Selasa, 22 Mei 2018

TERNYATA AKU BUKAN SPIRITUALIS


Kupacu sepeda motorku, jarum jam tak mau menunggu, maklum rindu
Traffic light aku lewati, lampu merah tak peduli

Begitulah kupinjam lirik dari lagunya Iwan Fals, hanya saja di depan tak ada polantas, apalagi wajahnya yang begitu puas (setelah berhari-hari tak dapat ‘makan’). Hari ini dua orang teman ku pulang, ia menelpon tadi subuh saat aku sedang khusyuk-khusyuknya berdzikir---iya, nada deringku begitu mengganggu, jadi percuma saja tetap khusyuk. Kata dua orang manusia yang memiliki nama yang hampir-hampir miripku dengan ini, ada film yang baru keluar, judulnya “Semedi”, WAW! Sontakku dalam hati, “ini film mu ” begitu lah kira-kira maksud mereka melalui pembicaraan di telpon, aku pun tak tidur subuh itu.

Tak banyak basa-basi, begitu sampai di rumah kedua temanku itu (mereka kakak-beradik, kembar), aku mengeluarkan kata-kata yang menunjukkan kalau aku tak sabar, mobil dihidupkan, kami pun melesat. Sepanjang jalan aku terbayang seperti apa film ini, aku tak banyak bicara, lebih mirip seperti semedi, teman ku yang menyetir, Ali, abangnya Ale, hanya fokus menyetir sambil mendengarkan penyiar radio membawa berita, dan Ale, sibuk dengan hape nya, lucu saja, padahal kami sudah hampir setahun tak bertemu.
“Ri, gimana nih? Beli ramas dulu kita?” tanya Ali memecah hening, aku berangkat dari semedi.
“Sudah besar, masih mau jahil?” tanyaku
“Di sana, bakwan pun sebiji harganya sepuluh ribu” balas Ali
“Ya sudah, kita mampir ke rumah makan yang tak jauh dari sana saja” tiba-tiba Ale bicara, semangat jahil kamipun muncul, semangat itu sudah lama terkubur dalam hutan pencitraan dalam diri kami.

30 menit dari rumah dan kami tiba di sebuah rumah makan, namanya SEDERHANA, tapi harganya mewah, satu bungkus nasi ramas bisa sampai 25 ribu, tapi tak apa, ini masih setara dengan 2 bakwan di bioskop itu. Kami melanjutkan perjalanan, 20 menit lagi sampai kalau tak macet,
“Seru gak kira-kira filmnya?” tanyaku
“Gak tahu juga, aku baru liat tentang film-film terbaru di situs cinema Mahameru” jawab Ali sambil tetap fokus ke jalan,
“Sebenarnya aku sudah kapok nonton di sana, filmnya asu-asu semua” jawabku,
“Sudah lihat saja nanti, tebak-tebak berhadiah” jawab Ali dengan nada berharap tak kan ada lagi pertanyaan dariku, Ale tak bersuara.

Kami tiba di bioskop yang terletak di pinggir jalan itu, bioskop itu hanya berupa 5 buah ruko yang digabung, tertulis dengan besar nama bioskop itu pada spanduk selebar 5 ruko itu pula, MAHAMERU, dan dibawahnya : anda senang kami pun puas. Ramai sekali ternyata yang menonton film ini, kulihat pergelangan tangan kananku, pukul 10 pas,
“ Ayo!” tiba-tiba Ale turun tak sabaran, lupa nasi ramasnya, Ali yang mengambil,
Kami berjalan cepat masuk ke studio itu, seperti biasa, satpam berwajah sok itu membukakan pintu dengan senyumnya yang terkesan mencemooh, mentang-mentang kami hanya pakai ketebe dan training serta sendal jepit.  Kami tak memberi senyum padanya, tak pula menoleh, mata kami pada pintu terus mempercepat langkah kami,
Sesampainya di dalam, sudah gelap, dan film akan segera diputar, kami segera mencari bangku, di bioskop ini tak ada aturan harus duduk di bangku mana---di karcis hanya tertera cap lunas dan tulisan kecil : jangan lupa bayar parkir.
“Itu!” kataku sembari menunjuk kursi di bagian kiri tengah, kebetulan kosong tiga, kami pun berjalan kesana.

“Selamat datang di bioskop mahameru, kami sarankan untuk menggunakan kamera dan promosikan bioskop ini ke akun media sosial kalian”
Aku sudah muak dengan kata-kata ini, padahal bioskop mahameru selalu ramai, terdengar beberapa orang yang tertawa, pasti orang awam, kataku dalam hati.

Setelah suara itu, tulisan SEMEDI muncul tiba-tiba di layar dengan suara petir yang sahut-menyahut, bakal seru ini, pikirku. Setelah itu, filmpun dimulai, menampilkan aktor yang menurutku usianya sudah 50an, bertelanjang dada, dan tengah bersila di bawah pohon yang aku tak tahu itu pohon apa. Satu menit berlalu, dua menit, 10 menit, pria itu masih duduk, dan aku mulai gelisah, temanku hanya sibuk dengan hape mereka, karena mereka sebenarnya pun hanya ingin mentraktirku nonton, mereka sendiri tak tertarik dengan film-film yang berbau spiritual seperti ini. Kulihat sekitar, orang-orang tenang saja, aku bingung, ada apa ini sebenarnya, tapi aku mencoba menahan diri. Tigapuluh menit sudah, bapak itu masih duduk tak bergerak, aku mengambil hape, dan memotret layar itu, lalu ku upload di media sosial
“Jangan tonton film ini, nyesal seumur hidup, kembalikan uangku!” captionku dengan huruf kapital.

Tak lama banyak yang mengomentari postinganku, aku pun larut di dunia maya, tak terasa 25 menit berlalu, tiba-tiba suara bioskop mengejutkan ku,
“Terima kasih karena sudah menyediakan waktu untuk datang kemari, menonton film SEMEDI ini, semoga bermanfaat”
Dan disambut dengan tepuk tangan penonton, Ali dan Ale hanya ikut-ikut.

Di luar, aku hampir berkelahi dengan satpam.

AMARAH FANA, HASRAT KITA ABADI




   Sudah besar, masih minta susu, katamu. Aku hanya senyum sambil mengisap dalam-dalam asap tembakau dari cerutu giokku, ia masih marah, marah sekali karena selama 2 tahun aku tak pernah memberi kabar, dan malam ini kuketuk rumahnya, belum pindah, catnya masih sama, biasanya yang membuka pintu adik laki-lakinya, tapi kini ia sendiri dan ia kaget ; seperti melihat hantu yang sering kuceritakan sebelum tidur, lalu berpura-pura buang muka, dasar betina gumamku. Kuajak ia berjalan menyusuri pinggiran kota ini, katamu, di sini, diantara kios-kios yang menjual kebutuhan harian dan warung makan, kita pernah membuat cerita, benar, bulan pernah jadi saksi, tapi kurasa bulan sudah lupa, bukankah sekarang semua sudah berubah, sayang? Bahkan rambutmu pun sudah beruban beberapa helai, kataku, ia hanya tertawa ; kami tertawa, ia sudah tak marah lagi, kupikir. Sudah lama sekali rasanya aku merantau, dan pulang hanya membawa selusin ilmu tentang bertahan hidup di tengah krisis ekonomi.

   Kami masih berjalan tanpa berbicara, dahulu, lampu-lampu jalan yang menerangi pinggiran kota ini hanya ada beberapa saja, tapi kini sudah banyak, berjalan di sini rasanya seperti jalan menuju sebuah pentas yang memang diperuntukkan kepada kami berdua.
Kami belok pada sebuah gang, “Kau masih ingat tempat ini?” tanyanya  sambil tertawa penuh maksud. Tentu, meski sudah lama aku tak kembali ke Jakarta, tapi aku ingat betul gang ini, sudah dicat, sebelumnya dinding-dinding itu penuh coret-coret piloks oleh anak-anak  yang mungkin sudah jadi mahasiswa sekarang. Dari sini, bulan hanya kelihatan sedikit, sedikit sekali, pohon-pohon di luar tembok gang tinggi menjulang, tapi aku masih bisa melihatnya mengintip kami, kurasa ia masih kenal denganku. Tembakau ku sudah habis , kusimpan cerutu di saku kemeja, lalu ku pegang pundak kanannya,
“Sudah besar, masih minta susu?” ia selipkan senyum setelah tanda tanya itu.

Minggu, 11 Februari 2018

Kedai Lontong Bude Mijah II

Source : google
Aku segera kembali ke kamar secepat mungkin, takut kalau lelaki hantu itu melihatku mengintip, sampai dikamar aku kunci pintu dengan cepat, nafasku memburu, jam dinding menunjukkan pukul setengah dua pagi. Aku panik, dan tak bisa tidur, lampu kamar sengaja kuhidupkan, ada beberapa buku menganggur yang belum selesai kubaca di sisi kasur, aku pun memutar musik, setidaknya agar aku bisa lebih tenang, lalu tertarik untuk membuka salah satu buku, cukup tebal (sekitar 500 halaman) judulnya Mistisme Timur dan Sains Barat, sampulnya hijau gelap dan hanya ada gambar sebuah atom dalam ukuran yang besar.

"Kaitan antara mistisme di Timur dengan Sains di Barat dapat dijelaskan dengan ilmu Fisika Kuantum, jika setiap orang menyadari bahwa inti dari semua materi di dunia ini adalah sama, atom, oleh karenanya..."

Dan aku pun pergi ke alam mimpi, buku masih terbuka menutup dadaku.


Pagi

Matahari menyapaku dengan cahaya yang cukup terang, aku terkejut ketika melihat jam dinding menunjukkan pukul 10 lewat 19 ,aku jarang bangun kesiangan, perutku terus-menerus protes meminta jatahnya, akhirnya tiba saat yang kunantikan, seperti biasa, aku tidak mandi, dan langsung berangkat ke kedai lontong Bude Mijah dengan pakaian yang kukenakan saat itu----aku juga gak cuci muka.

Setibanya disana, perkarangan sudah diisi puluhan motor dan ada 2 mobil jazz dan inova hitam. Ada tempat yang kosong, meja dan kursi panjang, muat untuk 8 orang, seperti biasa aku memesan lontong yang banyak mi dan sedikit lontongnya, kuah campur antara nangka dan kacang. Sambil menunggu, aku menatap ke arah pagar (kebetulan posisi ku pas menghadap ke pagar), serasa ada yang pernah kulakukan disini, begitu kuat, aku pikir ada deja vu, oh iya! langsung aku teringat kejadian dinihari tadi,

"Bukannya ini posisi si pria hantu tadi malam?" Aku memperhatikan meja dan kursi ku, pagar dan sekeliling dengan cepat, muncul lagi rasa penasaranku,

Lontongku datang, dan kuhilangkan dulu pikiran tadi, kini saatnya fokus memuaskan dahagaku akan lontong. Aku makan dengan sangat cepat, karena lapar sudah menggerogoti tubuh dan jiwaku (kalau saja aku tak dapat lontong pagi ini aku bisa gila) beberapa orang melihatku ngeri, karena aku makan begitu kencang, seperti binatang.

Ketika lontong sudah habis, kupilih untuk duduk sejenak, sembari menurunkan makanan, aku pun juga kekenyangan, tak mampu bergerak banyak, aku bukan perokok, jadi aku hanya melihat-lihat ke arah pagar, melihat motor dan mobil melintas, mungkin saja aku terlihat seperti sedang ada masalah. Pikiranku kembali ke hantu tadi, aku berniat menanyakannya kepada pegawai disini nanti jika aku pergi ke kasir, apakah ada yang kenal, mungkin saja dia memang orang yang menginap disini, kan? Meski lebih banyak tak mungkin nya.

10 menit berlalu, aku merogoh saku celana, dan meninggalkan mejaku, berjalan ke arah kasir yang dijaga oleh seorang cewek seumuranku, memakai kerudung hitam dan kemeja hitam juga, rok nya pun hitam dan tidak ketat (tak ada yang bisa dilihat dari pegawai-pegawai disini, katanya tak boleh pakai rok yang ketat), jam casio di tangan kiri, wajahnya bulat, kulitnya putih bersih, matanya agak sipit dan alisnya tipis, ia lumayan, tapi aku tak tertarik.

Aku hampir tiap hari sarapan disini, jadi kasir sudah tau apa yang kumakan dan berapa yang harus kubayar, setelah kasir memberiku uang kembalian, aku sempatkan bertanya dengan sebisa mungkin untuk tidak terdengar mencurigakan, apakah ada disini orang yang menginap, tidak, jawab kasir itu singkat.
"Apa ada pernah seorang pegawai yang usianya kira-kira tigapuluhan, posturnya sedikit tinggi dan badannya ideal, matanya bulat dan alisnya agak tebal disini, kak?" Tanyaku lagi, aku merasa seperti jenius yang bisa menghafal segala detail fisik dari seseorang,

Kakak kasir itu tiba-tiba berubah wajahnya, terkejut, dan menurutku ia panik, matanya terpaku padaku, tapi ia terlihat sedang mengingat-ngingat sesuatu,

"Emang kenapa dia, b-bang?" Tanya kasir itu balik, nadanya cukup jelas kalau ia sedikit takut,

"Aku melihatnya jam-jam 1 pagi, saat aku lewat di depan kedai ini, yaa biasalah habis pulang dari rumah teman" kataku, tak mungkin kubilang aku mengunjungi kedai ini dinihari tadi.

Wajah kasir menjadi dua kali lipat lebih terkejut dari yang tadi, dan ketakutan sangat terlihat di wajahnya, ada seperti ingatan yang mengerikan terpancar dari matanya, tiba-tiba datang seorang pegawai ke arah kami memecah ketegangan, namanya kak Putri (usianya lebih tua 2 tahun dariku, ia manis dan aku suka, jadi aku pernah nanya siapa namanya, biar bisa aku stalking di instagram, sekarang kami udah saling follow), mungkin ia melihat kami mengobrol agak lama,

"Ada apa, bang?" Tanyanya,

"Kata abang ini dia melihat..Sukram" yang menjawab malah kakak kasir itu dengan sangat cepat bahkan aku sendiri belum berpikir akan menjawab apa,

"SUKRAM?!" Kak Putri tak sengaja bersuara keras, lalu ia sadar dan menutup mulutnya sambil melihat ke sekeliling,

"Siapa Sukram?" Aku berusaha untuk tampak tenang, padahal penasaran setengah mampus,

Tiba-tiba terjadi hening sesaat, hening yang canggung, karena di kedai ini dari dulu aku jarang sekali bertanya apalagi berbicara, sekarang tiba-tiba berbicara serius, rasanya canggung saja,

"Sukram itu.." kata kakak kasir setelah menghela nafas yang panjang,

"Dia baru beberapa hari, ini, eh, mungkin 4 hari yang lalu meninggal" lanjut nya dengan ekspresi tenang yang dipaksakan,

Ada pegawai lain yang memanggil kak Putri, dan ia memberi kode kepada kasir bahwa ia mempercayakan cerita itu kepada nya, sedangkan ia memberi kode kepadaku bahwa ia harus kembali bekerja,

"Jadi yang kulihat itu, hantu?"

"Saya tak percaya hantu, bang, tapi memang tak ada orang yang menginap di kedai ini"

"Dia meninggal, maaf sebelumnya, karena apa?"

"Dia bunuh diri"

Jantungku berdetak lebih cepat, tiba-tiba teringat lagi olehku kejadian dinihari tadi ketika ia mengajak ku untuk makan lontong bersama, persis di kursi yang kududuki tadi, kata bunuh diri membungkus ingatan itu menjadi lebih ngeri, apalagi ketika ia berada di depan rumahku, entah bagaimana ia bisa mengejarku.

"Karena apa?" Lanjutku penasaran,

"Hmm" kasir itu tampak ragu, seperti ada yang ia sembunyikan, "ia ada masalah, tak taulah apa"

Aku tak bertanya lagi, meski masih penasaran, aku lebih memilih untuk menjaga etika, barangkali itu masalah personal atau masalah privasi toko ini, aku pun berangkat meninggalkan kedai,

"Bang!" Kakak kasir memanggilku saat aku baru tiga langkah menjauh,

"Sukram itu..." ia berhenti sejenak, seolah mengumpulkan keyakinan agar percaya padaku, "ia kesepian, tak tau kenapa, setiap bersama kami dia selalu menyalahkan kami tak bisa membuatnya senang"

Aku balik lagi, mendekat ke kasir,

"Dan dia bekerja baru beberapa minggu disini, mungkin 2 atau 3 minggu, dia selalu menyalahkan kami, hingga kami tak tahan lagi, jadi setiap ia mengajak ngobrol kami selalu mengabaikannya, dan hari itu, tepat setelah selesai kerja, jam 8 malam, kami mendengar suara teriakan sekali dari arah dapur, Sukram menusuk dirinya tepat di leher, dan ketika kami lari ke arahnya ia sudah menggelepar-gelepar, duh ngeri" ia menutup mata kuat-kuat dan menggeleng sekali,

"Lantai bersimbah darah dan kami berteriak histeris, berlarian kesana-kemari" ia berhenti, aku tau ia tak kuat lagi cerita,

"Ohh begitu, terima kasih kak"

Penasaranku sudah terjawab, tapi aku pun jadi bingung harus menjawab apa, rasa takutku berubah menjadi iba kepada Sukram, aku merasa ada yang harus kulakukan padanya, seperti panggilan hati, dan sifatnya ingin menolong,

"Oke kak, makasih udah mau cerita" aku meninggalkan warung tanpa peduli apa respon kakak kasir itu.

Sampai dirumah, aku hanya duduk-duduk di kursi teras, hari ini Sabtu, aku tidak ada jadwal kuliah, jam-jam kosong terbentang di depanku hari ini, tanpa aku tahu apa yang harus kulakukan untuk mengisinya.

Aku hanya menunggu datang dinihari.



Jumat, 09 Februari 2018

Kedai Lontong Bude Mijah I



Perutku lapar, namun jam sudah tenggelam larut dalam malam, aku ingin sepiring lontong, jam dinding kamarku menunjukkan tepat pukul 1 pagi, dan kedengarannya sangat sinting jika aku pergi ke kedai lontong jam segini. Tapi aku tak kuat lagi,  aku bangkit dari kasur dan segera memakai kaos andalanku (kaos hitam dengan gambar singa yang lagi menguap), dan membiarkan celana pendekku, lalu dengan sangat hati-hati membuka pintu depan agar orang tuaku tak tahu, akupun berhasil keluar tanpa suara, dan tentu kunci harus kubawa, disini juga rawan maling.

Jalanan kosong, tak ada orang yang ronda, berjalan disini pada dinihari sama seperti berjalan di kota mati, sepanjang jalan, mataku hanya memandang hamparan rumah-rumah dan warung yang tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Kedai lontong itu berjarak sekitar 700 meter dari rumahku, itu artinya butuh waktu sekitar 4 menit untuk tiba disana dengan jalan kaki. Sunyi benar-benar merupakan kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang kulihat, bahkan ketika kulihat langit bulanpun berada dibalik awan, seolah enggan menerangi langkahku, manusia pun pasti begitu, siapa yang mau menemani remaja 20an yang ingin membeli lontong pada dinihari? Kelakuanku sudah lebih dari orang gila, tapi perutku lapar, tak bisa tidur, karena hanya lontong yang terlintas terus-menerus di kepala dan hatiku, hingga lontongpun memaksaku agar mendatangi ia dirumahnya.

2 menit berlalu, aku sudah dekat, dari kejauhan sudah tampak perkarangan yang cukup luas, pagarnya tertutup, kedai lontong itu seperti rumah kecil namun perkarangannya cukup luas untuk menampung puluhan motor dan beberapa mobil, disekeliling perkarangan berdiri tembok beton, dan sedikit sisanya adalah pagar dimana kendaraan bisa masuk  ke perkarangan.

Aku sampai di depan kedai, dari balik pagar, aku mencoba menerawang ke dalam meski gelap dan tak ada lampu, sepertinya orang-orang yang bekerja di kedai itu tidak menginap di kedai, yang menjaga pun sepertinya juga tidak ada. Entah kenapa aku terus saja melihat kedalam sana, posisi kursi dan meja-meja nya sama seperti saat kedai ini buka, tapi kosong dan yang tergambar dipikiran ku adalah suasana saat sarapan pagi. 3 menit berlalu dan aku masih menatap kedalam kedai, tak jelas kenapa, namun hasrat ku untuk makan lontong sudah banyak berkurang, aku menerka sebentar lagi aku akan kembali pulang. Aku lihat hp dan jam menunjukkan pukul 1 : 22, angin dingin menerpa kulitku, sial, aku lupa memakai jaket, dan tentu saja betisku yang telanjang protes kedinginan.

Aku memalingkan tubuh dari kedai dan bersiap melangkahkan kaki untuk kembali kerumah, tetapi ada yang ganjil, aku tak tahu, tapi aku bisa merasakan ada seseorang yang mengintipku tak jauh dari punggung : aku bisa mendengar ia bernafas. Kukumpulkan keberanian untuk memutar badan, aku sudah bersiap-siap lari, jalanan terasa semakin kosong saja dan tampaknya tak ada bantuan yg bisa datang kalau saja terjadi apa-apa denganku. Aku menghitung sembarang, mengulur sedikit waktu untuk mengumpulkan keberanian, tapi aku putuskan lihat saja! Lihat saja lalu lari. Ketika aku membalikkan badan, kembali menatap ke kedai itu, aku terkejut bukan kepalang, tapi disisi lain aku juga terpaku tak tahu kenapa, ketakutan sekali barangkali. Ada seorang laki-laki yang mengenakan kaos putih, tampak jelas dikegelapan kalau ia sedang duduk di kursi yang tadinya kosong dengan sepiring lontong, ia memberi aba-aba kepadaku dengan tangan kanannya yg memegang sendok 'sini-sini, ayo makan'.

Aku takut, meski tadinya aku sempat berpikir kalau itu adalah orang yang tidur di kedai itu, dan memang sengaja makan saat dinihari karena tak ada waktu : karena lontong ini buka sampai jam 8 malam. Pria itu terus-terusan memanggilku, aku tak bisa melihat jelas wajahnya, tapi kulitnya coklat hampir ke arah putih, dan mengenakan topi biru seperti jeans. Entah kenapa aku tak bisa memalingkan wajah darinya, meski aku masih sadar, dan takut sekali, pria itu masih mengajakku kesana, wajahnya kelihatan tertawa, aku terlepas dari fokus ke arah wajahnya, mataku menjelajah kebawah meja, karena aku pecinta sepatu, aku sering auto-fokus ke sepatu setiap orang, dan dibawah meja aku tak menemui sepatu, pria ini tak memakai sepatu? aku fokuskan lagi, pria ini kok sepertinya tak memakai celana? Aku agak menunduk sedikit, penasaran, dan ketika aku menunduk, si pria yang duduk tadi hilang, aku kembali berdiri dan tersungkur kebelakang, kaget bukan kepalang si pria sudah berdiri di balik pagar dengan

Dengan jarak yang sangat dekat denganku (mungkin 70cm), dari posisi setengah tidur dan setengah duduk aku melihat wajahnya, ia tampak marah, wajahnya seperti orang-orang usia 35an, aku melihat ke ujung jalan disebelah kananku, kosong, dan dalam hitungan detik aku akan berlari. Ketika aku bergegas bangkit, pria itu menggeram dan berteriak "jangan lari! Ayo makan denganku" aku tak menghiraukannya, aku sudah 100 meter menjauhi kedai itu, dan sekali aku memutar kepala ku kebelakanh sambil tetap berlari, pria itu hanya menyandarkan kepala nya di pagar besi, wajahnya menghadap tanah : seperti orang yang sangat putus asa dan memiliki rencana untuk bunuh diri.

Aku sampai di depan rumah dengan nafas yang memburu, aku melihat jalanan, dan jalanan pun kembali membalas dengan jawaban yang sama : kosong, bisu, sunyi dan sepi. Ketika ingin membuka pintu, aku mendengar (atau perasaanku saja) langkah kaki seseorang, suaranya seperti sendal yang diseret-seret pada aspal, siapa itu? Disini tak ada orang ronda, dan memang, jam segini takkan ada lagi orang yang lewat apalagi jalan kaki, kecuali aku. Suara itu benar-benar nyata, dan semakin mendekat ke arahku, aku panik, membuka pintu pun terasa sulit dan lama, tapi akhirnya berhasil juga terbuka, dan aku tak sengaja menutup pintu dengan keras, untung saja orang tuaku tak bangun. Aku bergegas mengunci pintu dan bergerak ke jendela, mengintip siapa tadi yang ada di luar itu, alangkah terkejutnya aku, hampir saja berteriak jika aku terbawa emosi, dia adalah orang yang kujumpai di warung lontong tadi!



Minggu, 04 Februari 2018

DAHULU

Di atas meja warung Rosidi, sebotol tuak yang tinggal setengah, bersama empat gelas kosong sedang mengadakan pembicaraan yang hangat, purnama merekam dengan cahayanya, dimana malam menjadi latar yang baik, untuk sebuah 'tragedi',

Si botol membuka pembicaraan,

"Kita ini selalu disalahkan!" tegasnya,

Gelas-gelas diam, tak menanggapi, hanya menatap dengan arti pada si botol,

"Kenapa harus kita yang disalahkan?" Lanjut botol,

Gelas-gelas masih diam, tak lama sebuah diantara mereka menanggapi,

"Kau lah yang menyediakan, kami juga jadi korban, darimu dituang air dosa itu, lalu dari kami diminum, badan kami penuh dosa!"

Si botol mengayun-ayun badannya ke depan dan belakang, tak jelas kenapa, namun tampaknya ia mulai marah dan gelisah,

"Aku ini sebagai penyedia, mereka sendiri yang memilih untuk minum, lalu kenapa harus aku yang disalahkan?" Nada botol meninggi, lalu diam, memalingkan tubuh kaca, ia melompat-lompat menuju pinggiran meja, dan terjun bebas,

PRAKKKK

Gelas-gelas hanya diam kembali, bau tuak memenuhi udara, purnama diam-diam bergerak ke balik awan.

Aroma tuak itu, di mata para gelas warna nya kuning cerah, merupakan asap yang bergerak meliuk-liuk seperti ular di udara, ia berbisik kepada para gelas,

"Jika tak bisa menahan nafsu, jangan kau salahkan tuak yang menggoda"

Lalu ia terbang ke arah purnama.



Kamis, 21 Desember 2017

DIET BERAKHIR JERUJI

  DIET BERAKHIR JERUJI

   Adalah Joe, yang hanya bisa mengejar tukang bakso dengan pandangannya yang pilu, Joe merupakan mahasiswa yang bisa dikatakan maniak weight loss, yang mengatur diet sehat dan diet ketat---macam betul. Hari-hari ia isi dengan konsumsi makanan penuh gizi rendah kalori, plus dengan hati yang tidak menikmati. Joe tidak menyadari bahwa ia tidak terlahir kurus, kedua orang tuanya gemuk, hampir seluruh sanak nya gemuk, kecuali satu orang, yaitu Alex, si buncit yang humoris.
  
   Namun Joe percaya dengan motivasi dari seminar bisnis multilevel yang pernah digelutinya 5 bulan lalu, "tidak ada yang tak mungkin", "jika kalian ingin mencapai apa yang kalian inginkan", dan "sukses usia muda", tentu saja sukses bagi Joe adalah sukses menurunkan berat badan, apa yang membuat Joe tidak pernah berhasil adalah nafsu makan yang sama besar dengan badan, memang ia memakan sayur, dengan porsi yang sangat banyak.
  
   Suatu hari ia membaca sebuah artikel "Tertawa dapat membakar lemak" dan dengan sangat serius menanggapi, Joe sama dengan kedua orang tuanya, pemurung dengan muka berlemak---sulit dibuat tertawa. Namun hari dimana ia membaca artikel itu adalah hari dimana ia seolah terlahir kembali. Joe menjadi pribadi yang gampang sekali tertawa, bahkan saat seseorang berbicara serius (pada saat itu Joe menerima caci maki), sikap Joe yang berubah tentu mengundang berbagai penafsiran dari masyarakat, dan didominasi oleh pandangan bahwa ia telah gila.
  
   Sedikit namun sakit, Joe perlahan-lahan diabaikan, teman-temannya sering memandang paham ke arahnya ketika ia mencoba berbicara hal yang lucu, hanya merespon berupa tersenyum penuh simpati, keluarga Joe pun perlahan mulai mengabaikannya, dan ketika Joe menimbang badannya ,mendapati beratnya hanya berkurang sedikit, beberapa ons, ia meningkatkan intensitas 'latihannya'.
  
   Hingga pada suatu pagi, pihak keluarga sudah tidak kuat lagi dan melaporkan Joe ke rumah sakit Jiwa di pusat kota, dan sorenya datanglah sebuah avanza hitam ke rumah Joe, membawa lima orang dokter jiwa (orang tua Joe sudah mengatakan sebelumnya kalau Joe bertubuh besar dan suka melawan) dan menyeret paksa Joe ke dalam mobil, bahkan Joe tetap tertawa karena salah satu motivasi nya dalam latihan tertawa ini adalah "memandang positif dari segala sesuatu", singkat cerita, Joe harus menginap sampai waktu yang belum ditentukan di balik jeruji besi yang dicat putih, bersama penghuni-penghuni lain yang melakukan 'latihan' yang sama.

Selasa, 28 Februari 2017

Apa itu teman?

Dalam buku Socrates Café  karangan Christopher Phillip, ada pembahasan di bab III tentang teman, dan jika anda mau membaca, di buku itu sepertinya tidak ada penjelasan pasti, melainkan opini masing-masing dari partisipan Socrates Café yang disatukan dalam sebuah dialog, pada kesempatan kali ini saya juga ingin menjawab pertanyaan "Apa itu teman?"

Jawaban dari pertanyaan diatas menurut saya tidak perlu panjang-lebar, karena untuk menjawabnya kita harus tahu teman pada dasarnya, pada dasarnya teman adalah sesuatu yang menemani, saya katakan sesuatu karena teman tidak selalu seseorang---tidak harus manusia, bahkan benda mati juga bisa disebut sebagai teman. Dan membahas tentang apa itu teman jangan membahas tentang "teman adalah seseorang yang saling mengerti bla bla bla atau teman adalah orang yang selalu ada bla bla bla", itu bukan "apa itu teman", tetapi itu adalah "apa yang menjadikan seseorang teman yang baik", karena teman pada sejatinya adalah sesuatu yang me-teman-i kita, tidak selalu yang mengisi "butuh teman" dalam diri kita---kita tidak harus butuh teman untuk mendapat teman. Teman juga terlepas dari sifat dari teman itu, karen teman juga merupakan definisi wujud,  tidak peduli apakah sesuatu yang kita labeli sebagai teman itu baik ataupun buruk, teman yang buruk bukanlah teman karena tidak menghasilkan sesuatu yang positif? Teman yang buruk bisa, teman yang buruk akan membuat kita belajar darinya dan menambah pengalaman kita.

Jadi apakah teman itu? Apakah seseorang/sesuatu yang baik? Sesuatu yang bermanfaat? Sesuatu yang mengerti kita? Sesuatu yang ada untuk mengisi "butuh teman" dalam diri kita?
Bukan. Teman adalah sesuatu yang bersama kita, terlepas dari kualitas, sifat, manfaat nya adalah di luar pembahasan.

Mantra dan Yakin ; mana yang lebih penting?

Dalam budaya dan keilmuan spiritual, tentu saja kita tidak asing lagi dengan yang namanya mantra, mantra adalah sesuatu yang vital dalam keilmuan spiritual, demi tercapainya suatu tujuan ilmu, namun jika anda pernah atau cukup sering membaca buku-buku klasik maupun modern dengan tema spiritual, anda pasti sering menemukan bahwa syarat ampuhnya suatu mantra adalah yakin, nah yang sering menjadi pertanyaan adalah yang manakah lebih penting, yakin atau mantra itu sendiri?

Mantra menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah 1.  perkataan atau ucapan yang memiliki kekuatan gaib (misalnya dapat menyembuhkan, mendatangkan celaka, dan sebagainya), 2. susunan kata berunsur puisi (seperti rima, irama) yang dianggap mengandung kekuatan gaib, biasanya diucapkan oleh dukun atau pawang untuk menandingi kekuatan gaib yang lain.

Dalam hal ini saya akan membahasnya menurut dua sumber kekuatan gaib :

1. Bersumber dari dalam diri 

Manusia diciptakan sudah dengan potensi kegaiban, dalam fisika kuantum, semua benda yang ada di alam ini dasarnya adalah atom, pikiran manusia memiliki kekuatan elektromagnetis dalam mempengaruhi atom, namun ilmu pengetahuan berhasil membuktikan bahwa kekuatan elektromagnetis jantung 5000 kali lebih kuat daripada otak, ini dapat dibuktikan dengan magnometer sampai pada jarak 3 meter lebih diluar tubuh fisik. Jantung yang dimaksud tak lain adalah hati, keyakinan adalah ketetapan dan percaya dari dalam hati kita, dan sudah dijelaskan bahwa otak memiliki kekuatan elektromagentis juga, namun tidak sekuat jantung/hati. Mantra pada zaman modern ini bisa disebut sebagai affirmasi, atau pengulangan kata yang disengaja untuk mengkondisikan dan menciptakan suatu bentuk pikiran (mindset), bicara tentang affirmasi dan hubungannya dengan berhasilnya suatu tujuan mindset (kesuksesan, merubah sifat negatif, memperbaiki kondisi keuangan dan lain-lain) tidak akan berhasil jika hanya berpegang kepada affirmasi itu sendiri, sedangkan hati yang selaras dengan tujuan affirmasi tersebut adalah kunci terpenting tercapainya maksud dari affirmasi. Sudah jelas, pada konteks ini yakin lah yang berperan penting dalam terciptanya energi gaib.

2. Bersumber dari luar diri

Sumber kekuatan gaib dari luar diri adalah roh halus dan Tuhan, dalam konteks ini, mantra bisa dikatakan sebagai bahasa untuk meminta bantuan ataupun memerintah kekuatan gaib dari sesuatu di luar diri kita, dalam Islam ada yang namanya dzikir, yaitu pengulangan suatu kalimat atau kata untuk memohon kepada Tuhan, sedangkan dzikir tidak berlaku jika ditujukan kepada makhluk halus, karena dzikir sifatnya memuji, dan jika makhluk halus bersedia membantu karena suatu dzikir, tentulah itu atas perintah dari Tuhan. Mantra mungkin lebih cocok ditujukan kepada roh halus, walau mantra bersifat meminta bantuan atau memerintah, meminta bantuan itu tidaklah sama dengan meminta bantuan kepada Tuhan, mantra untuk meminta bantuan bisa dicontohkan seperti meminta bantuan kepada seseorang untuk melakukan hal yang masih bisa kita lakukan namun ingin kita permudah, sedangkan meminta bantuan kepada Tuhan biasanya adalah untuk sesuatu yang sudah sangat sulit dan hampir diluar kemampuan kita. Sekarang kita akan membahas kedudukan yakin pada konteks ini, yakin adalah etika dalam tercapainya suatu tujuan mantra (dalam konteks ini), bagaimanakah reaksi jika anda meminta bantuan kepada seseorang dan orang tersebut tahu kalau anda tidak yakin terhadapnya? Tentu saja ia enggan untuk membantu anda. Mantra dan yakin kedudukannya sama, berbeda dalam konteks kekuatan gaib yang bersumber dari dalam diri---yang dimana mantra dan yakin kedudukannya yakin lah yang lebih penting, dan bisa dipisah dengan yakin saja tanpa mantra. Dalam konteks ini, kedudukan keduanya sama dan tidak bisa dipisah, bagaimana anda bisa yakin orang akan membantu anda sedangkan anda tidak meminta bantuan? 

Jadi jawaban dari pertanyaan "Lebih penting Mantra atau Yakin" menurut pendapat saya adalah tergantung anda menggunakan konteks yang mana, konteks kekuatan dalam diri bisa sejatinya bisa digunakan seperti apa yang bisa kekuatan luar diri lakukan, jadi jawabannya adalah lihat mantranya dan tujuannya, apakah meminta bantuan kepada sesuatu diluar diri atau lebih seperti affirmasi kepada diri sendiri? Jika meminta bantuan kepada sesuatu diluar diri anda tentu tidak bisa memisahkan mantra dengan yakin, anda harus menjalankan keduanya, sedangkan jika mantra tersebut lebih kepada affirmasi, seperti contoh (ototku kawat tulangku wesi atau semua setan tunduk takluk...) itu sudah jelas termasuk ke dalam kekuatan dalam diri, kalau begitu anda hanya perlu yakin, sedangkan jika mantranya sudah seperti ayat-ayat itu termasuk ke dalam kekuatan di luar diri, anda harus membaca 'mantra' nya dan juga harus yakin.

Senin, 20 Februari 2017

Takdir

TAKDIR

Berawal dari pertanyaanku..
Tentang takdir, apakah takdir berlaku..
Dan berlaku pada segala hal yang dapat diliput indra..
Apakah takdir yang menjadikan bebatuan pecah..
Di tangan si praktisi ilmu shaolin..
dan apakah takdir juga, yang menjadikan batu yang mungkin tidak akan ditemukan..
Menjadi sebuah permata yang berharga?
Apakah takdir juga merambat pada kuah-kuah lontong yang berserakan..
Dan menjadi akhir dari sebuah proses yang sia-sia..
Apakah takdir menempatkan kuah lontong pada mangkuknya..
Dan menjadikan kuah lontong itu disantap para pengusaha?
Nah kawan, apakah karena takdir suatu tanah menjadi sumber perpecahan?
Ataukah karena kehendak Tuhan yang katanya menyembunyikan hikmah pada segala sesuatu?
Paku kan pandangan pada bungkus-bungkus makanan yang berserakan..
Apakah mereka dijadikan hanya untuk pemikat yang akan selalu dibuang tanpa dikenang?
Lepaskan pandangan pada takdir koran yang hidup untuk hari itu..
Lepaskan!! Lepaskan kawan..
Lepaskan tanyamu pada bata yang berserakan karena tenaga dalam..
Lepaskan!! Lepaskan kawan..
Lepaskan harumu pada butir-butir nasi yang terbuang pada akhir sebuah proses.

Kamis, 09 Februari 2017

Parallel (9) : Reality is your Choice (END)

   Kami akhirnya memberhentikan motor kami tepat di belakang inova itu, yang tak lain adalah ayah, aku melirik sebentar ke arah hutan tempat pintu berada,

"Ayah?" Bang Fad memanggil ayah lewat jendela samping supir yang dibuka.

"Apa yang kalian inginkan disini?" Jawab ayah dengan tenang dan turun dari mobil

"Bagaimana ayah tau kalau..."

"Fad, Fadal anakku, kita bukan baru bertemu kan? Jangan berpikir kalau kita baru kenal kemarin sore"

Bang Fad hanya diam menatap ayah dengan memasang wajah bingung,

"Ayah tau pasti bagaimana kelakuanmu"

"Jadi ayah sengaja mengatakan pergi kerumah teman karena..."

Ayah tersenyum, dan berjalan mendekati bang Fad, sedangkan aku berada di belakang bang Fad hanya berdiri seperti yang selalu aku lakukan,

"Kemari nak, ada apa disana? Apa ada masalah disana? Apa perlu ayah membantu? Sampai kau berkeinginan kuat untuk kesini?"

Bang Fad menoleh ke arahku sebentar,

"Izinkan Fadal masuk kedalam sana bersama Gugus"

"Baiklah, kalian akan kembali kan?"

Bang Fad menoleh lagi ke arahku, dan tersenyum, aku tau senyum itu adalah senyum kesedihan,

"Kami tidak tahu yah" bang Fad mengangkat bahunya kemudian menunduk

"Hahaha, kalian sudah dewasa, dan bukan anak-anak lagi"

Sekali lagi kami berdua hanya diam,

"Sini, peluklah ayah jika ini adalah waktu terakhir kita, sini" ayah memanggilku

   Dan kami berdua memeluk ayah dengan erat, jujur aku tak kuat menahan emosi ku, hingga meluapkan air mata, setelah melepaskan pelukan, aku memandangi setiap detail dari ayah, dan berulang-ulang, tentu aku akan bertemu lagi dengan ayah, tapi bukan ayah yang ada di depan aku saat ini, ayah yang NYATA

"Masuklah kesana nak, ayah akan menunggu saja dari sini, ayah akan menunggu sampai kalian keluar, berapa pun lamanya" ayah senyum lalu kembali murung, dan kembali ke mobil dalam keadaan tertunduk

   Kami berdua kemudian memasuki hutan itu, dan benar, pintu itu masih disana, pintu itu ada dan tidak pernah dikunci, setelah sampai di dalam seperti sebelumnya, hanya ada tanah kosong dan perasaan aneh, dan kami juga menoleh ke belakang, dan sesuai dugaan, pintu itu sudah menghilang, untungnya masih ada pintu di depan, ketidaknyataan sudah hilang di depan mata, sebagai gantinya kenyataan lama akan kami hadapi, sudah sesuai dengan pilihan kami.
   Ketika bang Fad membuka pintu itu, dan kami berjalan ke depan, memang gelap sekali tapi kami tau kami hanya perlu jalan lurus ke depan sana, dan tak lama kemudian aku mendengar suara inova kami, kamipun berlari kesana dan berdiri di pintu samping supir,

"Jangan bilang kalian cuma masuk kesana dan tidak melakukan apapun, karena kalian datang lebih cepat dari laki-laki yang buang air kecil!" kata ayah setelah membukakan kaca,

"Jadi apa sebenarnya yang kalian lakukan?" Ayah berbicara dari bangkunya, mendongakkan tubuhnya mendekat ke arah kami,

Aku dan bang Fad hanya menoleh satu sama lain, dan tersenyum aneh,

"Tidak ada yah" jawab bang Fad sambil tersenyum hingga menampakkan giginya

"Oke...." ayah menghidupkan mobil,

"Jadi apakah kau jadi tidur di rumah temanmu malam ini?" Tanya ayah sebelum menutup kaca,

"Jawabannya adalah apakah ayah jadi pergi ke rumah teman ayah" jawab bang Fad,

Sontak kami bertiga diam, dan tiba-tiba ayah tertawa dan kamipun ikut tertawa,

"Ayah bisa kesana besok malam!"

"Fadal juga!"

   Ayah membunyikan klaksonnya dan pergi meninggalkan kami, setelah itu selama perjalanan pulang, bang Fad tidak ada mengucapkan sepatah katapun denganku, aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya saat ini, tapi yang pasti aku belajar suatu hal dari kejadian ini ;

"Jangan menyalahkan kenyataan yang tampak salah, karena kau akan berterima kasih padanya jika kau berhasil melewatinya"

Terima kasih kuucapkan pada semuanya, ayah, terutama polisi-polisi, nenek, Vivi, Ibu, kakek, saudara-saudara lainnya, dan tidak untuk bang Fad..

Karena hanya dia yang NYATA,

Hahaha.

Parallel (8) : Kepo

   Tibalah gelap menyelimuti langit, yang menyisakan sedikit goresan merah tebal, kadang kuning ikut disana, sang purnama yang tadinya malu-malu, kini sudah percaya diri untuk menampakkan dirinya pada dunia, cerita pagi tadi sudah ditutup dan kini saatnya bagi ia untuk menciptakan cerita sendiri, tentang apa saja yang terjadi dibawah pengawasannya.
   Selepas mengobrol di gazebo sore tadi, bang Fad pergi ke kamar Ayah di atas sedangkan aku menonton TV dan dibuat bosan setengah mati ole percakapan dan nasehat nenek yang entah berapa puluh kali sudah diulangnya, tapi sebagai cucu yang baik, setidaknya seperti itu kata nenek, aku tetap mendengarkan dan sesekali bertanya untuk menunjukkan kontribusiku pada rencananya yang bertujuan membuatku menjadi anak yang baik dan berbakti.
   7 menit lagi pukul 7 malam, kebetulan sekali bang Fad baru saja turun dari tangga, dan langsung keluar dari rumah, tentu saja aku mengikutinya, dan tentu saja meminta sedikit uang jajan sama nenek.
.....

"Jadi apa rencanamu?"
"Meminjam kunci motor bang Billy"
"Loh bukannya abang sudah hampir 1 jam dikamar ayah?"
"Iya, kata ayah dia mau makai mobil pergi kerumah temannya"
"Ooh, yaudah aku udah ada uang bensin"
"No..no..no" bang Fad menunjukkan tiga lembar kertas merah
"Uang siapa?"
"Uang taksi tadi pagi ditambah sisa dompetku"

   Kami menuju garasi sebelah kiri, yang belum dikunci karena belum waktunya (garasi dikunci pukul 11 malam), dan bang Fad yang membawa motornya, dan kamipun bergerak perlahan menjauhi rumah nenek.
   Kami tidak langsung pergi ke lokasi pintu itu, tetapi harus mengisi bensin, dan kami lupa kalau ini malam minggu, perlu waktu 15 menit sampai tiba giliran motor kami.
.....
   Sejujurnya aku sedikit takut kami mengemudi di jalan lintas di jam-jam malam, karena ramainya mobil dan jarang ada motor, meskipun kami berdua memakai helm, itu tidak bisa memastikan kalau kami masih hidup jika sampai bertabrakan dengan....ya Tuhan, kenapa aku memikirkan yang aneh saat diperjalanan.

"Pelan dikit bang!" Teriakku, karena suaraku di kecepatan 100km/jam hampir tak terdengar.

   Dilihat dari cara bang Fad mengemudi, aku curiga kalau dia punya cita-cita di hati kecilnya yang tak tersampaikan, yaitu menjadi pengikut rossi, caranya menyelip dan menyalip tanpa banyak menurunkan kecepatan sering sekali membuat jantungku hampir copot, tapi aku tidak mau berpikir yang macam-macam malam ini.

"Berapa menit lagi?!!"
"Apaa???"
"Berapa menit lagi?!!" Ulangku,
"Apanya??"
"Kita sampai!?"
"Sampai? Oohh sampai, mungkin 10 menit lagi, jangan banyak bertanya aku lagi mengemudi!!"

   Setiap 10 meter ada dua mobil yang berpapasan dengan kami, karena banyak yang ingin pulang kampung di hari libur ini, kebanyakan dari pengemudi mobil suka menyorotkan lampu jauh, dan anehnya ketika kami sudah hampir berpapasan dengannya.
   Dannn....50 meter lagi adalah lokasi yang dituju, tapi tunggu...

Kenapa ada mobil inova hitam yang dipinggirkan di dekat pintu itu?

Parallel (7) : Exist

Rumah Nenek, 12 Juni 2016, pukul 15:29 Waktu Paralel

   Tidak mungkin dipungkiri lagi, begitu kami masuk ke dalam, bang Fad dan ayah langsung ditanyai oleh saudara-saudara yang kebetulan sudah sampai, sedangkan aku? Aku hanya pemain figuran, aku hanya mengikut dan tidak melakukan apa-apa, jadi mungkin mereka berpikir tidak ada gunanya bertanya kepadaku

"Gimana ceritanya kok bisa..."
"Makanya kamu juga harus hati-hati.."
"Udah-udah.."
"Kamu hati-hati.."
"Udah yang penting tidak ada apa-apa.."

   Aku meninggalkan kerumunan dan berjalan menuju halaman belakang, mata bang Fad terfokus ke arahku ketika meninggalkan ruang tamu, aku tau dia akan menyusulku nanti, aku hanya ingin beristirahat, capek juga rasanya walau tidak ada yang kulakukan, mungkin karena ketegangan yang bertahan selama beberapa saat tadi, dan akhirnya kusandarkan bahuku pada sisi gazebo yang terbuat dari kayu mahoni dengan ukiran daun-daun.
   Matahari perlahan-lahan turun, dan suasana sekitar sangat teduh, sambil menunggu bang Fad, aku hanya menatap lurus, menatap kosong, berpikir tentang saat kecil dahulu, aku melihat sendiri gazebo ini sedang dibangun oleh kakek, saat itu aku baru dua bulan berada di Sekolah Dasar, juga teringat saat bang Fad mengambil sebilah kayu untuk di buatnya ketapel, sedikit lucu karena kakek tidak tahu bahwa bang Fad suka sekali mencuri buah tetangga-tetangga kami dan ketapel itu tentu saja sangat membantunya, waktu cepat berlalu dan kakek sekarang hanya duduk di kursi rodanya menunggu habisnya senja, seperti yang sekarang aku lakukan.

"Sudah lama? Ahh..aku membawakan teh untukmu, minumlah" bang Fad duduk di depanku, kami hanya dibatasi meja persegi yang terletak di tengah gazebo.

"Jadi bagaimana?"

"Bagaimana apanya?" Tanya bang Fad memandangku aneh

"Dunia paralel" hanya itu yang kukatakan , aku kemudian meneguk teh buatannya, tehnya cukup enak untuk dibuat oleh seseorang seperti bang Fad

"Hahaha" bang Fad tertawa setelah meneguk dan menghembuskan nafas yang panjang melalui mulutnya

"Aku tidak tahu, menurutmu kita harus kembali?"

"Ya..gimana ya, mereka kan tidak nyata bang?"

"Nyata? Gus, kau tahu pertama kita tahu bahwa ini adalah kenyataan yang tidak kita inginkan, kan?

"Hmmm" aku tidak menatapnya dan hanya meneguk teh.

"Tapi entah bagaimana, kadang yang terjadi adalah bahwa kenyataan yang tidak kita inginkan itu adalah tempat dimana kita banyak belajar sesuatu" ia tersenyum tipis

"Belajar maksudmu belajar apa?"

"Sekarang aku tidak tahu mana yang nyata dan tidak nyata, tapi kau lihat lah, mereka membantu dan menyelamatkan hidupku, mereka bukan kenyataan pahit yang harus kita hindari Gus, meski awalnya begitu, dan mereka sama saja dengan keluarga kita yang NYATA"

Aku hanya diam menatapnya setelah ia menegaskan kata nyata tadi

Bang Fad menarik nafas yang dalam, kemudian mengeluarkannya dengan lega,
"Atau jangan-jangan nyata atau tidak nyata itu hanya persepsi kita saja? Aku lihat mereka sama saja dari segi apapun yang ingin kau lihat, aku bisa saja berpersepsi kalau kau bukan adik NYATA ku"

"Oke jadi ke intinya saja, kita akan kembali ke pintu itu atau tidak?" Aku tidak ingin membuang-buang waktu karena pertanyaan itu dari tadi kusimpan saat mendengarkan filosofi-filosofi bang Fad

Bang Fad meneguk lagi tehnya,
"Jam 7 nanti, temui aku diluar, aku akan mengatakan kalau kau ikut menginap kerumah temanku di komplek pemuda"

Ada kilatan jahil dimata bang Fad selaras dengan senyum bejatnya, kau tidak perlu terlalu lama berpikir untuk mengetahui maksudnya.

Parallel (6) : Learn

"Selamat pagi, saya kapolsek perbatasan Setia Hadi, ingin memberi tahu bahwa supir taksi dengan nomor plat D 2549 AB telah membawa lari seorang pemuda, bisakah anda melacak lokasinya sekarang juga?...baik saya tunggu"

   Aku hanya menunggu di mobil, sedangkan ayah berbicara bersama petugas lain, yang ada dalam pikiranku saat ini hanyalah bang Fad, maksudku, aku hanya tidak menyangka, baru beberapa menit kami berbicara, dan....ya, aku tidak bermaksud mengatakan bahwa, itu hanya kemungkinan, mungkin dia bisa saja dibunuh, mungkin kau akan berkata kalau aku terlalu cemas, tapi dalam sepekan ada 3 kasus pembunuhan di daerah ini, dan yang terakhir adalah seorang wanita bukan keturunan Indonesia, ditemukan tanpa tangan dan kaki di hutan, dan itu terjadi setelah ada pemberitahuan bahwa ia diculik setelah memesan sebuah taksi!
.....
"Kita berangkat" Ayah masuk dan langsung menyalakan mobil
"Ayah hanya memikirkan hal yang terburuk, bukan karena ayah tidak bisa berpikir..."
"Aku tau ayah, jalankan saja mobil nya, berdoa dan kita hadapi apa saja yang nanti akan terjadi"

   20 menit berlalu dan kami sampai pada sebuah hutan, yang lokasinya sekitar 40km dari kantor polisi, pertama kali turun dari mobil dan menginjakkan kaki di hutan ini aku merasakan sesuatu yang tidak enak, 5 orang polisi termasuk kapolsek berada di depan kami dengan revolver di tangan masing-masing, kami berjalan dengan perlahan dan memerhatikan sekeliling, telpon dari ibu terus berdering, dan setiap berdering aku mematikannya karena kami tak ingin ada suara disini.
   Kapolsek itu memberi aba-aba untuk berhenti dengan tangannya, aku berusaha menjangkau sejauh mungkin apa yang bisa dilihat, dan tampaknya beberapa puluh meter dari sini ada sebuah rumah, mungkin kau akan menyebutnya kandang sapi.

"Kalian tunggu disini, dan jangan masuk sampai saya beri aba-aba, mengerti?" Kapolsek dan rekannya dengan perlahan berjalan ke arah rumah kayu itu
"Dan tetap awasi sekeliling kalian" lanjutnya sambil tetap berjalan

   Keseringanku melihat film-film penangkapan sandera akhirnya menjadi kenyataan bahwa aku telah menghadapi situasi yang sama, kalian akan merasakan seolah kalian bisa menahan nafas untuk waktu yang sangat panjang, begitu juga ayah, yang terpaku pada ujung pandangannya, para polisi itu sudah sampai di sisi-sisi rumah, 3 bagian kiri dan 2 bagian kanan, berdasarkan film-film yang kutonton, mereka akan mendobrak pintu itu kurang dari 1 menit lagi,

"Angkat tangan! Letakkan senjata kalian!" Suara mereka terdengar kurang jelas sebenarnya, tapi kalian pasti tahu apa yang diteriakkan kapolsek itu
"Dor!! Dor!!"
....
....
   Bang Fad kembali dalam keadaan selamat, keluar dari rumah itu dia langsung berlari ke arah kami, sedangkan polisi-polisi masih di dalam,

"Aku benar-benar takut ayah, maafkan aku" bang Fad langsung memeluk ayah begitu sampai ke kami, lalu ia melepaskan pelukannya dan melihat ke arahku, tentu saja dengan sebuah senyuman yang jarang ia perlihatkan kepada keluarganya, dia takkan memelukku,
....
   Polisi itu akhirnya membawa mayat sang pelaku dan kami berjalan menuju kantor, untuk dimintai keterangan, sedangkan taksi sang pelaku dibawa oleh polisi sebagai barang bukti, kecemasanku sudah hilang, ketakutanku sudah terjawab, dan aku hanya menikmati perjalanan menuju kantor sambil terus tersenyum seolah aku bisa belajar banyak hal, hahah hidup ya kadang, kalian pun pasti tau, banyak hal yang..., tunggu..
Aku melewatkan satu hal.

Senin, 06 Februari 2017

Parallel (5) : What make you doesnt leave

"Jadi gini, aku pernah baca tentang teori yang masih konspirasi, yaitu tentang dunia paralel, yang kau lihat dan yang kau alami saat ini, ada berjuta bahkan millyaran dunia yang berbeda namun sama, dan kita ada di disalah satu millyaran tersebut"

   Percakapan kami di halaman belakang rumah nenek kali ini adalah percakapan paling serius seumur hidupku berbicara dengan bang Fad, oh ya, halaman ini hanya seluas kira-kira 20x30m, ada satu gazebo kayu yang kami duduki sekarang ini, di kiri dan kanan dibatasi oleh dinding rumah nenek sendiri, 'keluarga'ku mungkin sibuk berbicara dan bertanya tentang kehidupan belakangan ini, sama seperti apa yang selalu mereka lakukan setiap berkunjung kesini
"Gus, aku akan memesan taksi, sedangkan tugasmu adalah berpura-pura..."
"Berpura-pura bahwa abang kabur?"
Bang Fad membuka matanya sedikit lebih lebar, dan sekejap raut wajahnya berubah menjadi wajah seperti seseorang yang tahu bahwa dia berhasil mengajarkan abjad kepada anak berusia 3 tahun,
"Kau harus menunjukkan bakat terpendammu itu kepadaku"
Bang Fad lalu bangkit dari tempatnya
"Eh, tapi apa abang tau tempat persisnya dimana?"
"Itu terlalu mudah untuk orang yang berpikiran panjang sepertiku" bang Fad menunjukkan google maps dan lokasi pintu tersebut sudah ditandainya, gila, aku bahkan menduga bahwa dia tidak peduli dan langsung tidur begitu masuk ke dalam mobil
"Akan kukirim lokasi nya saat diperjalanan nanti, sekarang aku harus berpura-pura pergi kekedai dan meminta duit dari Ibu"
.....
"Kabur?! Mau kemana abangmu itu?"
Seisi rumah kaget dan ayah buru-buru mencari kunci mobil.
"Ayo Gus, Ibu dan yang lain tunggu disini"
.....
   Waktu di jam tanganku menunjukkan pukul 9 tepat, ayah tampak sangat tidak tenang mengendarai mobil, ia terus menerus melirik ke kiri dan kanan dengan cepat, beberapa kali aku melihatnya ingin mengatakan sesuatu, atau mungkin mengumpat, namun ia tahun dengan menghembuskan nafas yang panjang.
   Kami sudah 80km menuju jalan pulang, dan beberapa menit lagi akan sampai ditempat tujuan, aku bahkan baru menyadari betapa cepatnya bang Fad berpikir dan beraksi, orang biasa mungkin akan terpikir sebuah ide dan mengulangnya di dalam pikirannya untuk beberapa hari.
   Tiba-tiba hpku berdering, aku belum sempat mengecek penelponnya,
"Berikan kepada ayah" ayah mengulurkan tangan kirinya ke arahku
"Fad?Fad dimana kamu?"
"Selamat siang, apakah ini keluarga Fadal Halim?"
Ayah tersentak dan langsung meminggirkan mobilnya,
"Iya pak, benar sekali"
"Ya Tuhan" dengan suara pelan sekali yang hanya terdengar olehku, wajah ayah seperti ingin menangis.
"Mohon maaf pak, taksi dengan berplat D 2549 AB telah mencuri Fadal Halim dan kami akan melacak pelakunya tepat saat telpon ini ditutup, ada pertanyaan?"
"Ba..ba, ehm, bagaimana bapak bisa tahu?"
"Ya, kami menemukan sebuah dompet dan sebuah kertas di depan kantor kami, kemungkinan saudara Fadal sudah mengetahui aksi sang pencuri"
"Apa, apa isi kertas tersebut pak?"
"Disana hanya tertulis nomor bapak, sangat cerdas"
"Apa kami boleh mengikuti bapak? Oh ya apakah ada ponsel juga yang mungkin dilempar anak saya pak?" Ayah menghidupkan mobil
"Boleh, pergilah ke kantor kami di perbatasan, tidak ada, kami sudah mengecek sekitar begitu menemukan dompet dan kertas itu"
"Baiklah pak kami kesana"
"Terima kasih"
   Wuuuunnngg dan mobil kami melaju dengan cepat, aku ingin menghubungi bang Fad, tapi ada sesuatu dalam diriku yang mengatakan jangan, dan sesuatu itu juga membuatku berfirasat bahwa aku tidak akan pernah bertemu bang Fad lagi.

Parallel (4) : Approve Me

"Aku tahu itu makanya aku memilih untuk berpura-pura tidur, tunggu saja ketika kita sampai dirumah nenek, dan lihat jamnya, dan jangan kirim aku pesan lagi, aku ngantuk"

   Huft, aku merasa ada teman, setelah beberapa menit kesepian dan kecemasan menyerangku, akhirnya aku merasa ketika aku dan abangku, sama-sama menyadari, aku merasa kalau aku tidak sendiri di situasi ini. Jujur, aku tidak bisa menikmati perjalanan ini, dan sepanjang perjalanan aku beberapa kali berpikir bahkan aku sekali mencubit diriku, meyakinkan diriku bahwa aku tidak sedang bermimpi, dan sisanya aku hanya berharap yang terbaik ketika aku menginjakkan kaki dirumah nenek, semoga.
....
   Hari sudah menjelang pagi, aku tahu itu karena aku bisa melihat jelas merk parfum mobil yang diletakkan di tengah kaca depan,  ibuku, ayah dan pastinya Vivi masih terjaga ketika aku membuka mataku, dan bang Fad melihat-lihat pemandangan dari kacanya, menurut pengalamanku berkunjung kerumah nenek, kami akan tiba kira-kira 10 menit lagi.
Bang Fad tidak memandangiku sedikitpun pagi ini, ada perasaan yang kurang dari 10 persen dari diriku yang mengatakan, bahwa jangan-jangan bang Fad juga tidak nyata, sama seperti tiga orang di dalam mobil ini, entahlah, aku tidak bisa menyimpulkan kenyataan dari apa yang aku lihat.
....
"Ayo, turunkan tas kalian masing-masing, ayah tidak akan mengangkatnya"
   Akhirnya kami sampai dirumah nenek, aku masih ingat sekali terakhir kali aku kesini, dan tidak ada yang berbeda, rumah dua tingkat, dengan warna coklat yang lunturnya tidak terlihat, ciri khas rumah-rumah tahun 60-an, ventelasi-ventelasi kayunya masih lengkap, hanya saja di teras depan sana kursinya bukan kursi goyang seperti terakhir kali aku kesini.
   Kami berjalan menuju pintu depan dengan menenteng tas masing-masing, pintu yang berwarna hijau tua, disana digantung ukiran kayu bertuliskan 'welcome' dan dihiasi bunga-bunga replika. Ayah mengetuk pintu, dan kami hanya menunggu beberapa saat sampai ada seorang perempuan tua, dengan wajah yang bersinar lengkap dengan senyumnya, menyambut kedatangan keluarga yang sudah 3 tahun lamanya.
   Bang Fad menabrak bahu kiriku, dan mendahului ku untuk menyalam nenek, kau pasti tahu apa makna dari tabrakan bahu yang disengaja itu?
.....
   Sampai di dalam, yang mana ketika kau masuk kerumah nenekku yang pertama kau lihat adalah sepaket meja dan kursi makan khas tahun 70an, lalu kau pasti akan melihat ke kanan, ke sebuah TV yang dizaman ini tidak akan kau temui lagi, ini adalah ruangan random, dari makan, nonton TV, dan ngumpul diruangan ini, TV yang kau lihat tadi ada di bagian kanan, sejajar dengan motor BSA yang juga sangat sulit kau temui di zaman ini, dan ruangan kami, ya ruangan kami ada di lantai atas.
   Oh ya, shit, aku hampir lupa melihat jamnya
"Ayo angkat barangmu dulu dan temui aku di belakang" entah bagaimana abangku bisa tahu kalau aku sedang memikirkan masalah itu
   Sambil menaiki tangga kayu itu, perlahan-lahan kulihat jam tua yang berdiri itu, yang semakin lama semakin tak terlihat seiring berjalannya aku ke atas..
...
Memang menunjukkan waktu yang 30 menit lebih cepat dari jam tanganku dan jam hp bang Fad.

Paralel (3) : Weird

   Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami setelah saling menatap selama kurang lebih satu menit, terlihat wajah panik, cemas dan penuh tanda tanya di masing-masing kami.
"Aku merasakan sesuatu yang aneh" ujar bang Fad memecahkan suasana hening.
"Ini seperti, ah aku tidak bisa mendeskripsikannya, kau bisa merasakannya Gus, energi ini" bang Fad merentangkan tangan kanan nya
Aku masih tidak mengerti apa maksud abangku yang aneh ini
"Ayo kita ke pintu di depan itu, sebelum hal yang sama terjadi" tanpa memperdulikan apakah aku sudah mengerti atau tidak, apakah aku akan mengikutinya atau tidak, bang Fad yang individual mengambil langkahnya dengan cepat dan berlari meninggalkanku.
"Lebih cepat!" Tegas bang Fad dengan nafas yang tersengal-sengal.
.........
   Bang Fad langsung menarik pegangan pintu besi tua itu, dan benar, pintu itu tidak terkunci, sama seperti pintu yang sebelumnya kami masuki.
   Dari pertama pintu itu baru terbuka kami sudah mendengar suara mobil, yang tidak salah lagi adalah mobil kami, dan ternyata benar, mobil itu ada disana, bang Fad tampaknya tidak mempunyai pikiran yang sama denganku, pikiran yang masih bertanya mengapa ada mobil yang sama, dan apakah itu keluarga kami? Bang Fad langsung berlari ke arah mobil itu, ya, aku harus mengikutinya, lebih baik melakukan dahulu sebelum menyesal, dan bertanyalah kemudian setelah aman.
......
"Lama sekali, hampir satu jam kami menunggu kalian?!" Tegas ayah, sambil menginjak gasnya
   Awalnya aku tidak ada pikiran apapun, toh itu memang ayah, ini memang mobil kami, dan isinya memang keluarga kami, disamping ayah memang Ibu dengan tas kecil kulit yang berwarna coklat dipangkuannya, dan dibelakang Vivi yang masih terjaga dengan gadget di tangannya, semuanya aman, tidak ada yang aneh.
"Ayah baru tau kalau ada laki-laki, yang sudah dewasa buang air sedemikian lamanya" ayah menggerutu sambil tetap menyetir
   Pada saat pertama ayah mengatakan hampir satu jam, aku hanya menanggapinya sebagai sindiran, tetapi setelah pengulangan yang kedua dan dengan wajah yang serius dan marah sedikit terpancar dari wajah ayah, aku akhirnya merasa ada yang janggal, aku melihat bang Fad yang sudah tertidur di sebelah kiriku, lalu kuliat ke depan, ke arah jam mobil, menunjukkan pukul 3:50!
Benar! Hampir satu jam kami diluar, lalu dengan perlahan aku lirik jam di tangan kiriku, dan jantungku beserta aliran darahku seolah berhenti, karena angka nya menunjukkan 3:27, tidak, jam mobil kami tidak mungkin cepat beberapa menit, cepat atau lambat satu menit pun tak pernah, aku tahu sekali itu, badanku tetap tegak tanpa menyender ke kursi mobil, kuperhatikan sekelilingku tanpa menggerakkan kepalaku, lalu hanya satu yang ku percaya, yaitu bang Fad, karena dialah yang nyata dari semua ini, yang lainnya, ayah, ibu bahkan Vivi dengan aktingnya yang sangat bagus dan natural memainkan gadget tanpa terlihat sedang menjebak kami.
Dengan perlahan kuambil hp ku di kantong kanan, dan mulai menulis pesan untuk bang Fad.

Minggu, 05 Februari 2017

Parallel (2) : Door of Parallel

   Mengemudi di pagi sekali tidaklah sama dengan mengemudi di malam hari, meski keduanya hampir sama dalam penerangan, mengemudi di jam 2 pagi seperti berangkat ke kantor lebih awal, sedangkan mengemudi di malam hari sama seperti macet di siang hari.

"Gimana ma, ada telpon dari Ibu?" Tanya ayah melirik sebentar ke arah Ibu,  lalu kembali fokus ke jalan.

Ibu mengecek Hp nya,
"belum pa, tapi kalau gak salah tadi kata Ibu bang Aris sudah berangkat, pas waktu kita sedang bersiap-siap tadi, mungkin keluarga mereka sebentar lagi sampai" Ibu kembali memasukkan HP nya kedalam tas kecil yang dipangkunya.

   Bang Fad selalu tidur di perjalanan, sedangkan Vivi tidak banyak omong, bahkan ketika kita berpikir dia tidur, dia tetap terjaga, Vivi jarang sekali tidur di perjalanan.
   40 menit berlalu dan sebentar lagi jam 3 pagi, sudah mulai berdatangan truk-truk dari luar kota yang menuju ke kota kami, kecepatan mereka harus diwaspadai.

"Aduduh Aduh, yah berhenti bentar, Fad mau pipis" Bang Fad tiba-tiba bangun, menepuk-nepuk jendela mobil disampingnya.

"Tunggu sebentar" Ayah menjawab sambil melihat ke kiri dan depan, mencari tempat yang pas sambil tetap waspada ke jalan.
Akhirnya ayah meminggirkan mobilnya, di depan sebuah kebun sawit yang cukup luas

"Gus, kawanin abang bentar, ayo" Bang Fad lalu turun, begitu juga aku turun di pintu yang sudah dibuka bg Fad, soalnya pintuku mengarah ke jalan.

   Bang Fad jalan beberapa meter menjauhi mobil, suasana gelap dan aku hanya mendengar bunyi gresek dari bang Fad yang melangkah, aku hanya membiarkannya karena tidak ada perasaan atau pikiran negatifku tentang kebun sawit ini, ya benar tentang hantu ataupun binatang liar.

"Jangan lupa minta izin dulu bang" teriakku, karena kepercayaan masyarakat kami, jika ingin buang air di daerah yang tidak kita kenali, harus beri salam atau minta izin, kalau tidak kita akan sial dan diikuti oleh 'pemiliknya'.

......
  
   Aku liat jam di tangan kiriku, jam tangan hitam kulit pemberian kakekku, sangat lengkap, dari detik, menit, cuaca, tanggal bahkan suhu sekitar, dan ini sudah lebih 1 menit dan bang Fad tidak bersuara, aku tetap sabar..

"Gus...sini bentar, sini" baru saja aku curiga, bang Fad memanggilku.

   Aku berjalan lurus ke depan, masih ada sedikit pencahayaan jadi aku tidak memerlukan senter.

"Gus, coba hidupkan senter, ada yang aneh" bang Fad mendorong-dorong pundakku

   Aku segera mengambil HP ku di kantong celanaku, lalu menghidupkan fitur senter yang tersedia.

   "Apa?! Apa ini ?!!" Suara bang Fad cukup keras untuk terdengar dalam jarak 5 meter, tapi mungkin tidak terdengar oleh yang di mobil,

   Di depan kami ada sebuah pintu tua terbuat dari besi, yang tingginya kira-kira 11 meter, dan tampaknya pintu ini berada diantara dinding yang ditutupi oleh tumbuhan-tumbuhan liar.

"Barang kali ini pintu menuju ke tempat yang punya kebun ini bang, sudah ayo kembali ke mobil" ujarku sambil membalikkan badan dari pintu itu, masih mendengar suara mobil kami dari jarak ini.

"Srek...." Bang Fad mendorong pintu yang ternyata tak dikunci itu.

"Tidak dikunci" ucap bang Fad sambil menoleh ke arahku, raut wajahnya seperti penasaran dan senang yang bercampur menjadi satu.

"Jangan bang, itu gak sopan!" Tegasku
Bang Fad tanpa mempedulikan ucapanku langsung main cucuk masuk ke dalam pintu tersebut, mau tidak mau aku harus mengikutinya.

"Bang!" Teriakku.

   Setelah masuk, kamipun berada di sebuah lapangan, ya setidaknya tampak seperti lapangan kosong, yang sangat luas, tapi diujung mata kami, yang jaraknya kira-kira 70 meter, ada sebuah pintu yang sama dengan pintu tadi, ah ngomong apa aku ini..

"Bang kita harus kembali ke mobil sekarang" ucapku untuk yang kedua
kalinya, sambil membalikkan badan

....

....

dan mendapati pintu tadi sudah tidak ada.

Parallel (1) : Keluarga Kami

   Hari ini kami akan mengunjungi rumah nenek, rumah nenek memakan 5 jam perjalanan melalui mobil dari tempat kami, aku, ayah, ibu, abang dan adikku ikut, kami sekeluarga ikut semua. Jam menunjukkan tepat pukul 2 pagi, sebenarnya aku tidak ingin ikut karena temanku, teman dekat, akan kesini 2 hari lagi, namanya Rian, kami itu teman semenjak TK, dan SMP, lalu kemudian Rian memutuskan untuk mengikuti ayahnya yang pindah ke Jakarta, Ayah dan Ibu Rian bercerai 7 tahun yang lalu, sedangkan ibunya tetap disini, kami sudah tidak pernah tatap muka kurang lebih, ya sekitar 5 tahun, tapi tetap saling mentionan di twitter heheh, makanya itu aku sebenarnya malas sekali untuk ikut, tapi karena satu keluarga ikut semua yaa apa boleh buat, ga mungkin dong aku dirumah sendirian, selama 2 minggu!
   Dan barang-barang pun sudah kami kemas, aku sebagai anak ke dua dari tiga bersaudara cukup sering menjadi tulang punggung keluarga, dari mencuci, menyapu, bahkan kadang memasak, abangku, Bang Fad, adalah orang yang sangat pemalas, meski demikian, ia orang yang boleh di akui kecerdasannya, Bang Fad merupakan murid terpintar di Kampusnya, iya kampusnya bukan fakultasnya, Bang Fad merupakan orang yang bisa diandalkan jika tidak ada pilihan, aku dan bang Fad beda 4 tahun, sedangkan adikku, Vivi, yang masih menduduki bangku SMP, merupakan cewek yang penurut, dan tidak banyak bicara, tidak pintar, tetapi juga tidak bodoh, biasa-biasa saja, kami berjarak 6 tahun.

"Gugus, kamu angkat barang-barang abangmu cepat ke mobil" kata ayah kepadaku.

Akupun bersedia, sudah memaklumi saja setiap pergi jauh aku selalu mengangkat barang-barang abangku, ya tapi aku juga tidak keberatan kok.

"Fadal, ayo keluar, udah jam berapa ini!?" Bang Fad memang geraknya paling lambat dan hanya itu yang ngeselin dari dia menurut aku, sampai Ayah harus berteriak begitu.

Dan akhirnya naiklah kami semua ke mobil, aku di kursi paling belakang, sedangkan Ibu dan Vivi ditengah, Ayah dan Bang Fad di depan.

"Baca doa dulu masing-masing dalam hati"

Ayah memang selalu menyuruh untuk membaca Doa sebelum pergi jauh. Setelah selesai berdoa, Ayah menghidupkan mobil kami, Innova Hitam kami, dan mulai menginjak gasnya..

Jumat, 11 Desember 2015

Dunia Dalam Jurang 27



“Jangan main-main dengan benda itu, nak” kata Haari di depan.
   Aaron tidak menghiraukannya, tetap asik dengan pedangnya, ‘ayolah’, pikirannya mulai berfantasi, berharap akan ada seekor monster yang datang menyerang mereka dalam perjalanan  kembali kerumah, tentu saja, tidak ada monster, sebaliknya, mereka akan takut mendengar langkah seekor kuda hantu yang tubuhnya tidak ditemukan dalam kegelapan malam.
   Akhirnya sampailah mereka di depan rumah sang kakek, Haari segera turun dan berjalan mendekati pintu depan rumah sang kakek.
   “Pintunya, terbuka” kata Haari sambil perlahan-lahan mendekatinya.
   Aaron tetap di atas kuda itu, “Ada di dalam?” tanyanya.
   Haari menoleh kepada Aaron, lalu menggelengkan kepalanya dengan sangat perlahan, Aaron segera turun dari kudanya, memegang senjatanya seperti sudah siap bertarung, dari caranya berjalan, tampak sekali bahwa ia menghayati fantasinya, tak menyangka imajinasinya akan menjadi kenyataan kali ini.
   “Mana mereka?” tanya Aaron dengan membusungkan dadanya, kali ini penghayatannya sudah kelewat batas.
   Tepat setelah Aaron bertanya seperti itu, sekumpulan kalelawar yang asalnya dari atas terbang ke arah mereka dengan gerakan spiral.
   “Aaron!Membungkuk!” teriak Haari.
   Aaron membungkukkan badannya, sehingga Haari bisa melihat bahwa kalelawar itu kini bergerak ke arahnya, iapun memidikkan senapannya segera, “DAR!” sebuah peluru panas mengenai sekumpulan kalelawar itu, lalu kalelawar-kalelawar itu memencar, Aaron menegakkan badannya kembali, mengangkat pedangnya dengan tangan kanannya.
   “Ayo, lawan aku!” gertak Aaron.
   “Tetap waspada Aaron” kata Haari yang melihat ke atas ke segala arah.
   Haari membelalakkan matanya, tampaknya ia menyadari sesuatu, “Wa..warakang?” bisiknya.
   Aaron mendengar desisan Haari itu, “Apa?” tanyanya.
  Haari menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatap ke arah Aaron, Aaron mengangkat kedua bahunya, lalu meliat kembali ke langit.
  “Waa..rakang” bisik Haari seakali lagi.
   “Haari, ada seseorang di dalam” kata Haari dengan nafas yang berat.
   Haari menoleh ke dalam rumah sang kakek, ketiga orang bermantel hitam yang sebelumnya ia temui, kini berdiri 3 meter di depannya.
   “Kalian, warakang?” tanya Haari dengan nada yang pelan.
   Mereka bertiga langsung mengarahkan kedua tangan mereka ke Haari, sehingga Haari terlempar jauh ke belakang, terbentur oleh anak tangga rumah pohonnya.
  “Haari!” teriak Aaron, lalu ia berlari ke dalam rumah sang kakek dengan memegang erat pedang di tangan kanannya.
   Langsung saja Aaron menebas seseorang yang berada di tengah, namun sama seperti sebelumnya, mereka bertiga berubah menjadi kalelawar dan terbang ke luar rumah itu dengan gerakan spiral, Aaron mengejarnya, “Kemari Kau!” teriaknya.
   Haari yang masih kesakitan akibat terbentur anak tangga itu segera melihat ke depan, sekumpulan kalelawar itu terbang mendekatinya, spontan ia pun mengayunkan senapannya ke arah mereka, ketika pisau di ujung senapan Haari mengenai kalelawar itu, mereka pun kembali berpencar, setelah itu bersatu lagi dan terbang ke arah rumah pohon.
   Aaron yang sedang berlari langsung menaiki anak tangga segera ketika ia melihat sekumpulan kalelawar itu terbang kesana.
   “Aaron! Jangan!” teriak Haari sambil mengarahkan tangannya seolah-olah ingin meraih Aaron.
   Sekumpulan kalelawar itu menabrak pintu rumah pohon tersebut sehingga pintu itu terbuka, Aaron yang sudah sampai di ambang pintu tanpa ragu-ragu langsung memasukinya.
  “Mati, mati!” Haari berkata dengan nada menyesal, memejamkan matanya, seperti menyesal walaupun sesuatu yang buruk belum terjadi.
   “AAAKH!” Teriakan Aaron terdengar oleh Haari, lalu Haaripun segera menyusulnya.
   “Akh, mereka hilang!” kata Aaron ketika mellihat Haari yang baru kepalanya saja tampak di depan pintu.
   “Apa yang terakhir kali kau lihat?” tanya Haari sambil menaikkan seluruh badannya ke dalam rumah itu.
   “Aku hanya melihat satu orang saja, pakaian persis seperti yang kita lihat sebelumnya, tapi hanya satu orang” jawab Aaron.
   “Lalu?” lanjut Haari, yang sepertinya ingin mengetahui lebih banyak karena ia tahu sesuatu jika Aaron menjawab dengan benar.
   “Aku melihat..” Aaron berhenti di tengah-tengah, “melihat dia berada di belakang mu” lanjut Aaron dengan pelan/
   Aaron berguling ke depan, lalu membalikkan badannya sehingga ia bisa melihat apa yang ada di depan pintu itu.
   “Apa yang kau lihat?”tanya Haari ketika ia tidak melihat apa-apa.
   “Tetap melihat ke depan Haari” jawab Aaron dengan nada yang sedikit berat.
   Haari bersiap-siap menarik pelatuknya, begitu juga dengan Aaron yang menggenggam erat-erat gagang pedangnya itu.
   Tiba-tiba terdengar suara pintu terbanting dengan keras, Haari terkejut lalu tidak sengaja melepaskan tembakannya, Aaron mendahuluinya untuk segera melihat dari ambang pintu.
  “Apa sang kakek sudah pulang?” tanya Aaron ketika ia melihat dari pintu rumah pohon itu, bahwa pintu sang kakek yang tadinya terbuka kini tertutup.
  “Pulang dari mana?” tanya Haari yang masih pada posisinya.
   Aaron tidak menjawab pertanyaannya, ia segera turun, Haari pun mengikutinya. Ketika sudah tiba di bawah, mereka berdua berlari ke pintu sang kakek itu.
  “Dug Dug Dug” Aaron menggedor pintu itu dengan keras.
  “Kek? Kek?” kata Aaron sambil terus menggedor pintu itu.
  Haari menjaga Aaron dari belakang, melihat ke sekeliling,benar-benar cemas, sebab dia tidak pernah mengalami ini sebelumnya, tidak ada hal aneh yang terjadi selama 1 bulan ia tinggal bersama Aaron dan sang kakek, dia sebenarnya mengerti dengan apa yang sedang terjadi, tetapi ia tidak pernah benar-benar berada di dalam situasi seperti ini,mengingat ia selalu menjauhi apa yang namanya tidak kedengaran selucu ketika kita menyebutkannya, Warakang.