Sesampainya di depan pintu rumah pak Joko, Ayah Aaron langsung mengetuk pintunya, "Pak Joko?" kata pak Aaron berulang kali, lalu terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah tersebut, dan kini berubah menjadi suara kunci membuka, dan setelah pintu tersebut terbuka, "Eh kamu bar, ooh iya iya silahkan masuk, aduhh masih berantakan ini" kata yang ternyata adalah pak Joko sambil mempersilahkan keluarga itu duduk di ruang tamunya yang sederhana namun penuh seni itu, sementara ia pergi sebentar ke kamarnya, lalu datang seorang wanita tua ke ruang tamu tersebut, "Eh bu, apa kabar?" langsung ditanya Ibu Aaron kepada istri pak Joko itu, "baik kok, aduh maaf ya masih berantakan" kata istri pak Joko itu sambil merapikan taplak meja ruang tamu itu sambil dibersihkan dengan kemoceng, "Oalah Bu, gapapa kok, kami juga langsung datang aja pas Ibu dan Bapak baru pulang" kata Ibu Aaron, sementara tiga adik Aaron cuma diam saja. Pak Joko kemudia duduk disamping pak Akbar kemudian mulai bercerita,
"Jadi gini, 70 tahun yg lalu, ada seorang anak yang juga jatuh ke dalam jurang itu, saat itu ia sedang ikut bersama ibunya mencari kayu bakar dihutan, pagi itu benar-benar merupakan pagi yang mengguncang desa ini, aku waktu itu masih berumur 7 tahun juga sama dengan anak kecil itu, dia adalah teman bermainku, namanya Badri, dia adalah anak dari sesepuh kita Taruman" belum selesai pak Joko berbicara, pak Akbar langsung memotong dengan pertanyaan,"Taruman? Sesepuh yang sakti mandraguna itu? Kenapa dia tidak bisa menemukan anaknya?", pak Joko diam sejenak, lalu melanjutkan "Pernah sebentar ia bertemu dengan anaknya itu, namun itu pun dalam raga sukma nya, si Anak masih hidup dan sudah besar, didalam sana ada ular yang sangat besar yang dulu sering dijumpai dihutan desa ini, namun sudah lebih 30tahun ular itu tak pernah muncul lagi, sebenarnya jurang itulah pusatnya misteri-misteri dunia ini, kemungkinan besar jurang itu masih menyimpan banyak makhluk prasejarah, aku sewaktu umur 20tahun juga pernah lewat kesana suatu malam dengan 3 orang temanku untuk sekedar berburu dihutan, kami menjumpai makhluk seperti kucing yang besar muncul dari jurang itu, kami pun lari, ketika melewati jembatan layang yang menghubungkan desa ini dengan hutan itu, makhluk itu menghilang, juga sekitar 30tahun silam, ketika aku ditugaskan dari sekolahku yang berada di kota untuk mengobservasi isi-isi hutan ini, sore itu kami satu kelompok ada 8 orang, ketika salah satu dari anggota kami penasaran dengan jurang itu dan melihat kebawah, dia langsung lari kearah kami dengan nafas yang masih cepat-cepat, mengatakan kalau dia melihat ada sejenis burung yang sedang terbang ke arah kami, benar saja, sebelum kami mengira-ngira apakah itu, hewan seperti burung pada zaman dinosaurus itu muncul dari dalam jurang itu, teriakannya sangat keras sehingga membuat orang-orang desa datang ke tempat kami, puluhan orang berusaha mengusir makhluk itu termasuk kami juga ikut membantu, satu dari mereka jatuh ke dalam jurang tersebut dan ketika itu pula burung itu masuk kembali ke dalam jurang itu, tidak ada bulu, tapi kami berhasil mendapatkan cukup banyak darah dan sisa potongan kulitnya, lalu kemudian kami meninggalkan desa ini malam hari ketika warga desa sedang berkumpul di rumah kepala desa, tidak ada satupun yang dirumah, semuanya ada di rumah kades tersebut, aku dan kawan-kawankupun pergi ke kota malam itu untuk kemudian membawa sample dari makhluk itu pagi harinya disekolahku, kata guru dan orang yang ada di labor itu makhluk itu diperkirakan telah hidup 500juta tahun yang lalu, dan merupakan spesies pterodactyl, sample itu kemudian diawetkan dan sampai sekarang masih ada disekolah ku itu, dan setelah itu, 1 tahun setelah aku tamat dari sana, ternyata sekolah itu juga menugaskan kelompok pelajar tahun itu untuk observasi di hutan ini, dan hasilnya adalah hilangnya satu anggota dari kelompok itu, suasana desa kembali memanas, sampai akhirnya kasus ini ditutup dan hutan itu telah menjadi hutan larangan selama 5tahun, baru setelah tidak ada lagi kejadian, hutan itu dibolehkan kembali untuk umum ketika umurku sudah 30tahun, dan kasus Aaron ini adalah yang pertama kali sejak hari itu, tapi aku bisa memastikan bahwa Aaron masih hidup".
Rabu, 02 Desember 2015
Dunia Dalam Jurang 9
Selasa, 01 Desember 2015
Dunia Dalam Jurang 8
"Eh Adik, jangan berkeliaran, kamu dari mana saja?" Percakapan Ibu Aaron dengan adik Aaron, si adik hanya diam, "sudah ibu bilang, kakakmu itu sudah hilang, berhenti mencarinya, Ibu sama Ayah sudah pasrah dengan kejadian ini, nanti sore kita sama ayah pergi ke rumah Pak Joko, katanya dia mau cerita sesuatu" kata Ibu Aaron sambil mencuci piring. Sementara itu di sawah desa itu, Pak Akbar, ayah Aaron, sedang asik mencangkul sambil bencengkrama dengan teman-temannya, "Aaron itu anaknya kuat dan pemberani, aku yakin dia belum mati" kata ayahnya Aaron, "lah, dah jelas jurang itu dalam sekali bar, kau jangan gila, aku rasa Gatotkaca pun mati kalau masuk kesana" jawab temannya Pak Akbar yang juga sedang mencangkul, "dulu itu dari desa ini juga ada anak kecil yang jatuh kesana, aku gak tau kapan persisnya, tapi sepertinya sekitar 60-an tahun yang lalu, tapi kau akan berkunjung kerumah Pak Joko kan? Yaudah tanya ke dia saja, dia kan sedulur desa ini" lanjut temannya Pak Akbar tadi, Ayah Aaron itu hanya diam sambil sibuk mencangkul, entah apa yang ada dalam pikirannya, tapi matanya tetap memancarkan harapan.
Tak lama cuacapun mulai semakin panas, waktu sudah menunjukkan pukul 12.20, Pak Akbar dan teman-teman yang sama-sama bekerja di sawah mulai pulang kerumah masing-masing untuk mandi dan kemudian melaksanakan sholat Zuhur, dalam doanya Pak Akbar selalu berkata "Selamatkanlah anakku, aku ingin dia masih hidup dan bertemu dengannya suatu saat nanti". Kini tiba saatnya untuk keluarga Aaron makan siang, Ayah, Ibu, dan 3 Adik Aaron berkumpul di meja makan sedangkan adiknya yang satu lagi, Rama, anak kedua dari 4 bersaudara itu belum pulang dari sekolahnya, "sepi ya kalau gak ada kak Aaron" kata Adiknya Aaron yang belum juga makan dari tadi, "sepi gimana?dia juga jarang sekali ada di jam-jam segini, kalau pulang selalu nongkrong dulu" jawab Ayahnya Aaron, "kamu makan dulu" kata Ibunya yang dari tadi memperhatikan Adik Aaron yang sedari tadi hanya melihat piring didepannya itu, "Sudah kamu jangan sedih, nanti kan kita kerumah Pak Joko, siapa tau nanti perbincangannya positif, atau minimal ada harapan bahwa kakakmu itu masih hidup" Ayahnya Aaron mengatakan sambil mengunyah makanannya, sementara 2 adiknya yang lain hanya diam, karena memang mereka tidak banyak bicara, tidak seperti 3 kakaknya yang suka sekali berdebat, tapi memang benar, suasana dirumah itu menjadi sepi, walaupun Televisi dan Radio sedang diputar, tidak ada suasana 'ramai' dalam rumah tersebut. Setelah selesai makan, 3 Adik Aaron beranjak ke kamar masing-masing, dan Ayahnya pun beranjak dari meja makan kemudian berbaring di depan televisi, sedangkan Ibunya Aaron mengangkat piring-piring makan tadi ke tempat cuci piring, tidak lama kemudian masing-masing anggota keluarga sudah tertidur di tempatnya, kecuali Ibu Aaron, yang sedang duduk di kursi teras sambil memandang orang-orang yang lalu lalang, ditempat itu biasanya Aaron dan Ibunya bercerita, Ibunya teringat Aaron sangat senang menceritakan tentang kenakalannya, serta kadang membangga-banggakan dirinya, Ibunya merasakan seolah-olah hal itu sedang terjadi, dia menoleh ke kursi sebelahnya tempat Aaron biasa duduk sambil tersenyum sambil memandang mata Aaron dalam imajinasinya tersebut, bayangan Aaron masih terlalu kuat untuk hilang di keluarga itu, bahkan ibunya masih bisa mendengar dan merasakan jelas suara-suara Aaron ketika berada di kursi itu, tak terasa, air mata mengalir dari mata kiri Ibunya, walaupun diluar dia tampak tegar, namun didalam ia sungguh rapuh, Aaron bukanlah pemuda yang biasa, bukan hanya dirumah itu, bahkan didesa itu bayangan Aaron masih kuat sehingga kadang teman-temannya masih bisa 'mendengar' tawa Aaron yang keras itu, suara ketika ia menyanyi untuk menghibur pemilik kedai agar mau memberinya mi goreng gratis, orang-orang Desa itu juga sering berhalusinasi ketika mendengar seseorang yang berbicara terlalu keras dan menyangka itu adalah Aaron, ketika malam, saat berbicara tentang misteri-misteri, mereka teringat Aaron, karena dialah yang paling bersemangat dalam perbincangan itu, dia juga nanti pada akhirnya mendominasi pembicaraan itu, warna yang Aaron berikan masih terlalu kuat untuk pudar didesa itu.
Dunia Dalam Jurang 7
Tugas bulan kini telah berganti shift oleh matahari untuk menerangi bumi, belum ada terdengar kokok ayam, sunyi nya sama seperti ketika bulan sedang bertugas, meskipun jauh didalam, matahari tetap mampu menjangkau dunia dalam jurang dengan cahayanya, biasanya sudah terdengar suara orang-orang mengobrol dan beraktifitas,mengingat ini sudah pukul 6.45 pagi, disini aneh sekali, tidak ada suara apapun diluar sana, terkecuali suara dari aktifitas seorang kakek yang sedang berada dibelakang rumahnya, dan suara dengkur anak muda yang masih belum terbangun dari tidurnya.
"Hey nakk, bisakah kau kecilkan sedikit suara berisikmu itu?" Tanya sang kakek yang sedang sibuk menyiapkan minuman di belakang, sementara Aaron masih asik dengan kursi sandarnya yang berada diruang tengah, "Kalau tidak kusihir kau jadi hewan aneh" sang kakek melanjutkan, lalu sang kakek berkata dengan suara yang sedikit keras "Sepertinya ada sesuatu yang akan datang, heyyy makhluk disana, jangan coba-coba kau berani mengangguku, kalau mau, ambil saja anak ini", Aaron masih tetap pada posisi dan suara dengkurnya, "Tidaak!!Jangan bunuh aku!! Kalau mau ambil saja anak yang sedang tidur itu!" Kata sang kakek dengan nada yang cukup keras sehingga membangunkan Aaron, Aaron dengan kondisi setengah sadar berkata "yah,bu, mana sarapanku?", Sang kakek yang mendengarnya hanya diam, lalu Aaron mengubah posisinya untuk duduk dari bersandar tadi, "Kek, jadikah kita kerumah manusia disini? Aku bosan melihat satu manusia saja" kata Aaron dengan nada yang masih sedikit mengantuk, lalu sang kakek berjalan ke arah Aaron sambil memegang dua gelas yang berisi teh rosebud, lalu memberikan satu kepada Aaron, "minumlah racun ini" kata sang kakek dengan sedikit tertawa, "Oke, terimakasih bro" jawab Aaron yang juga sedikit tertawa.
"Bersiap-siaplah, kita akan pergi keliling daerah ini"sang kakek berkata sambil mencuci gelas di belakang, lalu ia melanjutkan "senapan yang kau bawa kemarin, simpan lagi ditempat kau mengambilnya, tukar dengan senjata tajam saja, untuk jaga-jaga", Aaron pun pergi ke belakang tempat ia mengambil senapan kemarin, lalu mengambil satu senjata seperti kikir, lalu berjalan kearah pintu depan, dan selang beberapa menit setelah sang kakek telah menyelesaikan semua kegiatannya, "ini kalungmu, pakailah" kata sang kakek sambil memberikan kalung dengan mata gigi mngwa yang dibunuh tadi malam, Aaron pun mengambilnya lalu mengalungkannya, "wahh sudah kayak preman nih gaya aku kek hahaha" kata Aaron, "Disini tidak ada preman, yang ada hanya orang-orang beriman" kata sang kakek bercanda sambil mengunci pintu depannya, "kau sepertinya orang yang bisa bertarung ya?" Tanya sang kakek sambil mengarah telapak tangannya ke wajah Aaron, seperti orang yang ingin menghipnotis, "Ayah ku guru beladiri, jadi aku juga sedikit paham tentang cara membuat seorang manusia tua untuk diam" jawab Aaron bercanda, "hahaha, ada juga gunanya aku membawamu kedunia ini ya, bisa jadi penjaga aku, ya nanti upahnya kukasih makan lah kau" sang kakek menjawab candaan Aaron sambil merangkul pundak anak muda itu dan mulai berjalan beranjak meninggalkan rumah itu.
Dunia Dalam Jurang 6
"Kenapa? Kau pasti rindu dengan keluargamu, kan?" Tanya kakek seolah tau apa yang sedang bergejolak dalam hati pemuda itu, Aaron mengangguk, "Aku sejak masuk disini tidak pernah lagi bertemu keluargaku, sebaiknya kau istirahat, sekarang sudah hampir pagi" kata sang kakek, Aaron yg posisinya bersandar dikursi tua bertanya "aku tiba-tiba saja teringat mereka, ada penyesalan dalam diriku, seharusnya aku tidak melanggar apa yang telah dilarang", "Jika suatu saat nanti kau ingin keatas sana, barangkali makhluk disini ada yang bisa membantumu" jawab sang kakek yang sedang membuat kalung dari gigi mngwa tadi, "maksudmu?" Tanya Aaron singkat, "disini ada ropen, burung pterosaurus yang cukup besar, tidak bisa juga sembarangan, hanya ropen yang disihir lah yang bisa membantumu" Perkataan sang kakek meninggalkan wajah bingung di muka Aaron, sang kakek melanjutkan "disini juga ada penyihir, mungkin orang-orang yang sudah dari dahulu sebelum kakek jatuh kesini, entah darimana asal mereka, mereka bisa menyihir manusia menjadi binatang, binatang yang disihir mampu berbicara, atau minimal mengerti ucapanmu", "jadi disini juga banyak manusia?" Tanya Aaron yang langsung duduk tegak dari posisinya yang bersandar tadi, "Benar sekali, tidak hanya satu jurang yang seperti ini, ada banyak jurang-jurang disana yang juga mempunyai cerita yang hampir sama, orang-orang yang juga jatuh dan kebetulan hidup, berkelana dan tak jarang banyak yang sampai kesini, besok pagi kakek akan mengajakmu pergi kerumah manusia didaerah sini, tapi dengan syarat kau harus tidur" kata sang kakek yang masih sibuk dengan kerjaannya, Aaron tidak menjawab apa-apa, kembali bersandar dan memejamkan mata, tapi pikirannya belum bisa berhenti memunculkan berbagai pertanyaan dan bayangan yang muncul, hatinya masih ada di atas sana, entah apa sekarang yang sedang terjadi dengan dunia diatas sana, tetapi pikiran-pikiran ini perlahan mulai hilang seiring kesadaran Aaron diantar menuju ke alam mimpi.
Senin, 30 November 2015
Dunia Dalam Jurang 5
"Kau bisa duduk disini, disini tempat kakek biasa menghabiskan waktu kala tidak ada kegiatan" sang kakek memegang pundak Aaron sambil menyuruh Aaron duduk dikursi tua dengan sandaran badan serta kaki dengan gerakan tangannya, "Malam-malam disini tidak sama dengan malam yang biasa kau lewati diatas sana, nak" kata sang kakek sambil duduk di kursi kecil tepat didepan Aaron.
"Emang kena.." Sretttttt, terdengar bunyi yang tidak tahu dari mana, bunyi itu langsung memotong pertanyaan yang baru saja ingin Aaron katakan dan meninggalkan wajah cemas di muka Aaron.
"Sudah kakek duga, makhluk disini pasti penasaran dengan pendatang baru"jawab sang Kakek dengan nada tenang namun menegangkan.
"Kau tetap disini" kata sang kakek lalu bergerak dengan cepat kebelakang, tampaknya iya mengambil sesuatu.
Tak berapa lama sang kakek kembali, "Jangan bersuara, ini tidak akan apa-apa" kata sang kakek yang sedang membidik ke arah pintu dengan senapannya.
Segera saja terdengar bunyi langkah kaki yang tampak aneh, seperti bukan manusia, terlebih datangnya dari dua arah, Aaron tampak ingin beranjak dari tempat ia berada, namun dengan isyarat tangannya sang kakek menyuruhnya untuk tetap disana.
"DUAR!" sang kakek menembakkan senapannya yang tampaknya tidak mengenai apapun, suasana menjadi hening seketika, lalu sang kakek secara perlahan berjalan ke arah pintu, sambil tetap dengan posisi bersiap untuk menembak,"kau pandai menembak, nak?" tanya sang kakek sambil tetap memidik kedepan, "aku sering menembak cicak waktu kecil" jawab Aaron polos, "sekarang kau pergi kebelakang dan ambil senapan yang kecil, aku juga tidak bisa memastikan bahwa kau akan selamat malam ini" lanjut sang kakek, nadanya menciptakan suasana mengerikan.
Aaron pergi kebelakang dengan tergesa-gesa, lalu membuka kotak yang cukup besar, dia langsung terkejut, "banyak kali senjata si kakek ini" gumamnya, diapun segera mengambil senapan kecil berwarna hitam yang ada dalam kotak itu. Segera dia kembali kedepan, dan tiba-tiba wajahnya berubah pucat, ketika dia melihat sang kakek tidak ada disana, pintu depan itu terbuka, dan senapan sang kakek terlihat ada diatas lantai kayu rumah tua itu.
Rabu, 26 Agustus 2015
Kajian maksud Lambang dari Psikologi (Kajian sendiri tanpa melihat referensi manapun)
Aku baru pertama kali tau, kalau simbol psikologi itu bentuknya seperti trisula atau lambang neptunus, itupun taunya karena masuk kuliah di Fakultas Psikologi, neptunus? kenapa harus lambang ini? aku belum pernah mencari tau mengapa harus seperti ini lambangnya, tapi ini adalah sedikit yg aku tahu :
Neptunus adalah lambang dari Intuisi, imajinasi, fantasi, dan lain-lain, dalam manusia, neptunus mengatur bagaimana kita merasakan orang lain, membentuk pikiran kita sendiri, dan kadang neptunus juga mengarah ke kekuatan batin, orang yang banyak nampak/dominan ciri-ciri neptunus nya akan tampak seperti orang yang, kalau bahasa kekiniannya baper wkwk, kemampuan dari neptunus dalam diri manusia juga berpengaruh untuk mengartikan perasaan orang lain, meskipun orang itu tidak berbicara ataupun menunjukkannya, neptunus sepertinya mempunyai motto, kalau kita ni semuanya terhubung, dalam tingkat ekstrem, kadar neptunus dalam diri seseorang akan menjadikan orang tersebut indigo, atau waskita, yang mungkin akan mempunyai kemampuan clayvorance ( bener gak sih ini tulisannya ) yaitu kemampuan untuk melihat warna aura dari sesuatu, entah itu manusia, hewan, tumbuhan, bahkan benda mati sekalipun, tingkat yang cukup tinggi dari kadar neptunus juga memungkinkan orang untuk mengetahui asal usul dari seseorang, problem, serta bakat-bakat mereka tanpa tes, quesioner, atau formalitas lain untuk mengetahui pribadi orang, cukup dengan melihat wajah atau keseluruhan tubuh dari seseorang saja, PR nih, kemampuan ini ada namanya, cuma aku juga lupa hehehe. Nah mungkin kemampuan tinggi dari neptunus dari sisi seseorang itu yg membuat mereka jadi psikolog handal, bakat-bakat itu kadang adalah bawaan dari lahir, walaupun beberapa ada yang melalui tempahan (belajar dan pengalaman). Sekarang kita bahas, apa jadinya jika neptunus dalam diri seseorang itu kurang? Mereka akan menjadi orang yg tidak/kurang peka, lemah fantasinya, untuk tingkat yang ekstrem, memungkinkan seseorang untuk menjadi psikopat dan masalah-masalah psikologis lainnya, beberapa bisa diarahkan dan dibentuk kembali agar menjadi pribadi yg lebih baik, tapi beberapa lagi hampir tidak bisa, inilah mungkin ada dalam diri seorang serial killer,yang dimana pribadi itu sudah ditakdirkan (mungkin), orang jahat akan menjadi jahat bagaimanapun keadaan, cara kita melakukannya, ataupun lingkungannya, begitu juga orang baik, kita tidak pernah tau, neptunus selalu hampir berkaitan hal-hal yg batin, dan kadang hampir mistik, sesuatu yang menantang itu akan aku pelajari dalam waktu 4 tahun ini, bagiku, psikologi sendiri bukanlah tujuan, tapi merupakan 'alat' untuk mencapai tujuan kita, karena didalamnya kita memahami diri sendiri dan orang lain, yang dimana skill ini sangat diperlukan untuk mencapai tujuan kita, tidak ada orang yg bisa sukses tanpa motivasi (diri sendiri) dan tanpa dukungan dan bantuan dari orang lain (orang lain).
"Pahami kekuatan dan kelemahan diri, pahami kekuatan dan kelemahan orang lain, 100 kali perang, 100 kali menang"
--Sun Tzu, Art of War--
Senin, 10 Agustus 2015
HIDUP ADALAH SELEKSI, Jangan dibaca kalau anda bodoh.
Kita berbicara tentang nasi goreng, ketika kita membuat nasi goreng, kita menuangkan nasi ke dalam kuali, tidak semuanya masuk, ada yg tertinggal di keranjang nasi tadi beberapa, dan yg masuk kemudian di goreng, diaduk-aduk menggunakan spatula, ketika diaduk, beberapa akan terlontar keluar, ada yg jatuh di bawah kuali, ada yg jatuh dekat gas elpijinya, ada yang jatuh di kaki-kaki pembeli dan pembuat, ada yg terlontar ke muka yang buat, ada yang terlontar ke muka yg beli, oke proses pengadukan sudah selesai, kini saatnya menuangkan nasi goreng ke dalam piring, saat di tuangkan, juga tidak semuanya yg masuk, ada yg tinggal di spatula, ada yg tinggal di kuali, ada yg tinggal di muka yg buat (dari tadi muka-muka terus-_-"). Saat telah tersaji di dalam piring, maka nasi-nasi pilihan siap masuk ke dalam mulut yang kemudian dicerna di dalam perut, namun, sekali lagi tidak semuanya yg dimakan, tergantung dari karakter yang makannya, tapi kebanyakan akan ada tersisa di dalam piring, di sendok, dan juga di muka yg makan (udah woi!!!), usai makan, piring diambil dan dicuci, nasi-nasi yang gagal seleksi tercampakkan, bertemu dengan nasi-nasi yang juga gagal seleksi, mereka sedih, untuk apa mereka harus hidup? untuk apa mereka tumbuh?untuk apa melewati berbagai proses yg begitu keras, yg sudah gagal dari pertama tidak terlalu sedih, yang paling sedih yaitu nasi yang sudah sampai dipiring, misi mereka adalah memuaskan, mengenyangkan kita dan kini mereka tercampakkan karena si pemakan sungguh mubazir, mungkin itulah mengapa kita disuruh menghabiskan nasi, karena kalau tidak, nasi itu akan 'menangis'.

