Sabtu, 05 Desember 2015

Dunia Dalam Jurang 16


sumber : http://www.troop641orlando.org/Day1CampFire.jpg
“Sekarang masih pagi, jadi makhluk-makhluk berbahaya yang tinggal disekitaran sini belum aktif” kata sang kakek ke Haari sambil tetap memotong hasil buruannya itu.
“Lagi pula, aku juga ingin melihat bagaimana anak itu merespon jika ada sesuatu yang menyerangnya” lanjut sang kakek.
“Kalau aku lihat-lihat, kau dan Aaron mempunyai suatu hubungan” kata Haari yang juga sibuk memotong hasil buruan si kakek itu.
“Hubungan? Hubungan seperti apa maksudmu?” tanya sang kakek sambil tetap memotong-motong ikan yang cukup besar itu.
“Yaa mungkin hubungan jauh, yang jika saudara-saudaramu saling dikaitkan, akan bertemu dengan salah satu saudaranya” jawab Haari.
“Kau sebenarnya pemburu apa peramal?”tanya sang kakek sambil menggelengkan kepalanya, sambil tetap asik memotong sturgeon itu.
“Aku seorang pemburu, tapi aku kadang sering dapat pencerahan” jawab Haari yang berbicara sambil senyum melirik arah si kakek, menghentikan aktifitas memotongnya, si kakek hanya diam.
Haari pun kembali memotong-motong daging ikan itu, dan tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka berdua setelah Haari bicara tadi,selang beberapa menit, datanglah Aaron dengan membawa setumpuk kayu yang tidak terlalu tebal di sebelah tangannya, sedangkan tangannya yang satu lagi menenteng senapan. Tubuhnya penuh keringat, pakaiannya basah dan sedikit kotor, sang kakek dan Haari hanya melihat sambil tersenyum ke Aaron, lalu Aaron pun meletakkan tumpukan kayu yang dibawanya itu di bawah pohon tempat mereka berteduh, lalu bersandar ke pohon itu, kepalanya mendongak ke atas dan matanya dipejamkan, nafasnya cepat-cepat seperti orang yang baru selesai kompetesi lari jarak 100m.
“Kau masih butuh waktu untuk memperkuat fisikmu, anak muda” kata sang kakek yang masih juga sibuk memotong-motong hasil buruannya itu.
Sementara Aaron hanya diam tidak menanggapi sang kakek, yang dia lakukan hanyalah bersandar di pohon itu sambil mengatur nafasnya,setelah cukup lama memotong-motong, akhirnya memisah-misahkan bagian dari ikan sturgeon itu, lalu kulit-kulit itu di taruh di atas tikar kulit yang dari tadi sudah mereka siapkan, Haari pun mengambil kayu yang berada disamping Aaron yang sedang beristirahat di bawah pohon itu, lalu menaruhnya di depan sang kakek, setelah itu ia mengeluarkan dua buah batu yang lumayan besar, kemudian dia membenturkan batu itu satu sama lain berkali-kali diatas tumpukan kayu itu, setelah benturang yang kesekian kali, terciptalah api yang kemudian membakar tumpukan kayu yang berada di bawahnya.
“Saatnya makan!” kata Haari yang mengambil satu potongan kulit sturgeon dengan senapannya yang ujung dari senapan itu di ikat sebuah pisau, lalu mengarahkannya diatas api yang sudah membakar tumpukan kayu itu.
“Nak, kau tidak mau?” tanya sang kakek yang juga menusuk potongan kulit sturgeon itu dengan goloknya, lalu mengangkat potongan itu dan mengarahkannya ke atas bara api.
Aaron tiba-tiba berdiri, lalu berjalan ke tempat Haari dan kakek yang sedang asik membakar kulit sturgeon di atas bara api.
“Kau mau, nak?” tanya sang kakek yang sedang membakar sambil menoleh ke arah Aaron.
“Tentu aku mau, aku lapar” jawab Aaron yang kemudian duduk di samping Haari.
“Ini, pakai ini” kata Haari sambil memberikan sebuat pisau ke Aaron, kemudian Aaronpun mengambilnya dan menusuk salah satu diantara potongan daging sturgeon yang ukurannya besar-besar itu, lalu mengarahkannya ke atas bara api.
Hari sudah hampir siang, waktu sudah menunjukkan pukul 11 pagi, mereka bertiga asik memakan daging-daging sturgeon dibawah pohon yang rindang di tepi danau itu,belum ada monster yang terlihat di permukaan danau maupun disekelilingnya, daging yang mereka makan cukup besar dan banyak, jadi memakan waktu hampir 1 jam untuk menghabiskan semuanya, mereka bertiga tampak lahap memakan daging hasil buruan sang kakek itu, masing-masing sudah membawa minuman dari rumah saat mempersiapkan perlengkapan tadi, jadi tidak perlu lagi mereka merebus air untuk minum.
Setelah hampir satu jam mereka makan di tepi danau itu, kini Aaron, sang kakek, dan Haari membersihkan sisa-sisa tulang bekas mereka makan, lalu mereka bertiga pun sibuk mengemas barangnya masing-masing.
“Setelah ini kita akan pergi ke arah utara” kata sang kakek yang baru saja selesai mengemas barang-barangnya dan mulai menyandang ransel besar yang ia bawa dari rumahnya tadi.
“Emang kita akan pergi kemana?” Tanya Aaron yang juga baru selesai mengemas dan baru berdiri menyandang ranselnya.
“Kau bilang ke utara? Apa kau tidak takut dengan apa yang terjadi pada Aaron nanti?” tanya Aaron yang sedang jongkok masih sibuk mengemas-ngemas barangnya.
Mendengar itu Aaron pun mengenyitkan dahinya, seperti merasa tertantang oleh ucapan Haari yang barusan, sang kakek hanya diam sambil mengecek-ngecek senapannya, selang beberapa saat, Haari pun berdiri dan telah selesai mengemas barangnya, dengan tetap menenteng senapan andalannya yang penuh dengan bagian-bagian tubuh dari makhluk hidup itu.
“Ayo kita berangkat, tetap awas dengan sekelilingmu” Kata kakek yang mulai melangkahkan kakinya berjalan menuju kearah utara.
Aaron dan Haaripun mengangguk, kemudian mengikuti si kakek berjalan dari belakang,mereka bertiga pun mulai berjalan kearah utara dari danau itu, sang kakek berjalan didepan, sedangkan Haari dan Aaron mengikutinya di belakang. Matahari sudah semakin naik sehingga hampir di titik batas naiknya, sehingga cuaca yang mulai memanaspun tidak terhindarkan lagi, namun hal itu tidak membuat langkah ketiga orang yang berjalan ke utara itu goyah, walaupun menyandang ransel yang cukup berat. Tidak ada alasan bagi seorang pemburu untuk berhenti di tengah jalan, kecuali kematian dan prediksi kematian yang sudah diperhitungkan, mereka memegang motto ‘vini vidi vici’ yang dikutip dari seorang kaisar romawi, Julius Caesar, yang berarti ‘aku datang, aku melihat, aku menaklukkan’.

Jumat, 04 Desember 2015

Dunia Dalam Jurang 15






“Nah, sekarang kita duduk disini, kalian boleh menunggu disini sementara aku akan menyelam ke danau” kata sang kakek ketika tiba di suatu pohon yang hanya berjarak 10 meter dari tepi danau itu.
“Hey, kau sudah tua kek, kau tidak lihat tadi ular yang barus saja kita bunuh? Sekarang kau pengen menyelam ke danau tempat monster itu muncul, jangan aneh-aneh, deh” jawab Aaron mendengar perkataan sang kakek dengan nada yang marah bercampur cemas, sementara Haari sibuk mengelap-ngelap senapannya dengan kain coklat yang tampak kumal sambil bersiul tidak menanggapi pembicaraan Aaron dan kakek itu.
“Haahhh, sudah lama aku tidak berenang, lumayan untuk menambah tinggi badan” kata sang kakek sambil tersenyum melirik sedikit kearah Aaron dan melakukan pemanasan ringan.
“Emang kau mencari apa disana kakek?” Kata Haari yang tetap asik mengelap-ngelap senapannya.
“Kau akan lihat sendiri nanti” jawab sang kakek singkat, lalu berlari kearah danau sambil berteriak ‘wohooo’ dan lompat kedalam danau itu.
Aaron hanya bisa menahan napas melihat aksi sang kakek yang baru saja menyeburkan dirinya kedalam danau itu, lalu ia mengambil senapannya seolah-olah bersiap jika sesuatu terjadi dengan kakek itu. Sementara sang kakek ada didalam danau itu, Haari pun mengajak Aaron untuk berbicara.
“Kau harus mengenalnya lebih dekat lagi” kata Haari sambil mendekatkan kepalanya ke Aaron, lalu melirik ke danau yang artinya adalah sang kakek lah yang ia maksud.
“Dia merupakan pemburu yang cukup terkenal, dia itu..” belum sempat Haari melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba ada tombak yang meluncur dan menancap tepat dipohon diatas mereka, mereka pun spontan menghindar, pakaian merekapun basah.
“Kurang ajar” kata Haari dengan wajah yang sedikit tersenyum melihat ke tombak yang menancap di pohon itu, yang ternyata menusuk seekor ikan sturgeon yang masih bergerak-gerak sehingga air pun muncrat kemana-mana.
“Hahaha, kita akan makan enak hari ini” kata sang kakek yang tiba-tiba muncul ke permukaan danau, lalu perlahan-lahan berenang ke pinggir danau itu.
“Kek, awas dibelakangmu!” teriak Aaron sambil menunjuk ke arah sang kakek yang sedang berenang itu, Aaron hanya bercanda untuk menakut-nakuti si kakek.
“Pemburu itu insting nya kuat, nak, kalau ada sesuatu yang bergerak, jangankan dibelakang ku, di pinggir danau belakang sanapun aku bisa tau” jawab sang kakek yang sudah sampai dipinggir danau, lalu naik ke daratan, lalu berjalan ke arah Aaron dan Haari.
Sesampainya di pohon itu, sang kakek pun lompat lalu mencabut tombak itu dari pohon, lalu meletakkan tombak yang masih menusuk sturgeon itu ke bawah dengan posisi melintang, setelah itu ia mengambil golok ditasnya.
“Ini golok serbaguna, bisa untuk memburu bisa untuk ini” kata sang kakek sambil memotong kulit bagian badan sturgeon itu.
Haaripun mengeluarkan sebuah pisau yang ukurannya 2 kali lipat dari pisau dapur biasa, lalu membnntu si  kakek memotong kulit sturgeon yang panjangnya hampir 3 meter itu, sedangkan Aaron hanya duduk melihat mereka berdua.
“Aaron, kau cari kayu disana” kata sang kakek yang menunjuk beberapa meter di sebelah kanan nya, yang memang banyak pohon-pohon yang batangnya tidak terlalu tebal.
Aaron pun mematuhi perintah sang kakek lalu berdiri dari tempatnya, sambil memegang senapan ia pun berjalan ke arah yang ditunjuk kakek tadi, sementara Haari diam-diam melihat Aaron yang sedang berjalan menjauhi mereka itu, seperti tetap berjaga jika tiba-tiba ada sesuatu yang terjadi dengan anak muda itu.

Dunia Dalam Jurang 14

"Perjalanan kali ini adalah perjalanan yang berbeda dari duniamu diatas sana bocah, ini perjalanannya orang-orang yang tangguh" kata sang kakek kepada Aaron, "Jangankan monster, kalian berdua saja bisa aku matikan" jawab Aaron mengarah ke sang kakek dan Haari, mereka berdua hanya tertawa dengan arti mencemeeh, perjalanan mereka ke danau sudah hampir tiba, dari kejauhan sudah tampak sebuah danau yang cukup luas dan indah, disekitarnya tumbuh pohon-pohon yang besar namun tidak terlalu tinggi, sangat rindang, cahaya matahari memancar ke permukaan danau tersebut lalu membiaskan warna-warni yang indah meski dilihat dari kejauhan, Aaron dan Haari hanya bisa memunculkan wajah yang terpesona ketika melihat danau itu, tidak ada kata-kata yang dapat mengungkapkan bagaimana indahnya danau itu, mereka bertiga terus berjalan mendekat ke danau itu, namun sang kakek yang berjalan didepan tiba-tiba saja  memberi aba-aba dengan tangannya untuk berhenti, Aaron dan Haaripun berjalan ke samping sang kakek, dan melihat sang kakek dengan wajah terkejut menatap ke suatu titik di permukaan danau itu, "sesuatu yang indah tidak selalu benar keseluruhan, siapkan senjata kalian!" Kata sang kakek sambil memidikkan senjatanya ke depan, Aaron dan Haari sontak langsung mengambil senjata mereka dari tasnya masing-masing, Aaron memegang senjata api yang bagian belakangnya terbuat dari kayu, berwarna coklat dan mengkilap, sedangkan Haari senapan yang ujungnya diikat sebuah pisau, senjata Haari penuh dengan aksesoris yang tampaknya berasal dari sesuatu yang diburunya, sang kakek lalu memerintahkan kembali dengan tangannya untuk maju, lalu si kakek pun bersembunyi dibalik sebuah pohon yang jaraknya cukup dekat dari pinggir danau, "Ada apa kek?" Tanya Aaron polos, sedangkan Haari hanya diam saja sambil tetap fokus ke danau itu, seolah-olah sudah tahu apa yang sedang mereka hadapi, "kita kedatangan monster ular, namun tidak terlalu besar, kau tidak perlu takut, ini ular yang belum terlalu dewasa" kata sang kakek yang menyandarkan punggungnya ke pohon itu dan melihat kebelakang ke arah danau itu, persis seperti orang yang sedang berperang, benar saja, perlahan-lahan seperti ada yang bergerak dipermukaan danau itu, Aaron tidak menyangka karena dia telah melihat seekor ular yang besarnya kurang lebih 10 meter berenang didanau itu dan perlahan-lahan mendekat ke arah mereka! Dalam hatinya Aaron berkata "kalau yang belum besar saja segini, seperti apa yang besarnya".
"Dor!!" Tembakan pertama di lakukan oleh kakek itu dan membuat ular itu mengeluarkan suara yang sangat keras, "Duar!Duar!Duar!" Suara tembakan Haari terdengar lebih keras daripada sang kakek, dan dilakukan tiga kali, setelah tembakan yang dilakukan oleh Haari, ular itu tampak hilang di permukaan danau itu, tidak ada tanda-tanda kemunculan ular itu dalam beberapa detik,suasana semakin menegang, sementara mereka bertiga tetap dalam posisi membidik, tiba-tiba terlihat riak air di pinggir pas didepan pohon dimana mereka bertiga berada, "mundur!mundur!" Teriak sang kakek sambil mendorong-dorong Haari dan Aaron untuk bergerak mundur kebelakang, "Dashh!!!" Hanya kurang sepersekian detik saja, mereka bertiga mungkin akan mati karena pohon dimana mereka berada sebelumnya tadi tiba-tiba tumbang, "Duar!!!" Haari menembakkan senapannya kearah pohon itu, posisi Haari berada didepan sedangkan Aaron dan kakek itu berada dibelakangnya, muncul kepala ular dari balik batang pohon yang tumbang itu dan dengan sangat cepat bergerak kearah mereka, "Haari!" Teriak sang kakek sambil merangkul Aaron dengan sebelah tangannya seolah menginstruksikan untuk mundur lagi, mereka berdua pun mundur beberapa langkah lagi, ular tadi menyerang Haari dengan sangat cepat, Aaron dan sang kakek tidak tahu apa yang terjadi kepadanya, mereka hanya diam sambil tetap membidik ke arah pohon itu, tiba-tiba mereka dikejutkan karena kepala ular tadi kini bergerak ke arah mereka dengan cepat, sang kakek dan Aaron pun spontan melepaskan tembakan ke arah kepala ular itu, lalu sang kakek menghindar ke arah kiri dan Aaron ke arah kanan untuk menghindari kepala ular itu, setelah jatuh ditanah, wajah Aaron dan sang kakek tampak bingung melihat kepala ular itu, sebab hanya kepalanya saja, badannya tidak ada"ambil saja kepalanya kalau kau mau" kata seseorang yang ternyata adalah Haari yang berjalan ke arah mereka sambil membidik kearah Sang kakek, lalu bergerak membidik Aaron, dengan senyumnya yang tampak mengerikan itu dan tatapan matanya, "aku mengikatkan pisau diujung senapanku, karena bagaimanapun kita pasti akan diserang dari jarak yang dekat" kata Haari sambil mengusap-ngusap mata pisau yang berada di ujung senapannya itu, sang kakek dan Aaron hanya bisa menggeleng-gelengkan melihat kelakuan teman mereka itu, "apa kau jadi mencari ikan disana?" Tanya Haari, sang kakek lalu mengangguk dan berjalan kembali mendekati danau itu, Aaron dan Haaripun mengikutinya, Aaron masih bercampur-campur emosinya, antara takut, kagum, bangga, dan bingung dengan apa yang barusan ia lihat tadi, Haari berjalan dengan santai tanpa kuda-kuda membidik, namun sepertinya ia tetap mengawasi sekeliling, sama halnya dengan sang kakek yang selalu awas dengan sekelilingnya, mungkin seperti itulah mereka, seorang pemburu haruslah awas terhadap sekelilingnya.

Dunia Dalam Jurang 13





Matahari pun kini telah terbit dari Timur, memancarkan cahaya nya yang lebih terang daripada temannya yang bertugas malam tadi, disudut pasar itu ramai orang yang masih terlelap, mungkin penjual-penjual yang baru saja tidur beberapa jam yang lalu, tak terkecuali seorang anak muda dan orang tua yang selalu bersama itu masih asik dengan alam mimpinya, sedangkan panas sudah cukup terasa di kulit, tapi sepertinya rasa lelah mengalahkan apapun yang sedang terjadi dengan mereka.
“Bangun, bangun, bangun” kata seseorang kearah sang kakek dan Aaron, namun mereka berdua masih saja terlelap, lalu seseorang yang baru saja menyuruh bangun itu bersuara lebih keras lagi, “Bangun!Bangun!Bangun!”, barulah Aaron dan sang kakek terbangun, ketika baru membuka mata, terkejutlah mereka bahwa yang membangunkannya adalah penjual yang tadi malam dimana mereka membeli lada hitam, “kau tidak tidur?” tanya sang kakek sambil mengusap-ngusap matanya, sedangkan Aaron mulai merenggangkan tangannya keatas dan bangkit dari posisinya, “seorang pemburu tidak perlu berlama-lama tidur, karena dia harus siap dengan semua bahaya yang bisa saja datang tiba-tiba” jawab penjual itu dengan senyum yang menampakkan giginya yang besar-besar itu, badan penjual itu sangat tegap dan keliatannya adalah orang yang tangguh, otot-ototnya tangannya tampak menonjol dipakaian setengah lengan berwarna coklat yang dikenakannya itu, ada beberapa bekas luka di tangannya, “jadi kemana kita hari ini?” tanya penjual itu, Aaron hanya melihat kearah sang kakek, “kita akan kerumahku dulu” kata sang kakek yang lalu berdiri dari posisi duduk, “kita akan mengambil berbagai perlengkapan yang kita perlukan” lanjut sang kakek sambil mengulurkan tangannya ke arah Aaron untuk menawarkan bantuan ke Aaron untuk berdiri, Aaron pun memegang tangannya sang kakek itu dan berdiri perlahan-lahan, si penjual hanya tersenyum melihat itu, penjual itu menyandang tas kulit yang lumayan besar, yang mungkin isinya adalah barang-barang dagangannya tadi malam, sang kakekpun memberi isyarat “ayo” dengan tangannya ke penjual itu, dan mereka pun mulai berjalan meninggalkan pasar itu menuju ke arah rumah sang kakek.
“Jadi kita akan memburu apa hari ini?” tanya sang penjual itu ke sang kakek, belum dijawab oleh sang kakek si penjual itu melanjutkan, “oh iya, kalian berdua panggil saja aku Haari” , sang kakek hanya diam tetapi Aaron tersenyum ke arah Hari sambil mengangguk, “Oh ya anak muda, siapa namamu? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya” kata Haari sambil menepuk pundak Aaron, “Aku orang baru disini ri” jawab Aaron, “Oh iya? Kenapa kau bisa kemari?” tanya Haari, “Aku tidak sengaja terjatuh kesini” jawab Aaron singkat, “Ooh hahaha, kau pasti bukan tidak sengaja, tidak mungkin, kau sengaja pergi kejurang tersebut karena penasarankan kan? Lalu kau terpleset dan kau kira kau sudah mati, lalu kau bertemu dengan Badri” kata Hari sambil tertawa, “bagaimana kau bisa tau?” tanya Aaron, “Mayoritas orang yang baru ada disini juga memiliki kejadian yang hampir sama, tentu saja dia tau” jawab sang kakek yang dari tadi hanya diam, “Hahaha jangan kau bocorkan rahasianya kakek, dia sudah hampir mengira kalau aku sakti” kata Haari sambil memukul ringan bahu sang kakek itu, “Oh iya, sebelunya apakah kau sudah pernah bermain-main dengan senjata? Karena disini keahlian dalam menggunakan senjatalah yang menentukan seberapa panjang umurmu dan seberapa kaya kau nantinya, hahaha” tanya Hari ke Aaron, “Kakek ini mengatakan kalau dia akan mengajarkan ku beberapa teknik hari ini karena kita juga akan berburu setelah mengambil perlengkapan dirumahnya” jawab Aaron yang dari tadi hanya melihat ke depan, “Woow, kita akan berburu? Berburu apa hari ini?” tanya Hari dengan antusias, Aaron dan kakek hanya diam tidak menanggapi pertanyaan Hari yang sangat cerewet itu, dengan adanya Hari, kekuatan mereka bertambah, dan kemungkinan untuk menakhlukkan lebih banyak monster dan monster-monster baru akan besar, mengingat Hari adalah seorang pemburu yang cukup berpengalaman.
Akhirnya mereka sampai didepan rumah tua milik sang kakek itu, dan sang kakekpun membuka kunci pintu depan rumahnya, lalu membuka pintu itu dan mempersilahkan Aaron dan Hari untuk masuk kedalamnya, “wow, selama ini aku hanya melihat, baru bisa aku memasuki rumah ini” kata Hari sambil melihat ke sekeliling rumah sang kakek itu, sedangkan sang kakek langsung pergi kebelakang untuk mempersiapkan perlengkapan, dan Aaron hanya duduk sebentar di kursi dimana dia duduk sewaktu pertama kali datang kerumah itu, “Hey liat itu, itu kan kepala ular raksasa yang dulu pernah hidup dan sempat menguasai daerah ini?” tanya Hari sambil menunjuk kepala ular yang diawetkan yang berada dibawah jam dinding tua tembok rumah kayu itu, “dia adalah orang paling berjasa karena dengannya lah aku tumbuh didunia ini” jawab sang kakek yang sedang sibuk dengan perlengkapannya di belakang, “mengapa kau memotong kepalanya?” tanya Hari sambil mengarahkan tangannya ke arah kepala ular tersebut dan menoleh ke arah sang kakek, “karena kalau badannya juga kubawa tidak akan muat” jawab sang kakek yang masih sibuk dengan perlengkapannya, Hari diam sebentar, lalu kembali bertanya “kita akan pergi kemana? Sementara aku taruh dulu barang-barang aku disini ya?”, si kakek hanya diam, dia tak menyangka kalau ternyata penjual yang dibawanya tadi malam ini lebih banyak tanya daripada pemuda yang ia temukan beberapa hari yang lalu, “kau bisa menggunakan senjata apa saja, ri?” tiba-tiba Aaron bertanya, Hari menoleh ke arah Aaron lalu berkata “itu adalah pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan perkataan, kau harus melihatnya” tatapan Hari ke Aaron sangat menyeramkan dengan senyumnya yang mengerikan, Aaron tiba-tiba mengarahkan pukulan kearah Haari, Haari dengan spontan menangkap tangan Aaron lalu dari memegang tangan Aaron saja, ia bisa mengangkat tubuh Aaron sehingga melayang dari kursi yang didudukinya, sambil tetap dengan senyum dan tatapannya tajam, Haari berkata “Kau pasti pernah ikut beladiri atau kau mungkin adalah anak dari orang yang bisa beladiri”, perkataan Haari lantas saja langsung membuat Aaron bingung, sebab kedua-dua perkataanya benar, “Tanganmu lumayan kasar, kau pasti orang yang cukup emosional” lanjut Haari sambil meraba-raba telapak tangan Aaron, Aaron hanya bisa diam dengan mulut yang sedikit terperangah, dimatanya seolah-olah Haari tampak sangat sakti, selain kuat dia juga bisa menebak dengan tepat, Haari pun melepaskan tangannya yang menggenggap telapak tangan Aaron tadi, lalu berkata “Dalam bertarung kita tidak bisa asal-asalan, semuanya ada perhitungan”, Haari tampak seperti ingin melanjutkan kata-katanya, tapi belum sempat ia melakukan itu, sang kakek langsung datang ke mereka berdua, dengan tas yang lebih besar, golok di pinggang sebelah kirinya sedangkan tangannya menenteng senapan berwarna coklat yang mengkilat, “apakah kalian sudah siap, bocah?” tanya sang kakek kepada Aaron dan Haari yang masih kaget liat gaya sang kakek, tanpa berkata apapun mereka berdua langsung berdiri, seolah mengatakan sudah siap, mereka lalu mengikuti si kakek yang berjalan keluar, lalu mengunci pintu depan rumahnya. “Oke, hari ini aku ingin sekali makan ikan segar, kita akan pergi ke danau yang tidak terlalu jauh dari sini, perjalanan kesananya tidak akan terlalu melelahkan, tetapi, perjuangan untuk bisa kembali kesini lah yang akan melelahkan” kata si kakek sambil tersenyum dan mulai berjalan, Haari dan Aaron saling bertatap-tatapan, dengan senyum yang lebar dan wajah yang berbinar, seolah-olah mereka sangat bersemangat sekali, “Ayo kita lakukan ini” kata Haari sambil melakukan tos ke Aaron, dan mereka pun mulai berjalan mengikuti sang kakek tadi.

Dunia Dalam Jurang 12



Setelah gigi ropen itu terbeli, mereka berdua pergi ke sebuah sudut di pasar itu, lalu duduk disebuah kursi yang terbuat dari kayu, dari sini mereka bisa melihat seluruh penjual dipasar itu, “dimana kita akan menginap?” tanya Aaron, “kita akan menginap di sini saja” jawab sang kakek, sambil membolak-balik dan melihat gigi ropen yang baru saja dibelinya, “untuk apa kau beli gigi itu?” tanya Aaron yang bingung melihat tingkah laku si kakek, “dengan gigi ini kita bisa mendapat lebih banyak” jawab sang kakek sambil tetap membolak-balek gigi itu, Aaron yang masih bingung itu pun kembali bertanya “apa maksudmu?” , sang kakek menarik nafas, lalu menoleh kearah Aaron sambil menatap tajam ke arah matanya, “gigi ropen ini bisa digunakan untuk memancing ropen lain jika kita menggunakannya, ropen yang terpancing akan kita bunuh, lalu kita jual, kita buru lagi ropen lain, kita taklukkan, lalu kita jual lagi” kata sang kakek, “apa itu yang biasa kau lakukan?” tanya Aaron, “tidak juga, karena baru-baru ini aku jumpa dengan anak muda yang banyak tanya, aku akan mengajari mu cara menggunakan berbagai senjata, memburu, dan menaklukkan berbagai tipe monster, kita akan pulang kerumah besok pagi, mengambil perlengkapan sebentar, lalu pergi lagi untuk berburu, sudah jelas?” jawab sang kakek sambil menyimpan kembali gigi ropen itu ke dalam tasnya, Aaron hanya diam sambil tersenyum lalu berpaling dari wajah sang kakek, lalu memejamkan matanya sambil meletakkan kedua tangganya di kepala , “aduh, kakek kelupaan satu, kau mau tunggu disini ?” kata sang kakek sambil beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan ke arah pasar, Aaron yang baru saja memejamkan mata, membuka lagi matanya lalu spontan berdiri dan mengikuti sang kakek, “emang kau kekurangan apa lagi ?” tanya Aaron yang masih berada di belakang sang kakek, “kita butuh lada hitam” kata sang kakek, Aaron pun langsung bertanya lagi “lada hitam? Untuk apa? Kau mau jadi dukun ya?”, sang kakek hanya diam sambil tetap berjalan. Sesampainya di salah satu penjual di pasar itu, yang penjualnya memakai pakaian penuh dengan tulang-tulang, “hei kawan, ada lada hitam?” tanya si kakek, “ada Badri” jawab penjual itu, jawaban itu langsung saja membuat kakek dan Aaron kebingungan, bagaimana dia bisa tau dengan nama sang kakek, “aku selalu mencari informasi tentang dirimu, aku tertarik dengan caramu berburu” kata si penjual itu sambil memberikan lada hitam kepada sang kakek, lalu berkata “kalau kau mau, aku bisa ikut denganmu, aku bisa membantumu dalam banyak hal”, “sudah berapa banyak monster yang kau taklukkan?” tanya sang kakek yang belum mengambil lada hitam dari tangan penjual itu, “sehari yang lalu aku baru saja membunuh 5 mngwa, aku juga berhasil mengambil gigi titanoboa tanpa membunuhnya, kau bisa lihat yang dileherku ini? Ini adalah gigi ropen yang baru saja kubunuh 2 minggu yang lalu” kata si penjual sambil menunjuk kalung dilehernya, “baiklah kau ikut denganku” kata sang kakek sambil mengambil lada hitam dari tangan penjual itu, dalam hatinya sang kakek sudah tau bahwa penjual ini bukan pemburu yang biasa, bisa dilihat dari banyaknya tulang yang ia rangkai, “berapa?” tanya sang kakek yang bertanya harga lada hitam tadi, penjual tadi tertawa lalu berkata “kau membayarnya dengan memasukkan aku kedalam timmu”, si kakek hanya diam saja, memasukkan lada hitam tadi kedalam tasnya, lalu beranjak meninggalkan penjual itu,Aaron pun hanya mengikut sang kakek, “besok pagi kau temui kami di sudut kota ini” kata si kakek sambil merangkul pundak Aaron, si penjual tadi hanya tersenyum lebar mendengarnya, lalu kembali sibuk dengan barang dagangannya. “Kenapa gayamu sok tenang begitu?” tanya Aaron kepada sang kakek dalam perjalanan itu, “aku emang aslinya orang yang tenang” jawab sang kakek sambil mengusap rambutnya, si Aaron hanya tertawa sambil memukul ringan bahu sang kakek, nampak jelas keakraban diantara orang tua dan anak muda itu di sepanjang mereka berjalan, malam pun semakin larut, pasar itu belum tutup, biasanya pasar yang hanya ada malam hari itu tutup pagi-pagi jam 2 atau 3, tempat Aaron dan kakek itu beristirahat berada tidak jauh dari pusat pasar, hanya ada kira2 150 meter, disana juga ada orang-orang yang istirahat atau singgah dari tempat yang jauh, Aaron dan kakek itu pun tiba disana, tanpa, si kakek yang langsung mengambil posisi berbaring di atas kursi yang mereka tempati sebelumnya, sedangkan Aaron tidur dilantai dibawahnya, “selamat tidur bocah” kata sang kakek yang mulai memejamkan matanya, Aaronpun tidak menjawab itu dan juga memulai memejamkan matanya.

Kamis, 03 Desember 2015

Dunia Dalam Jurang 11

Sementara, ketika bulan baru menjalankan tugasnya untuk mendampingi bintang-bintang di malam hari, cahaya sanggup menembus, menerangi, dan memperindah suatu dunia jauh dibawah sana, meskipun ia terlihat lebih kecil, ia tetap dapat menjangkau dunia itu dengan cahaya yang dipinjam nya oleh sang mentari.
"Gimana? Kau memang harus belajar untuk bisa beradaptasi disini, kita tidak akan menuju rumah kali ini" kata seorang kakek yang sedang berjalan dimalam itu bersama seorang pemuda yang baru baru dikenalnya, lalu pemuda itu berkata "lalu kita kemana orang tua?", sambil tersenyum orang tua itu menjawab "akan kubawa kau ke pasar disini", "loh? Emang ada pasar buka malam-malam gini?" Tanya pemuda itu dengan wajah yang heran, "sudah ikut saja, tapi ingat, kau tidak boleh ngomong sembarangan" jawab si kakek dengan memperlambat intonasi bicaranya, "apa maksudmu?" Tanya pemuda itu, "kau tidak boleh mengatakan turunin harganya, kau tidak boleh berkata beli 3 gratis 1, terlebih kau sangat dilarang untuk berkata gratis" kata si kakek, lalu si kakek tertawa setelah mengatakannya, sang pemuda bernama Aaron itu hanya cuek sambil memandang ke depan dengan wajah kesal, "hei hei, kau ini gampang emosian ya?" Kata si kakek sambil memegang kepala Aaron, lalu mereka pun berjalan terus ke arah timur.
Terdengar suara ramai seperti orang berbicara, seperti suara pasar, "Nah sebentar lagi kita sampai, itu sudah terdengar suara-suara ramai" kata si kakek sambil menunjuk ke arah atas seperti menyuruh untuk memusatkan perhatian, "suara manusia itu kek?" Tanya Aaron, si kakek hanya diam, mereka pun meneruskan perjalanan mendekati sumber suara keramaian itu, selang beberapa saat, tibalah mereka di pasar yang isinya didominasi manusia, "kita akan menginap disini malam ini" kata si kakek sambil memegang pundak Aaron, "kenapa disini ada banyak sekali manusia" kata Aaron sambil menoleh ke arah sang kakek, sang kakek lalu menjawab "mereka menjual berbagai hasil buruan mereka dan disini juga dijual beragam bagian tubuh dari makhluk-makhluk cryptid, kita bisa membelinya, ayok pilih saja yang mana kau mau", "terus disini bayarnya pakai apa?" Tanya Aaron sambil mengikuti si kakek yang berjalan dengan cepat didepannya.
"Aku mau kalung dari gigi ropen, ada?" Tanya kakek ke salah satu penjual, "kau bisa ke penjual yang disana, gigi ropen tidak sembarang menjualnya, butuh pengorbanan nyawa untuk berhadapan dengan ropen" jawab si penjual yang menunjuk ke arah penjual yang berada 3 blok disampingnya, lalu si kakek berjalan ke arah penjual itu, sedangkan Aaron hanya mengikut saja, "haloo kakek, apa yang kau cari?" Tanya penjual itu, "aku mau ini" jawab si kakek sambil menunjuk sebuah gigi yang besarnya dua kali lipat telapak tangan manusia, berbentuk segitiga sama sisi yang sangat runcing, "Ahh, itu barang langka, apa kau benar-benar berniat membelinya?" Tanya penjual itu sambil mengusap-ngusap kepalanya, "aku bisa membuat ini sebagai malam terakhirmu dan aku yang menggantikan tugasmu besok disini sambil menjual bagian-bagian tubuhmu" kata si kakek sambil menatap tajam ke arah penjual itu, penjual itu pun menatap tajam ke arah si kakek "kelompok kami harus mengorbankan nyawa untuk mendapatkan satu buah gigi ropen, kami menjualnya dengan 20 gigi mngwa" kata penjual itu, "oke baik lah" kata sang kakek sambil mengeluarkan sesuatu dari tas kecil yang biasa dibawanya itu, lalu menaruh banyak sekali gigi mngwa didepan penjual itu, Aaron yang melihat itu kaget tetapi hanya memelototkan matanya, "kau pemburu yang hebat" kata si penjual sambil mengambil gigi-gigi itu, si kakek pun mengambil gigi ropen itu sambil berlalu meninggalkan penjual itu, Aaron masih diam saja sambil terus mengikutinya, belum ada terdengar suara dari Aaron, dia hanya bingung untuk apa sebenarnya gigi ropen itu, mengapa sang kakek rela membayar mahal untuk itu.

Rabu, 02 Desember 2015

Dunia Dalam Jurang 10

Suasana rumah itu langsung berubah menjadi tegang ketika pak Joko berkata seperti itu, terlebih pak Akbar, terdapat beragam emosi yang terlihat dari wajahnya, "itu benar kan,Pak?"tanya pak Akbar, sambil memandang mata pak Akbar dengan tatapan yang dalam, dia mengangguk sedikit, lalu berkata "sebenarnya tidak ada yang mati jika jatuh kesana, hanya saja, mereka masuk ke dalam dunia dimana evolusi tidak ada, mereka akan menemukan manusia-manusia purba, binatang purba, tumbuh-tumbuhan yang telah hidup ratusan juta tahun yang lalu, Aaron mungkin saja bertemu dengan Badri, atau mungkin warga desa yang dulunya pernah jatuh kesana, jika Aaron bertemu dengan Badri maka selamatlah ia, Badri adalah anak dari seorang ayah yang sakti mandraguna, konon taruman mampu membunuh singa dengan 1 tamparan, dan ketika dia menendang pohon, pohon itu akan tercabut akar-akarnya sehingga pohon itu pun roboh, taruman mempunyai 3 anak, 2 laki-laki termasuk Badri, dan satu lagi Sridewi, yang merupakan dukun wanita pertama yang ada didesa ini, dia adalah adik badri, aku tidak tau dimana dia tinggal, tapi kabarnya dia tinggal bersama keluarganya di kota yang cukup jauh dari sini" tiba-tiba pak Akbar memotong "apa bapak bisa membantu kami untuk menemukan Sridewi?", Pak Joko tampak berpikir sejenak, lalu berkata "jika satu manusia terhubung dengan manusia yang lain, maka tidak ada yang tidak bisa kita cari, semua itu tergantung kepekaan batin saja", Pak Akbar tampak masih bingung, wajahnya seakan berbicara, "aku harus menemukannya karena dia pasti tau bagaimana kondisi anakku", sementara Istri Pak Joko datang membawakan minuman, "gak usah repot-repot, bu" kata istrinya pak Akbar, sementara Adik-adik Aaron hanya senyum sambil menerima minuman itu.
"Aku bisa membantumu untuk melihat bagaimana kondisi Aaron, tapi bukan untuk mempertemukanmu kepadanya" kata pak Akbar, "Tidak apa-apa, Tidak apa-apa" langsung dijawab pak Akbar dengan suara yang seolah-olah penuh harap, "oke, aku akan ritual nanti malam dan akan kukabarin pak Akbar besok, sekarang ayo kita minum dulu" kata Pak Joko sambil senyum melihat satu per satu anggota keluarga pak Akbar, "yuk mari" kata pak Joko, lalu meminum minumannya.
Setelah sudah hampir malam, keluarga Aaronpun berpamitan untuk pulang ke keluarga Pak Joko, "terima kasih pak,bu, maaf kami ngerepotin ya" kata pak Akbar sambil menyalami pak Joko dan istrinya, "kami pamit dulu ya" lanjut ibu Aaron, "ah, gapapa kok, sesekali berkunjung sekalian memperkuat tali persaudaraan kita" kata pak Joko sambil sedikit tertawa, sementara istri pak Joko hanya tersenyum, keluarga Aaron pun melangkahkan kaki meninggalkan rumah Pak Joko dan berjalan ke arah rumah mereka, disela-sela perjalanan, ibunya Aaron bilang "Yah, sudah sedikit berkurang rasa cemas ibu karena mendengar berita bahwa Aaron tadi masih hidup", "yaaa semoga aja apa yang dibilang pak Joko tadi benar ya bu" jawab pak Akbar, sementara bulan sudah muncul dilangit, menerangi perjalanan sebuah keluarga yang hatinya masih penuh dengan pertanyaan, dari atas mereka tampak seperti sesuatu yang misterius, mengingat belum lengkapnya lampu penerangan jalan di desa itu, jadi ada jalan-jalan khusus yang benar-benar gelap sekali, tidak pernah ada bahaya yang ditimbulkan oleh manusia seperti maling, pembunuhan dan lain-lain di desa itu, kecuali disebabkan oleh sesuatu yang berada di dalam jurang sana.