puisi (seperti rima, irama) yang dianggap mengandung kekuatan gaib, biasanya diucapkan oleh dukun atau pawang untuk menandingi kekuatan gaib yang lain.

Dalam hal ini saya akan membahasnya menurut dua sumber kekuatan gaib :

1. Bersumber dari dalam diri 

Manusia diciptakan sudah dengan potensi kegaiban, dalam fisika kuantum, semua benda yang ada di alam ini dasarnya adalah atom, pikiran manusia memiliki kekuatan elektromagnetis dalam mempengaruhi atom, namun ilmu pengetahuan berhasil membuktikan bahwa kekuatan elektromagnetis jantung 5000 kali lebih kuat daripada otak, ini dapat dibuktikan dengan magnometer sampai pada jarak 3 meter lebih diluar tubuh fisik. Jantung yang dimaksud tak lain adalah hati, keyakinan adalah ketetapan dan percaya dari dalam hati kita, dan sudah dijelaskan bahwa otak memiliki kekuatan elektromagentis juga, namun tidak sekuat jantung/hati. Mantra pada zaman modern ini bisa disebut sebagai affirmasi, atau pengulangan kata yang disengaja untuk mengkondisikan dan menciptakan suatu bentuk pikiran (mindset), bicara tentang affirmasi dan hubungannya dengan berhasilnya suatu tujuan mindset (kesuksesan, merubah sifat negatif, memperbaiki kondisi keuangan dan lain-lain) tidak akan berhasil jika hanya berpegang kepada affirmasi itu sendiri, sedangkan hati yang selaras dengan tujuan affirmasi tersebut adalah kunci terpenting tercapainya maksud dari affirmasi. Sudah jelas, pada konteks ini yakin lah yang berperan penting dalam terciptanya energi gaib.

2. Bersumber dari luar diri

Sumber kekuatan gaib dari luar diri adalah roh halus dan Tuhan, dalam konteks ini, mantra bisa dikatakan sebagai bahasa untuk meminta bantuan ataupun memerintah kekuatan gaib dari sesuatu di luar diri kita, dalam Islam ada yang namanya dzikir, yaitu pengulangan suatu kalimat atau kata untuk memohon kepada Tuhan, sedangkan dzikir tidak berlaku jika ditujukan kepada makhluk halus, karena dzikir sifatnya memuji, dan jika makhluk halus bersedia membantu karena suatu dzikir, tentulah itu atas perintah dari Tuhan. Mantra mungkin lebih cocok ditujukan kepada roh halus, walau mantra bersifat meminta bantuan atau memerintah, meminta bantuan itu tidaklah sama dengan meminta bantuan kepada Tuhan, mantra untuk meminta bantuan bisa dicontohkan seperti meminta bantuan kepada seseorang untuk melakukan hal yang masih bisa kita lakukan namun ingin kita permudah, sedangkan meminta bantuan kepada Tuhan biasanya adalah untuk sesuatu yang sudah sangat sulit dan hampir diluar kemampuan kita. Sekarang kita akan membahas kedudukan yakin pada konteks ini, yakin adalah etika dalam tercapainya suatu tujuan mantra (dalam konteks ini), bagaimanakah reaksi jika anda meminta bantuan kepada seseorang dan orang tersebut tahu kalau anda tidak yakin terhadapnya? Tentu saja ia enggan untuk membantu anda. Mantra dan yakin kedudukannya sama, berbeda dalam konteks kekuatan gaib yang bersumber dari dalam diri---yang dimana mantra dan yakin kedudukannya yakin lah yang lebih penting, dan bisa dipisah dengan yakin saja tanpa mantra. Dalam konteks ini, kedudukan keduanya sama dan tidak bisa dipisah, bagaimana anda bisa yakin orang akan membantu anda sedangkan anda tidak meminta bantuan? 

Jadi jawaban dari pertanyaan "Lebih penting Mantra atau Yakin" menurut pendapat saya adalah tergantung anda menggunakan konteks yang mana, konteks kekuatan dalam diri bisa sejatinya bisa digunakan seperti apa yang bisa kekuatan luar diri lakukan, jadi jawabannya adalah lihat mantranya dan tujuannya, apakah meminta bantuan kepada sesuatu diluar diri atau lebih seperti affirmasi kepada diri sendiri? Jika meminta bantuan kepada sesuatu diluar diri anda tentu tidak bisa memisahkan mantra dengan yakin, anda harus menjalankan keduanya, sedangkan jika mantra tersebut lebih kepada affirmasi, seperti contoh (ototku kawat tulangku wesi atau semua setan tunduk takluk...) itu sudah jelas termasuk ke dalam kekuatan dalam diri, kalau begitu anda hanya perlu yakin, sedangkan jika mantranya sudah seperti ayat-ayat itu termasuk ke dalam kekuatan di luar diri, anda harus membaca 'mantra' nya dan juga harus yakin.

Senin, 20 Februari 2017

Takdir

TAKDIR

Berawal dari pertanyaanku..
Tentang takdir, apakah takdir berlaku..
Dan berlaku pada segala hal yang dapat diliput indra..
Apakah takdir yang menjadikan bebatuan pecah..
Di tangan si praktisi ilmu shaolin..
dan apakah takdir juga, yang menjadikan batu yang mungkin tidak akan ditemukan..
Menjadi sebuah permata yang berharga?
Apakah takdir juga merambat pada kuah-kuah lontong yang berserakan..
Dan menjadi akhir dari sebuah proses yang sia-sia..
Apakah takdir menempatkan kuah lontong pada mangkuknya..
Dan menjadikan kuah lontong itu disantap para pengusaha?
Nah kawan, apakah karena takdir suatu tanah menjadi sumber perpecahan?
Ataukah karena kehendak Tuhan yang katanya menyembunyikan hikmah pada segala sesuatu?
Paku kan pandangan pada bungkus-bungkus makanan yang berserakan..
Apakah mereka dijadikan hanya untuk pemikat yang akan selalu dibuang tanpa dikenang?
Lepaskan pandangan pada takdir koran yang hidup untuk hari itu..
Lepaskan!! Lepaskan kawan..
Lepaskan tanyamu pada bata yang berserakan karena tenaga dalam..
Lepaskan!! Lepaskan kawan..
Lepaskan harumu pada butir-butir nasi yang terbuang pada akhir sebuah proses.

Kamis, 09 Februari 2017

Parallel (9) : Reality is your Choice (END)

   Kami akhirnya memberhentikan motor kami tepat di belakang inova itu, yang tak lain adalah ayah, aku melirik sebentar ke arah hutan tempat pintu berada,

"Ayah?" Bang Fad memanggil ayah lewat jendela samping supir yang dibuka.

"Apa yang kalian inginkan disini?" Jawab ayah dengan tenang dan turun dari mobil

"Bagaimana ayah tau kalau..."

"Fad, Fadal anakku, kita bukan baru bertemu kan? Jangan berpikir kalau kita baru kenal kemarin sore"

Bang Fad hanya diam menatap ayah dengan memasang wajah bingung,

"Ayah tau pasti bagaimana kelakuanmu"

"Jadi ayah sengaja mengatakan pergi kerumah teman karena..."

Ayah tersenyum, dan berjalan mendekati bang Fad, sedangkan aku berada di belakang bang Fad hanya berdiri seperti yang selalu aku lakukan,

"Kemari nak, ada apa disana? Apa ada masalah disana? Apa perlu ayah membantu? Sampai kau berkeinginan kuat untuk kesini?"

Bang Fad menoleh ke arahku sebentar,

"Izinkan Fadal masuk kedalam sana bersama Gugus"

"Baiklah, kalian akan kembali kan?"

Bang Fad menoleh lagi ke arahku, dan tersenyum, aku tau senyum itu adalah senyum kesedihan,

"Kami tidak tahu yah" bang Fad mengangkat bahunya kemudian menunduk

"Hahaha, kalian sudah dewasa, dan bukan anak-anak lagi"

Sekali lagi kami berdua hanya diam,

"Sini, peluklah ayah jika ini adalah waktu terakhir kita, sini" ayah memanggilku

   Dan kami berdua memeluk ayah dengan erat, jujur aku tak kuat menahan emosi ku, hingga meluapkan air mata, setelah melepaskan pelukan, aku memandangi setiap detail dari ayah, dan berulang-ulang, tentu aku akan bertemu lagi dengan ayah, tapi bukan ayah yang ada di depan aku saat ini, ayah yang NYATA

"Masuklah kesana nak, ayah akan menunggu saja dari sini, ayah akan menunggu sampai kalian keluar, berapa pun lamanya" ayah senyum lalu kembali murung, dan kembali ke mobil dalam keadaan tertunduk

   Kami berdua kemudian memasuki hutan itu, dan benar, pintu itu masih disana, pintu itu ada dan tidak pernah dikunci, setelah sampai di dalam seperti sebelumnya, hanya ada tanah kosong dan perasaan aneh, dan kami juga menoleh ke belakang, dan sesuai dugaan, pintu itu sudah menghilang, untungnya masih ada pintu di depan, ketidaknyataan sudah hilang di depan mata, sebagai gantinya kenyataan lama akan kami hadapi, sudah sesuai dengan pilihan kami.
   Ketika bang Fad membuka pintu itu, dan kami berjalan ke depan, memang gelap sekali tapi kami tau kami hanya perlu jalan lurus ke depan sana, dan tak lama kemudian aku mendengar suara inova kami, kamipun berlari kesana dan berdiri di pintu samping supir,

"Jangan bilang kalian cuma masuk kesana dan tidak melakukan apapun, karena kalian datang lebih cepat dari laki-laki yang buang air kecil!" kata ayah setelah membukakan kaca,

"Jadi apa sebenarnya yang kalian lakukan?" Ayah berbicara dari bangkunya, mendongakkan tubuhnya mendekat ke arah kami,

Aku dan bang Fad hanya menoleh satu sama lain, dan tersenyum aneh,

"Tidak ada yah" jawab bang Fad sambil tersenyum hingga menampakkan giginya

"Oke...." ayah menghidupkan mobil,

"Jadi apakah kau jadi tidur di rumah temanmu malam ini?" Tanya ayah sebelum menutup kaca,

"Jawabannya adalah apakah ayah jadi pergi ke rumah teman ayah" jawab bang Fad,

Sontak kami bertiga diam, dan tiba-tiba ayah tertawa dan kamipun ikut tertawa,

"Ayah bisa kesana besok malam!"

"Fadal juga!"

   Ayah membunyikan klaksonnya dan pergi meninggalkan kami, setelah itu selama perjalanan pulang, bang Fad tidak ada mengucapkan sepatah katapun denganku, aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya saat ini, tapi yang pasti aku belajar suatu hal dari kejadian ini ;

"Jangan menyalahkan kenyataan yang tampak salah, karena kau akan berterima kasih padanya jika kau berhasil melewatinya"

Terima kasih kuucapkan pada semuanya, ayah, terutama polisi-polisi, nenek, Vivi, Ibu, kakek, saudara-saudara lainnya, dan tidak untuk bang Fad..

Karena hanya dia yang NYATA,

Hahaha.

Parallel (8) : Kepo

   Tibalah gelap menyelimuti langit, yang menyisakan sedikit goresan merah tebal, kadang kuning ikut disana, sang purnama yang tadinya malu-malu, kini sudah percaya diri untuk menampakkan dirinya pada dunia, cerita pagi tadi sudah ditutup dan kini saatnya bagi ia untuk menciptakan cerita sendiri, tentang apa saja yang terjadi dibawah pengawasannya.
   Selepas mengobrol di gazebo sore tadi, bang Fad pergi ke kamar Ayah di atas sedangkan aku menonton TV dan dibuat bosan setengah mati ole percakapan dan nasehat nenek yang entah berapa puluh kali sudah diulangnya, tapi sebagai cucu yang baik, setidaknya seperti itu kata nenek, aku tetap mendengarkan dan sesekali bertanya untuk menunjukkan kontribusiku pada rencananya yang bertujuan membuatku menjadi anak yang baik dan berbakti.
   7 menit lagi pukul 7 malam, kebetulan sekali bang Fad baru saja turun dari tangga, dan langsung keluar dari rumah, tentu saja aku mengikutinya, dan tentu saja meminta sedikit uang jajan sama nenek.
.....

"Jadi apa rencanamu?"
"Meminjam kunci motor bang Billy"
"Loh bukannya abang sudah hampir 1 jam dikamar ayah?"
"Iya, kata ayah dia mau makai mobil pergi kerumah temannya"
"Ooh, yaudah aku udah ada uang bensin"
"No..no..no" bang Fad menunjukkan tiga lembar kertas merah
"Uang siapa?"
"Uang taksi tadi pagi ditambah sisa dompetku"

   Kami menuju garasi sebelah kiri, yang belum dikunci karena belum waktunya (garasi dikunci pukul 11 malam), dan bang Fad yang membawa motornya, dan kamipun bergerak perlahan menjauhi rumah nenek.
   Kami tidak langsung pergi ke lokasi pintu itu, tetapi harus mengisi bensin, dan kami lupa kalau ini malam minggu, perlu waktu 15 menit sampai tiba giliran motor kami.
.....
   Sejujurnya aku sedikit takut kami mengemudi di jalan lintas di jam-jam malam, karena ramainya mobil dan jarang ada motor, meskipun kami berdua memakai helm, itu tidak bisa memastikan kalau kami masih hidup jika sampai bertabrakan dengan....ya Tuhan, kenapa aku memikirkan yang aneh saat diperjalanan.

"Pelan dikit bang!" Teriakku, karena suaraku di kecepatan 100km/jam hampir tak terdengar.

   Dilihat dari cara bang Fad mengemudi, aku curiga kalau dia punya cita-cita di hati kecilnya yang tak tersampaikan, yaitu menjadi pengikut rossi, caranya menyelip dan menyalip tanpa banyak menurunkan kecepatan sering sekali membuat jantungku hampir copot, tapi aku tidak mau berpikir yang macam-macam malam ini.

"Berapa menit lagi?!!"
"Apaa???"
"Berapa menit lagi?!!" Ulangku,
"Apanya??"
"Kita sampai!?"
"Sampai? Oohh sampai, mungkin 10 menit lagi, jangan banyak bertanya aku lagi mengemudi!!"

   Setiap 10 meter ada dua mobil yang berpapasan dengan kami, karena banyak yang ingin pulang kampung di hari libur ini, kebanyakan dari pengemudi mobil suka menyorotkan lampu jauh, dan anehnya ketika kami sudah hampir berpapasan dengannya.
   Dannn....50 meter lagi adalah lokasi yang dituju, tapi tunggu...

Kenapa ada mobil inova hitam yang dipinggirkan di dekat pintu itu?