| sumber : http://www.troop641orlando.org/Day1CampFire.jpg |
Sabtu, 05 Desember 2015
Dunia Dalam Jurang 16
Jumat, 04 Desember 2015
Dunia Dalam Jurang 15
Dunia Dalam Jurang 14
"Perjalanan kali ini adalah perjalanan yang berbeda dari duniamu diatas sana bocah, ini perjalanannya orang-orang yang tangguh" kata sang kakek kepada Aaron, "Jangankan monster, kalian berdua saja bisa aku matikan" jawab Aaron mengarah ke sang kakek dan Haari, mereka berdua hanya tertawa dengan arti mencemeeh, perjalanan mereka ke danau sudah hampir tiba, dari kejauhan sudah tampak sebuah danau yang cukup luas dan indah, disekitarnya tumbuh pohon-pohon yang besar namun tidak terlalu tinggi, sangat rindang, cahaya matahari memancar ke permukaan danau tersebut lalu membiaskan warna-warni yang indah meski dilihat dari kejauhan, Aaron dan Haari hanya bisa memunculkan wajah yang terpesona ketika melihat danau itu, tidak ada kata-kata yang dapat mengungkapkan bagaimana indahnya danau itu, mereka bertiga terus berjalan mendekat ke danau itu, namun sang kakek yang berjalan didepan tiba-tiba saja memberi aba-aba dengan tangannya untuk berhenti, Aaron dan Haaripun berjalan ke samping sang kakek, dan melihat sang kakek dengan wajah terkejut menatap ke suatu titik di permukaan danau itu, "sesuatu yang indah tidak selalu benar keseluruhan, siapkan senjata kalian!" Kata sang kakek sambil memidikkan senjatanya ke depan, Aaron dan Haari sontak langsung mengambil senjata mereka dari tasnya masing-masing, Aaron memegang senjata api yang bagian belakangnya terbuat dari kayu, berwarna coklat dan mengkilap, sedangkan Haari senapan yang ujungnya diikat sebuah pisau, senjata Haari penuh dengan aksesoris yang tampaknya berasal dari sesuatu yang diburunya, sang kakek lalu memerintahkan kembali dengan tangannya untuk maju, lalu si kakek pun bersembunyi dibalik sebuah pohon yang jaraknya cukup dekat dari pinggir danau, "Ada apa kek?" Tanya Aaron polos, sedangkan Haari hanya diam saja sambil tetap fokus ke danau itu, seolah-olah sudah tahu apa yang sedang mereka hadapi, "kita kedatangan monster ular, namun tidak terlalu besar, kau tidak perlu takut, ini ular yang belum terlalu dewasa" kata sang kakek yang menyandarkan punggungnya ke pohon itu dan melihat kebelakang ke arah danau itu, persis seperti orang yang sedang berperang, benar saja, perlahan-lahan seperti ada yang bergerak dipermukaan danau itu, Aaron tidak menyangka karena dia telah melihat seekor ular yang besarnya kurang lebih 10 meter berenang didanau itu dan perlahan-lahan mendekat ke arah mereka! Dalam hatinya Aaron berkata "kalau yang belum besar saja segini, seperti apa yang besarnya".
"Dor!!" Tembakan pertama di lakukan oleh kakek itu dan membuat ular itu mengeluarkan suara yang sangat keras, "Duar!Duar!Duar!" Suara tembakan Haari terdengar lebih keras daripada sang kakek, dan dilakukan tiga kali, setelah tembakan yang dilakukan oleh Haari, ular itu tampak hilang di permukaan danau itu, tidak ada tanda-tanda kemunculan ular itu dalam beberapa detik,suasana semakin menegang, sementara mereka bertiga tetap dalam posisi membidik, tiba-tiba terlihat riak air di pinggir pas didepan pohon dimana mereka bertiga berada, "mundur!mundur!" Teriak sang kakek sambil mendorong-dorong Haari dan Aaron untuk bergerak mundur kebelakang, "Dashh!!!" Hanya kurang sepersekian detik saja, mereka bertiga mungkin akan mati karena pohon dimana mereka berada sebelumnya tadi tiba-tiba tumbang, "Duar!!!" Haari menembakkan senapannya kearah pohon itu, posisi Haari berada didepan sedangkan Aaron dan kakek itu berada dibelakangnya, muncul kepala ular dari balik batang pohon yang tumbang itu dan dengan sangat cepat bergerak kearah mereka, "Haari!" Teriak sang kakek sambil merangkul Aaron dengan sebelah tangannya seolah menginstruksikan untuk mundur lagi, mereka berdua pun mundur beberapa langkah lagi, ular tadi menyerang Haari dengan sangat cepat, Aaron dan sang kakek tidak tahu apa yang terjadi kepadanya, mereka hanya diam sambil tetap membidik ke arah pohon itu, tiba-tiba mereka dikejutkan karena kepala ular tadi kini bergerak ke arah mereka dengan cepat, sang kakek dan Aaron pun spontan melepaskan tembakan ke arah kepala ular itu, lalu sang kakek menghindar ke arah kiri dan Aaron ke arah kanan untuk menghindari kepala ular itu, setelah jatuh ditanah, wajah Aaron dan sang kakek tampak bingung melihat kepala ular itu, sebab hanya kepalanya saja, badannya tidak ada"ambil saja kepalanya kalau kau mau" kata seseorang yang ternyata adalah Haari yang berjalan ke arah mereka sambil membidik kearah Sang kakek, lalu bergerak membidik Aaron, dengan senyumnya yang tampak mengerikan itu dan tatapan matanya, "aku mengikatkan pisau diujung senapanku, karena bagaimanapun kita pasti akan diserang dari jarak yang dekat" kata Haari sambil mengusap-ngusap mata pisau yang berada di ujung senapannya itu, sang kakek dan Aaron hanya bisa menggeleng-gelengkan melihat kelakuan teman mereka itu, "apa kau jadi mencari ikan disana?" Tanya Haari, sang kakek lalu mengangguk dan berjalan kembali mendekati danau itu, Aaron dan Haaripun mengikutinya, Aaron masih bercampur-campur emosinya, antara takut, kagum, bangga, dan bingung dengan apa yang barusan ia lihat tadi, Haari berjalan dengan santai tanpa kuda-kuda membidik, namun sepertinya ia tetap mengawasi sekeliling, sama halnya dengan sang kakek yang selalu awas dengan sekelilingnya, mungkin seperti itulah mereka, seorang pemburu haruslah awas terhadap sekelilingnya.
Dunia Dalam Jurang 13
Dunia Dalam Jurang 12
Kamis, 03 Desember 2015
Dunia Dalam Jurang 11
Sementara, ketika bulan baru menjalankan tugasnya untuk mendampingi bintang-bintang di malam hari, cahaya sanggup menembus, menerangi, dan memperindah suatu dunia jauh dibawah sana, meskipun ia terlihat lebih kecil, ia tetap dapat menjangkau dunia itu dengan cahaya yang dipinjam nya oleh sang mentari.
"Gimana? Kau memang harus belajar untuk bisa beradaptasi disini, kita tidak akan menuju rumah kali ini" kata seorang kakek yang sedang berjalan dimalam itu bersama seorang pemuda yang baru baru dikenalnya, lalu pemuda itu berkata "lalu kita kemana orang tua?", sambil tersenyum orang tua itu menjawab "akan kubawa kau ke pasar disini", "loh? Emang ada pasar buka malam-malam gini?" Tanya pemuda itu dengan wajah yang heran, "sudah ikut saja, tapi ingat, kau tidak boleh ngomong sembarangan" jawab si kakek dengan memperlambat intonasi bicaranya, "apa maksudmu?" Tanya pemuda itu, "kau tidak boleh mengatakan turunin harganya, kau tidak boleh berkata beli 3 gratis 1, terlebih kau sangat dilarang untuk berkata gratis" kata si kakek, lalu si kakek tertawa setelah mengatakannya, sang pemuda bernama Aaron itu hanya cuek sambil memandang ke depan dengan wajah kesal, "hei hei, kau ini gampang emosian ya?" Kata si kakek sambil memegang kepala Aaron, lalu mereka pun berjalan terus ke arah timur.
Terdengar suara ramai seperti orang berbicara, seperti suara pasar, "Nah sebentar lagi kita sampai, itu sudah terdengar suara-suara ramai" kata si kakek sambil menunjuk ke arah atas seperti menyuruh untuk memusatkan perhatian, "suara manusia itu kek?" Tanya Aaron, si kakek hanya diam, mereka pun meneruskan perjalanan mendekati sumber suara keramaian itu, selang beberapa saat, tibalah mereka di pasar yang isinya didominasi manusia, "kita akan menginap disini malam ini" kata si kakek sambil memegang pundak Aaron, "kenapa disini ada banyak sekali manusia" kata Aaron sambil menoleh ke arah sang kakek, sang kakek lalu menjawab "mereka menjual berbagai hasil buruan mereka dan disini juga dijual beragam bagian tubuh dari makhluk-makhluk cryptid, kita bisa membelinya, ayok pilih saja yang mana kau mau", "terus disini bayarnya pakai apa?" Tanya Aaron sambil mengikuti si kakek yang berjalan dengan cepat didepannya.
"Aku mau kalung dari gigi ropen, ada?" Tanya kakek ke salah satu penjual, "kau bisa ke penjual yang disana, gigi ropen tidak sembarang menjualnya, butuh pengorbanan nyawa untuk berhadapan dengan ropen" jawab si penjual yang menunjuk ke arah penjual yang berada 3 blok disampingnya, lalu si kakek berjalan ke arah penjual itu, sedangkan Aaron hanya mengikut saja, "haloo kakek, apa yang kau cari?" Tanya penjual itu, "aku mau ini" jawab si kakek sambil menunjuk sebuah gigi yang besarnya dua kali lipat telapak tangan manusia, berbentuk segitiga sama sisi yang sangat runcing, "Ahh, itu barang langka, apa kau benar-benar berniat membelinya?" Tanya penjual itu sambil mengusap-ngusap kepalanya, "aku bisa membuat ini sebagai malam terakhirmu dan aku yang menggantikan tugasmu besok disini sambil menjual bagian-bagian tubuhmu" kata si kakek sambil menatap tajam ke arah penjual itu, penjual itu pun menatap tajam ke arah si kakek "kelompok kami harus mengorbankan nyawa untuk mendapatkan satu buah gigi ropen, kami menjualnya dengan 20 gigi mngwa" kata penjual itu, "oke baik lah" kata sang kakek sambil mengeluarkan sesuatu dari tas kecil yang biasa dibawanya itu, lalu menaruh banyak sekali gigi mngwa didepan penjual itu, Aaron yang melihat itu kaget tetapi hanya memelototkan matanya, "kau pemburu yang hebat" kata si penjual sambil mengambil gigi-gigi itu, si kakek pun mengambil gigi ropen itu sambil berlalu meninggalkan penjual itu, Aaron masih diam saja sambil terus mengikutinya, belum ada terdengar suara dari Aaron, dia hanya bingung untuk apa sebenarnya gigi ropen itu, mengapa sang kakek rela membayar mahal untuk itu.
Rabu, 02 Desember 2015
Dunia Dalam Jurang 10
Suasana rumah itu langsung berubah menjadi tegang ketika pak Joko berkata seperti itu, terlebih pak Akbar, terdapat beragam emosi yang terlihat dari wajahnya, "itu benar kan,Pak?"tanya pak Akbar, sambil memandang mata pak Akbar dengan tatapan yang dalam, dia mengangguk sedikit, lalu berkata "sebenarnya tidak ada yang mati jika jatuh kesana, hanya saja, mereka masuk ke dalam dunia dimana evolusi tidak ada, mereka akan menemukan manusia-manusia purba, binatang purba, tumbuh-tumbuhan yang telah hidup ratusan juta tahun yang lalu, Aaron mungkin saja bertemu dengan Badri, atau mungkin warga desa yang dulunya pernah jatuh kesana, jika Aaron bertemu dengan Badri maka selamatlah ia, Badri adalah anak dari seorang ayah yang sakti mandraguna, konon taruman mampu membunuh singa dengan 1 tamparan, dan ketika dia menendang pohon, pohon itu akan tercabut akar-akarnya sehingga pohon itu pun roboh, taruman mempunyai 3 anak, 2 laki-laki termasuk Badri, dan satu lagi Sridewi, yang merupakan dukun wanita pertama yang ada didesa ini, dia adalah adik badri, aku tidak tau dimana dia tinggal, tapi kabarnya dia tinggal bersama keluarganya di kota yang cukup jauh dari sini" tiba-tiba pak Akbar memotong "apa bapak bisa membantu kami untuk menemukan Sridewi?", Pak Joko tampak berpikir sejenak, lalu berkata "jika satu manusia terhubung dengan manusia yang lain, maka tidak ada yang tidak bisa kita cari, semua itu tergantung kepekaan batin saja", Pak Akbar tampak masih bingung, wajahnya seakan berbicara, "aku harus menemukannya karena dia pasti tau bagaimana kondisi anakku", sementara Istri Pak Joko datang membawakan minuman, "gak usah repot-repot, bu" kata istrinya pak Akbar, sementara Adik-adik Aaron hanya senyum sambil menerima minuman itu.
"Aku bisa membantumu untuk melihat bagaimana kondisi Aaron, tapi bukan untuk mempertemukanmu kepadanya" kata pak Akbar, "Tidak apa-apa, Tidak apa-apa" langsung dijawab pak Akbar dengan suara yang seolah-olah penuh harap, "oke, aku akan ritual nanti malam dan akan kukabarin pak Akbar besok, sekarang ayo kita minum dulu" kata Pak Joko sambil senyum melihat satu per satu anggota keluarga pak Akbar, "yuk mari" kata pak Joko, lalu meminum minumannya.
Setelah sudah hampir malam, keluarga Aaronpun berpamitan untuk pulang ke keluarga Pak Joko, "terima kasih pak,bu, maaf kami ngerepotin ya" kata pak Akbar sambil menyalami pak Joko dan istrinya, "kami pamit dulu ya" lanjut ibu Aaron, "ah, gapapa kok, sesekali berkunjung sekalian memperkuat tali persaudaraan kita" kata pak Joko sambil sedikit tertawa, sementara istri pak Joko hanya tersenyum, keluarga Aaron pun melangkahkan kaki meninggalkan rumah Pak Joko dan berjalan ke arah rumah mereka, disela-sela perjalanan, ibunya Aaron bilang "Yah, sudah sedikit berkurang rasa cemas ibu karena mendengar berita bahwa Aaron tadi masih hidup", "yaaa semoga aja apa yang dibilang pak Joko tadi benar ya bu" jawab pak Akbar, sementara bulan sudah muncul dilangit, menerangi perjalanan sebuah keluarga yang hatinya masih penuh dengan pertanyaan, dari atas mereka tampak seperti sesuatu yang misterius, mengingat belum lengkapnya lampu penerangan jalan di desa itu, jadi ada jalan-jalan khusus yang benar-benar gelap sekali, tidak pernah ada bahaya yang ditimbulkan oleh manusia seperti maling, pembunuhan dan lain-lain di desa itu, kecuali disebabkan oleh sesuatu yang berada di dalam jurang sana.
